ADVERTISEMENT

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi menggabungkan ilmu sosial dan medis

Melansir dari laman resmi FISIP Unair, Antropologi memiliki terdiri dari 2 bidang peminatan, yakni ragawi dan sosial-budaya dengan metode pengajaran berbasis proyek. Peminatan ragawi mempelajari soal variasi biologis, evolusi, dan adaptasi fisik manusia serta primata. Sedangkan sosial budaya mempelajari soal perilaku, norma, sistem kepercayaan, dan kebudayaan manusia.
“Setahuku Antropologi Unair ini satu-satunya di Indonesia yang punya peminatan ragawi, karena aku juga tertarik dengan dunia forensik,” ujarnya.

“Jadi aku cari jurusan yang bukan kedokteran tapi masih bisa memenuhi rasa keingintahuanku tentang forensik,” jelasnya yang kemudian memilih peminatan ragawi di pertengahan semester.

Karena kebijakan yang hanya bisa diambil saat pertengahan semester itulah, banyak teman-teman angkatan Nabila yang lebih memilih peminatan sosial-budaya. Menurut mereka, nanggung saja kalau baru belajar ragawi di pertengahan semester sementara banyak teori yang harus dibahas. 

Alhasil, menurut Nabila, mereka harus melanjutkan S2 baru bisa dapat kerja sesuai passion. Apalagi, jika mereka ingin melanjutkan karier sebagai peneliti, pendidik, atau ahli forensik. Selain itu, untuk masuk peminatan ragawi juga tidak gampang karena ada syarat yang harus dipenuhi mahasiswa, salah satunya nilai atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).

Prospek kerja yang luas

Nabila sendiri tak ingin naif. Bagaimanapun juga ia ingin langsung bekerja setelah lulus S1 Antropologi Unair untuk menghasilkan uang, alih-alih mengambil S2 yang menghabiskan waktu paling tidak 2 tahun.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan, yang untungnya terjerumus kembali ke bidang akademik sesuai mimpinya. Dari puluhan lamaran kerja yang dikirim, ada satu tawaran freelance dari salah satu dosennya untuk menjadi asisten editor jurnal. 

“Karena nggak jauh dengan jurusan dan mimpiku yang banyak menulis dan membaca jurnal, akhirnya aku terima,” kata Nabila. 

Sementara, teman-temannya lebih memilih pekerjaan acak seperti di bidang pariwisata, rehabilitasi primata, Organization (NGO), buka jasa, kerja kantoran, dan lain-lain. Walaupun sekilas terlihat tak selinier dengan jurusan kuliah, Nabila justru menilai hal itulah yang menunjukkan sisi unik Antropologi.

“Apa yang dilakukan anak Antropologi sebetulnya tidak akan pernah jauh dari ilmu manusia dan kebudayaan itu sendiri. Antropologi membuat kami lebih terbuka,” ucapnya.

“Dan aku pun lebih sering mempertanyakan, sekaligus berusaha memahami perilaku manusia dengan menggali point of view (POV) mereka. Tidak langsung menghakimi mereka,” lanjutnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version