Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Sejarah Mie Ayam Wonogiri: Ketika Kaum Boro Mendapatkan Resep dari Orang-Orang Tionghoa di Jakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 November 2023
A A
Sejarah Mie Ayam Wonogiri: Ketika Kaum Boro Menemukan Formula dari Orang-Orang Tionghoa di Jakarta MOJOK.CO

Ilustrasi Sejarah Mie Ayam Wonogiri: Ketika Kaum Boro Menemukan Formula dari Orang-Orang Tionghoa di Jakarta. (Dena Isni/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagaimana ceritanya, Wonogiri yang sudah punya julukan sebagai “Kota Gaplek” juga punya julukan sebagai “Ibu Kota Mie Ayam”?

***

Sebagai orang asli Wonogiri, Jawa Tengah, ada satu culture shock yang saya dapatkan saat pertama merantau ke Yogyakarta pada 2017 lalu. Teman-teman saya, baik yang akamsi Yogyakarta maupun dari luar Pulau Jawa, banyak yang mengidentifikasi kota kelahiran saya tersebut sebagai “Ibu Kota Mie Ayam”. 

Alasannya pun beragam, mulai dari saking banyaknya orang Wonogiri yang berjualan mie ayam di kota-kota mereka, hingga Wonogiri sendiri yang mereka anggap sebagai tempat mie ayam pertama kali ditemukan. Alasan pertama menurutku masih masuk akal, sih. Namun, untuk alasan kedua, saya sendiri meragukannya.

Perlu kalian ketahui, seumur-umur hidup di Wonogiri, saya belum pernah mendengar label bahwa Wonogiri adalah “Kota Mie Ayam”. Baru setelah merantau ke Yogyakarta, label asing tadi mendarat di telinga saya. 

Menurut saya, kalau mau lebih pas, “Kota Gaplek” adalah julukan yang jauh lebih layak melekat kepada Wonogiri. Sebab, singkong kering itu memang menjadi komoditas dan bahan makanan pokok yang khas di wilayah ini. 

Nah, lantas mengapa pada akhirnya julukan “Kota Mie Ayam” lebih melekat erat dengan Wonogiri? Jujur, sebagai orang yang lahir dan besar di Wonogiri, saya sendiri juga penasaran buat menelusuri akar sejarahnya.

Makan mie, bukan budaya Nusantara

Makan mie bukanlah budaya asli Nusantara. Makanan berbahan dasar tepung gandum tersebut aslinya dari negeri Tiongkok, khususnya wilayah bagian selatan seperti Fujian dan Guangdong. Budaya makan mie di Tiongkok, diprediksi sudah ada sejak 4000 tahun lalu. Sementara di Nusantara, mie mulai dikenal seiring dengan masuknya pedagang Tionghoa sejak abad ke-5 masehi dan berkembang seiring makin banyaknya pecinan. 

Pada era Majapahit, misalnya, ada istilah “laksha” untuk menyebut mie. Sayangnya, makanan itu tidak terlalu populer. Catatan sejarah kerajaan-kerajaan Jawa pun tak memasukannya sebagai salah satu makanan pokok, maupun panganan yang harus tersaji dalam acara-acara khusus. Pendeknya, mie memang ada tapi sifatnya masih hidden gem.

Nah, Wonogiri sendiri–yang wilayahnya pernah menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit–juga belum akrab dengan mie pada masa itu. Dalam catatan tertua kuliner Jawa, yakni Serat Centhini (1814), menyebut bahwa budaya makan orang-orang Wonogiri masih sangat terpengaruh dengan tradisi Mataram. Sego-segoan lengkap dengan lauk pauk masih jadi menu andalan.

Tak ada mie di Serat Centhini

Misalnya, dalam catatan perjalanan Cebolang ke Wonogiri yang dicatat Serat Centhini, menu Gubugan Wonogiri terdiri atas nasi, opor menthok, ayam goreng, gudeg, bubuk kedelai, sambel pete ati ampela, sambel uleg, sambel emprit, telur asin, pisang emas. 

Sementara pada periode lebih modern, yakni saat masa kolonialisme, Wonogiri–yang jadi bagian dari wilayah kotapraja Mangkunegaran–menyajikan menu rijsttafel buat para elite-nya. Rijsttafel sendiri secara sederhananya berarti “santapan khas indis”, yakni perpaduan kuliner Eropa dan Jawa. 

Dalam sebuah perjamuan, bistik, sosis dan perkedel masih jadi andalan buat menu utama, bersama bir, limun, maupun cola sebagai pelengkapnya. Adapun bakmi, kala itu mulai masuk ke rijsttafel sebagai menu pembuka. 

Catatan tersebut bisa menjadi gerbang masuk bagi eksistensi mie, berupa bakmi, yang mulai akrab di lidah orang-orang kotapraja Mangkunegaran (sekarang Solo).

Saya bersama tim liputan Mojok pun menemui sejarawan yang fokus di bidang kuliner, Heri Priyatmoko, untuk mengonfirmasi temuan tersebut. Ia merupakan penulis Keplek Ilat: Wisata Kuliner Solo, sebuah buku yang membahas keberagaman kuliner di Kota Solo lengkap dengan tautan sejarah, budaya, dan ekonomi yang membentuknya.

Orang Wonogiri bertemu mie di kawasan Pecinan Solo

Menurut Heri, pada masa lalu mi memang menjadi salah satu menu kondang di wilayah pecinan Solo, yakni Pasar Gede. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang beretnis Tionghoa yang berjualan mie di pasar ini sejak awal abad ke-18.

“Terutama bakmi, yang bahan dasarnya saat itu menggunakan daging babi,” jelasnya, Senin (30/10/2023). 

Heri Priyatmoko menjelaskan tentang sejarah mie di wilayah Solo MOJOK.CO
Heri Priyatmoko menjelaskan tentang sejarah mie di wilayah Solo. (Agung P/Mojok.co)

Ia melanjutkan, memasuki abad berikutnya, banyak perantau datang seiring dengan transformasi Solo sebagai salah satu kota besar di masa kolonial. Klaim Heri, kebanyakan perantau ini berasal dari Wonogiri dan sebagian wilayah Gunungkidul.

Iklan

Dua wilayah tersebut memang terkenal dengan sebagai kota asal perantau. Kondisi geografis yang tandus dan tak terlalu subur, memaksa masyarakatnya untuk mencari penghidupan yang lebih baik ke luar daerah.

Bahasa lainnya, Wonogiri itu adoh ratu, cedak watu. Sebuah peribahasa Jawa untuk mengambarkan sebuah daerah pelosok yang jauh dari pusat pemerintahan atau kota.

Bahkan, jika menilik data hari ini, lebih dari 300 ribu atau 60 persen masyarakat Wonogiri adalah perantau. Mereka ini disebut sebagai “kaum boro”, asal kata dari pengemboro atau pengembara. Artinya, tradisi merantau di Wonogiri masih terjaga hingga hari ini.

Menurut penjelasan dosen Universitas Sanata Dharma ini, “pertemuan” orang-orang Wonogiri dengan mie terjadi ketika mereka merantau ke Solo pada masa kolonial Hindia Belanda. Beberapa dari mereka bekerja untuk warung-warung mie milik etnis Tionghoa di Pasar Gede dan mendapat sedikit kemampuan bikin mie di tempat ini.

“Ada transfer pengetahuan di dalamnya, para perantau ini kemudian tahu cara membuat mie dan ketika pulang mereka memanfaatkan kemampuannya itu untuk berjualan mie,” kata dia.

“Maka tak heran jika Gunungkidul terkenal dengan bakmi-nya dan Wonogiri kemudian dengan mie ayam-nya karena mereka berasal dari akar sejarah yang sama,” tegasnya.

Baca halaman selanjutnya…

Cerita peran kaum boro yang merantau ke Jakarta

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2023 oleh

Tags: ekspedisi mie ayam wonogirimie ayammie ayam wonogiripilihan redaksisejarah mie ayamwonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026
Hyrox. MOJOK.CO

Panduan Selamat sebelum Menjajal Hyrox agar Nggak Celaka: Dari Latihan Angkat Beban sampai Tips Punya Asuransi Jiwa

9 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.