Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Ilustrasi - Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Perkara beda atribut perguruan pencak silat, kelompok pesilat bisa ribut dengan kelompok pesilat lain. Seperti diduga oknum PSHT di Ngawi yang viral baru-baru ini. 

PSHT “sikat” PSH (SH Winongo) perkara beda atribut

Beredar video viral di media sosial: terjadi pengeroyokan oknum pesilat terhadap seorang pemuda yang tengah mengantar ibunya. Narasi dari sebuah video menyebut, peristiwa itu terjadi pada Minggu (5/4/2026) di depan Pasar Karten, Kecamatan Paron, Ngawi, Jawa Timur. 

Narasi dari sebuah video juga menyebut, pengeroyokan dilakukan oleh kelompok anak muda yang diduga berasal dari perguruan pencak silat PSHT. Dari video yang beredar, memang tertangkap kamera kelompok anak muda itu menggunakan atribut dengan logo PSHT. 

Pengeroyokan diduga dipicu lantaran beda atribut: karena korban yang dikeroyok disinyalir menggunakan atribut perguruan silat yang berbeda, yakni PSHW (SH Winongo). 

PSHT dan PSHW (SH Winongo) sebenarnya berakar dari guru yang sama. Namun, di beberapa daerah di Jawa Timur, keduanya justru menjadi rival yang kerap bersitegang, seperti temuan Mojok dalam tulisan, “Repotnya Anggota SH Winongo (PSHW): Berupaya Ajarkan Pencak Silat Damai tapi Kena Imbas Ulah PSHT, Gara-gara Sesama SH”.

Dalam konteks yang sama, urusan beda atribut perguruan pencak silat entah kenapa bisa memicu keributan. Terutama di Jawa Timur. Hal itu pernah dialami oleh narasumber Mojok, Tole (22), bukan nama asli (demi keamanan). 

Beda perguruan pencak silat artinya musuh?

Bergabung dengan sebuah perguruan pencak silat di Jawa Timur, Tole memang mendapati fakta bahwa ketegangan antara dua perguruan yang berbeda sebenarnya kerap terjadi tanpa alasan. 

Tole bergabung di tengah situasi yang sudah terlanjur terdoktrin: perguruan lain seolah merupakan musuh. Saat itu Tole tidak tahu alasannya. 

Yang ia tahu, kerap kali memang ada provokasi antara dua perguruan pencak silat. Beberapa kali perguruan silat tempat Tole tergabung yang memprovokasi, tapi sering juga perguruan lain yang terprovokasi. 

“Kalau tawuran, aku belum pernah terlibat. Tapi memang kadang rese aja. Kelompok pesilat kami sengaja konvoi lewat markas perguruan pesilat lain. Terus teriak-teriak urakan sambil bleyer-bleyer,” ungkap Tole, Senin (6/4/2026) malam. 

Saat citra PSHT dan pencak silat memburuk, pesilat malah denial

Pada mulanya, Tole termasuk pesilat yang paling tidak terima jika citra perguruan silat direndahkan di media sosial. Terutama sejak nama PSHT dihajar netizen habis-habisan, karena kerap tercatut dalam kasus-kasus tawuran atau pengeroyokan. 

Namun, lambat-laun Tole menyadari, memang ada yang keliru dari cara bersikap oknum-oknum pesilat. Sebab ia merasakan sendiri bahwa keributan antarperguruan sering kali terjadi karena motif arogansi. Selain karena rivalitas berbasis kebencian yang sudah dipupuk sejak lama. 

Oleh karena itu, Tole mencoba meredam teman-temannya. Meminta agar tidak reaktif jika ada provokasi-provokasi. Kalau misalnya ada masalah dengan perguruan lain, selesaikan di lingkaran sparing biar lebih fair, bukan menggeruduk lalu mengeroyok. 

“Kayak di Probolinggo lah, ada pencak dor. Kalau ada masalah, selesaikan di ring. Satu lawan sau, fair itu. Ya biar citra perguruan silat tidak terus memburuk. Sayang aja, karena kan silat itu punya sejarah panjang dan merupakan budaya bangsa,” beber Tole. 

Sialnya, kata Tole, kira-kira begini respons teman-temannya: 

“Itu namanya nggak solid. Kalau saudara seperguruanmu diusik orang, masa kita sebagai saudara kita nggak bertindak?”

“Netizen itu nggak makan kalau nggak jelek-jelekin perguruan pencak silat tertentu.” 

“Harga diri, Bos. Nama perguruan disenggol itu penghinaan. Harus dikasih paham.”

Perkara nggak nyapa, langsung dihajar di tempat

Sialnya lagi, pola pikir semacam itu ternyata mengakar juga di banyak perguruan silat lain. Alhasil, keributan yang melibatkan perguruan pencak silat—seperti dugaan PSHT vs PSHW (SH Winongo) di Ngawi—bak lingkaran setan yang sulit diputus

Apalagi jika urusannya sudah rivalitas yang sudah kadung mendarah daging. Tidak ada perkara saja bisa jadi diada-adakan, seperti yang Tole alami sendiri. Tole mengaku pernah dihajar hanya perkara tidak menyapa gerombolan pesilat dari perguruan silat lain yang merupakan rival perguruan silatnya. 

“Di kecamatanku kan ada dua kubu. Suatu malam, pas aku pulang dari rumah teman, nggak sengaja aku melewati tongkrongan pesilat dari perguruan lain. Ya aku milih nggak nyapa karena berisiko, karena sudah kadung rival,” tutur Tole. 

Nah, di perguruan tersebut, ada anggota yang berasal dari satu desa dengan Tole. Si anggota itu langsung memprovokasi teman-temannya: “Itu dari perguruan silat lawan. Songong sekali nggak mau nyapa. Perlu dikasih pelajaran sopan santun.” 

Tole dikejar. Motornya dipaksa berhenti. Ia yang sendirian langsung dikeroyok beramai-ramai sampai bonyok. Samar-samar ia mendengar umpatan-umpatan, sembari sesekali berisi teriakan kasar penuh amarah: “Diajari sopan santun ora?!”

Permusuhan tidak ada ujungnya, fakta seterang apapun tidak diterima dan bikin muak

Tole refleks saja mengabari teman-temannya. Alhasil, esok harinya gantian teman-teman Tole yang nglurug (menyerbu) para pengroyok itu dengan penuh amarah. 

“Sempat ngeri sih. Karena kan akhirnya sampai nandai alamat rumah anggota perguruan lain. Terus modelnya teman-temanku ada yang nyegat di jalan yang biasanya dilewati, mau disikat,” kata Tole.

Meski kesal dengan pengeroyokan terhadap dirinya, setelah bisa berpikir agak jernih Tole justru merasa bersalah karena memicu permusuhan yang makin panjang. 

Rivalitas itupun masih terjadi hingga sekarang. Membuat Tole merasa lelah dan muak sendiri karena seperti tidak ada ujungnya. 

“Masalahnya teman-temanku udah menutup diri untuk refleksi. Pesilat itu sudah diibaratkan hama loh sama netizen. Tapi kalau merasa udah paling bener, ya fakta seterang apapun tetap bakal denial,” tutup Tole. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gara-gara Tolak Gabung PSHT demi Karate Jadi Dimusuhi Saudara Sendiri, Tak Menyesal karena Jauh dari “Keburukan” kayak Pencak Silat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version