2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

ilustrasi - milenial dan generasi Z merindukan masa damai di tahun 2016. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Tren “2016 was 10 years ago” yang berseliweran di Instagram tahun 2026, hadir bukan tanpa alasan. Bagi milenial dan generasi Z (Gen Z)–kaum-kaum yang lahir di dekade 90-an dan 2000-an, tahun 2016 ibarat golden life

Tahun itu adalah masa prime time buat milenial yang baru mencicipi rasanya gajian pertama atau lagi seru-serunya menikmati ospek kuliah. Sementara bagi gen Z, 2016 adalah tahun terbaik mereka karena baru masuk SMA, di mana mereka mulai sibuk mendalami drama ‘putih abu-abu’.

Intinya, 2016 adalah tahun puncak di mana milenial dan Gen Z merasa paling keren sebelum akhirnya dihajar realitas hidup di masa sekarang. Lebih dari itu, tren “2016 was 10 years ago” juga menjadi refleksi bersama tentang pertumbuhan dan perjuangan mereka selama ini.

***

Banyak orang bernostalgia lewat tren stiker Add Yours bertajuk “2016 was 10 years ago” di Instagram. Tren stiker Add Yours yang seharusnya muncul di story tersebut, kini merambah di feed Instagram. Beberapa artis, influencer, bahkan band internasional juga ikut meramaikan dengan mengunggah foto masa lalu mereka.

Salah satunya, band The Chainsmokers yang sukses merilis lagu berjudul “Closer” hingga menjadi lagu terpopuler sepanjang tahun 2016. Electronic Dance Music (EDM) karya Andrew Taggart dan Alex Pall feat Halsey tersebut berhasil menduduki puncak Billboard Hot 100 selama sebelas minggu di tahun 2016.

Dalam Instagram @thechainsmokers, band asal New York itu kembali mengenang jerih payah mereka dengan mengunggah 19 foto perjalanan dalam satu feed. Menurut pantauan Mojok.co kini, Sabtu (17/1/2026), postingan tersebut sudah mendapat 139 ribu suka dengan seribu lebih komentar.

Selain musiknya yang catchy, lagu-lagu The Chainsmokers juga dianggap cocok untuk mengiringi beragam aktivitas. Lebih dari itu, sama seperti halnya The Chainsmokers yang mengalami masa gemilang di tahun 2016, penggemar mereka juga merasa demikian, bahkan ingin kembali di masa-masa tersebut.

Please bring back 2016,” ujar @sep*** dengan emoticon sedih di penghujung komentarnya.

So many great memories with you guys!,” ujar @its***.

Hope yall know you both raised me,” ujar @afr***.

2016 would have been 2014 without the two of you,” ujar @the***.

Konten 2016 terasa jujur tanpa peduli estetika

Salah satu pengguna Instagram yang mengikuti tren “2016 was 10 years ago” adalah Ara (24). Perempuan kelahiran 2001 (Gen Z) itu menganggap 2016 adalah transisi awal dia dari remaja ke dewasa. Masa putih abu-abu alias kelas 1 SMA, di mana ia banyak belajar untuk mencari dan menerima berbagai perspektif baru.

Oleh karena itu, dalam postingannya pula, Ara mengunggah foto dirinya sedang selfie di depan kaca mengenakan seragam SMA, sembari memegang kamera DSLR yang menandakan hobinya. Lewat foto tersebut, Ara merasa dulu punya ambisi yang besar. 

“Di masa itu aku benar-benar menikmati masa remaja awalku, bisa kumpul bareng dan main sama teman-teman secara tatap muka, sekaligus punya mimpi yang besar,” kata perempuan asal Surabaya tersebut.

Selepas kumpul bersama teman-temannya, ia juga nggak perlu ribet pilih lagu berjam-jam dan edit sana-sini, agar fotonya estetik saat diunggah di media sosial. Sebab ia merasa interaksi di dunia maya kini terasa kurang jujur dan terlalu terobsesi pada estetika yang kaku.

Lebih dari itu, Ara merasa 2016 tidak sekacau 2026. Seiring bertambahnya usia, ia sadar tanggung jawabnya lebih besar dibanding di masa SMA yang hanya sibuk memikirkan ‘besok mau kuliah di mana?’.

“Kalau sekarang lebih pusing ngurusin kerjaan. Karena aku di dunia korporat, jadi harus sering ketemu narasumber yang rese, produser yang banyak maunya, dan masih banyak lagi,” kata Ara.

Kalau sudah kesal begitu, Ara hanya bisa menerima. Mau curhat ke temannya secara langsung pun susah karena mereka pun punya kesibukan masing-masing. Sulit sekali menentukan agenda bertemu. 

Foto masa lalu yang lebih dari ekspresi rindu

Bagi Ara, tren “2016 was 10 years ago juga menjadi pengingat bahwa kondisi di sekitarnya telah banyak berubah. Seiring dengan perubahan itu, Ara pun menyadari bahwa dirinya juga tumbuh lebih kuat dan lebih dewasa di tiap tahunnya.

“Sekarang aku lebih bisa merawat diri dan terus berproses untuk mengenali jati diriku,” ujar Ara.

Sebab jujur saja, ia merasa foto di masa lalunya terasa jamet. Tak jarang, sebagian pengguna Instagram juga mengunggah foto serupa. Meski begitu, mereka lebih percaya diri mengunggahnya di masa sekarang.

Alih-alih merasa malu dengan fashion, gaya rambut, atau foto yang tidak estetik, kini mereka justru merasakan kepuasan tersendiri dengan perubahan mereka di masa sekarang. Makanya muncul ungkapan, “menertawakan hidup atau diri sendiri merupakan tanda jika kita sudah berdamai dengan masa lalu.”

Pada akhirnya tren “2016 was 10 years ago” bukan sekadar ajang pamer foto lama bagi milenial dan Gen Z, melainkan refleksi kolektif bersama. Terutama bagi generasi 90-an hingga 2000-an yang menganggap 2016 adalah “masa transisi ikonik” atau titik balik, sebelum dunia dihantam pandemi, serta perubahan algoritma media sosial yang semakin kompleks.

Jadi, apakah kamu sudah bangga dengan versi dirimu saat ini dibanding sepuluh tahun lalu?

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Doraemon dan RCTI Akhirnya Berpisah, Terima Kasih Telah Temani “Inner Child” Saya yang Terluka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version