Pengalaman Kerja di Surabaya yang Menyelamatkan dari Sulitnya Cari Kerjaan Layak Bagi Sarjana di Jogja

kerja di surabaya menyelamatkan dari jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Surabaya (Mojok.co)

Sudah dua bulan Syamsi (25) kerja di Surabaya. Keputusannya merantau ke Kota Pahlawan, menyelamatkan dari derita sarjana baru yang diupah murah di Jogja.

Sebenarnya sejak lulus dari sebuah PTS di Jogja pada 2022 silam Syamsi sudah terpikir untuk merantau ke luar kota. Ia tumbuh dan besar di Jogja sehingga perlu merasakan hidup di perantauan.

Sejak lulus ia sudah mengirim puluhan lamaran kerja. Kebanyakan tujuannya untuk perusahaan-perusahaan yang ada di Jogja.

“Sulit dapat, apalagi aku cari spesifik yang bidang keuangan. Kalau dapat pun ya tawaran gajinya nggak sesuai harapan,” ujarnya kepada Mojok, Jumat (26/7/2024).

Akhirnya pada pertengahan 2022 ia sempat mendapat kerja di Jogja. Di sebuah bisnis pakaian. Namun, bukan di bagian keuangan melainkan di distribusi dan pengemasan.

“Gajinya UMR Jogja,” kelakarnya.

Beruntung, karena berasal dari Jogja ia tidak perlu memikirkan biaya sewa kos. Saat bekerja di sana pun ia terus mencari peluang lain.

“Tapi memang sulit sih. Jogja ini bukan kota industri,” ujarnya.

Sampai akhirnya pada awal 2024, tawaran kerja di Surabaya ia dapatkan. Tak mau sia-siakan kesempatan, ia langsung mengikuti semua prosedur pendaftaran.

Kerja di Surabaya langsung terasa bedanya

Pada awal Juni 2024 ia sudah resmi kerja di Surabaya. Posisinya sesuai yang ia inginkan yakni admin keuangan.

Meski baru pertama kali merantau ia merasa bahwa keputusannya tepat. Gaji yang ia dapat setimpal, walaupun harus membayar kos dan memenuhi semua kebutuhannya seorang diri.

“Rasanya dengan gaji Surabaya itu bisa menyisihkan lumayan. Walaupun sekarang harus bayar kos sendiri, makan semua sendiri,” tuturnya.

Ia juga melihat pemandangan menarik tak lama setelah kerja di Surabaya. Terutama, di tempatnya bekerja. Banyak pekerjanya yang merupakan lulusan SMA. Gajinya, meski tidak setinggi sarjana sepertinya tapi sudah terbilang lumayan.

“Kayak lebih gampang ternyata dapet kerja, di bagian admin, untuk lulusan SMA di sini. Kalau di Jogja, lulusan SMA cukup susah ya dapet yang kayak di sini,” terangnya.

Selain urusan pendapatan, ada beberapa hal yang menurutnya membuat Surabaya terasa menjanjikan. Salah satunya urusan kos.

Baca halaman selanjutnya…

Terhindar dari masalah “besar” yang sedang terjadi di Jogja


Tidak perlu waktu lama bagi Syamsi untuk menemukan kos yang cocok. Ia berkantor di Pasar Turi dan mencari kos di dekat wilayah tersebut.

Ia mendapat kos seharga Rp650 ribu dengan lokasi yang cukup strategis. Masih terbilang dekat dengan kantornya dan berada di area UNAIR. Kos seharga itu sudah termasuk WiFi dan listri. Meskipun kamar mandinya masih di luar.

Jika membandingkan dengan Jogja, di wilayah strategis, harga kosnya relatif sama. Jika membandingkan UMR kedua wilayah ini tentunya Surabaya jadi terasa lebih menjanjikan.

Terhindar dari masalah-masalah yang biasa ditemui di Jogja

Selain urusan kos, ia juga merasa masalah makanan tidak terlalu terpaut jauh. Lebih mahal sedikit saja. Namun, masih lebih menguntungkan jika menengok besaran gaji yang ia dapat di sana.

Sebagai orang ber-KTP Jogja, Syamsi juga mengaku agak lega begitu merantau kerja di Surabaya. Pasalnya, ia tidak menemukan permasalahan klasik soal sampah seperti yang ia temui di kota asalnya. Setidaknya selama dua bulan ia hijrah.

“Nggak ada bingung-bingung harus buang sampah ke mana lagi. Pas di Jogja itu jadi isu yang bikin pusing,” kelakarnya.

Hal serupa juga berlaku soal lalu lintas. Surabaya tidak kalah padat. Namun, ruas jalannya relatif lebih luas. Menurutnya, banyak jalan kecil yang kemudian direkayasa menjadi satu arah sehingga tidak terjadi penumpukan kendaraan yang terlampau padat.

Sejauh ini, ia mengaku pilihannya hijrah kerja di Surabaya cukup memuaskan. Meski demikian, salah satu tantangannya adalah penyesuaian bahasa.

“Ya walaupun sama-sama Jawa, orang sini ternyata cara ngomongnya beda juga ya. Cepat banget,” pungkasnya tertawa.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Aly Reza

BACA JUGA Kuliah di Surabaya Memberikan Hal-hal yang Tak Bisa Jogja Tawarkan, Ironi Pudarnya Predikat Kota Pelajar

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version