Sebuah Tempat di Tengah Pedesaan Pati yang Menempa Anak-anak Jadi Penghafal Al-Qur’an nan Melek Zaman

Ilustrasi - Al Akrom: pondok pesantren sekaligus LKSA di tengah pedesaan Pati yang menempa anak-anak tak bertuntung jadi tahfiz Al Qur'an melek zaman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Jadilah para penghafal Al-Qur’an yang melek zaman. Begitu lah yang ditekankan oleh para pengasuh di LKSA Al Akrom, sebuah ruang di dalam Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al Akrom, di tengah pedesaan (Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo) Pati, Jawa Tengah. Dengan begitu, orang-orang yang menggeluti tradisi menghafal kitab suci tidak dipandang sebagai orang-orang tertinggal.

***

Tiba di LKSA Al Akrom Pati (selanjutnya disebut “Al Akrom” saja) pada Rabu (29/10/2025) siang, saya langsung dijamu makan siang bersama Kepala LKSA sekaligus pimpinan pengasuh pesantren, KH. Moh. Imam Mukromin, dan seorang pengasuh, Zaenal.

Ini memang tradisi hurmati al-dluyuf (memuliakan tamu) khas pesantren. Kalau ada tamu, pokoknya tamu harus diajak makan.

Di tengah-tengah itu, ada pemandangan yang cukup mencuri perhatian saya: Para santri yang baru pulang sekolah lewat di depan meja kiai (tempat kami makan), dengan menundukkan tubuh tentu, menuju area belakang dapur kiai.

“Sepulang sekolah, anak-anak makan siang dulu, sebelum nanti lanjut kegiatan pesantren,” jelas Mukromin.

“Itu para santri ndalem?,” tanya saya. Karena kalau santri ndalem, memang wajar jika keluar-masuk kediaman kiainya.

“Oh, ndak. Itu ya para santri. Makannya ya di dapur saya, jadi satu,” jelas Mukromin. “Di sini adab tetap nomor satu. Tapi bukan berarti mereka harus berjarak dengan saya. Karena anak-anak ini sudah saya anggap selayaknya keluarga sendiri.”

Kendati memberi tempat tinggal dan pendidikan gratis pada anak-anak Al Akrom, Mukromin memang menolak slogan “Ada harga ada rupa.” Ia bertekad mengupayakan kehidupan layak bagi para santri di pesantren dan LKSA-nya.

Aktivitas ngaji sore anak-anak pondok pesantren sekaligus LKSA Al Akrom Pati MOJOK.CO
Aktivitas ngaji sore anak-anak pondok pesantren sekaligus LKSA Al Akrom Pati. (Aly Reza/Mojok.co)

Al Akrom Pati didirikan untuk angkat derajat anak-anak 

Lulus menimba ilmu di pesantren dan STAI Pati (S1) pada 1997, Mukromin sebenarnya pulang ke Banyuurip dengan kondisi belum punya apa-apa—kalau meminjam istilah yang ia pakai. Kala itu ia hanya memiliki rumah berukuran 6×9 meter persegi.

Namun, orang-orang tahu kalau Mukromin adalah orang berpendidikan, ya santri tulen ya sarjana. Sehingga ada saja orang yang datang ingin menitipkan anak.

“Dulu ada 11 anak datang dari kalangan nggak mampu. Tapi dengan rumah kecil kan nggak mungkin saya bikin pesantren. Jadi dulu awalnya saya titipkan dulu di guru saya di Kajen (Pondok Pesantren Matholi’ul Falah),” ujarnya.

KH. Moh. Imam Mukromin, pimpinan pengasuh pondok pesantren sekaligus LKSA Al Akrom Pati. (Aly Reza/Mojok.co)

Beberapa bulan kemudian, ada lagi yang datang dengan kondisi serupa. Dari situ, guru Mukromin lantas memintanya untuk menampung saja. Dari sini lah embrio pesantren sekaligus LKSA Al Akrom Pati.

“Saya tanya ke guru saya, ini makannya nanti bagaimana? Karena saya sendiri saja belum mapan waktu itu. Jawaban guru saya, ‘Pokoknya yakin saja, yang penting kamu nggak nyari (santri), tapi kalau ada yang datang ya ditampung’,” beber Mukromin. Akhirnya perintah sang guru itu ia lakukan. Dan benar belaka, ada saja rezeki untuk menghidupi anak-anak yang ia tampung.

Tak berselang lama, kira-kira pada awal 2000-an, sang guru menitah Mukromin untuk membangun pesantren. Mukromin tentu butuh waktu untuk menimbang-nimbang. Karena membangun pesantren, dalam hitungan Mukromin, pasti butuh biaya besar.

Tapi guru Mukromin mengingatkan bahwa hitungan manusia beda dengan hitungan Allah Swt. Ya sudah Mukromin memantapkan niat membangun pesantren. Siapa nyana, pesantren itu pun berdiri dan terus berkembang sampai sekarang.

“Atas saran guru-guru saya, saya kasih nama Tahfidz Al-Qur’an Al Akrom. Karena fokusnya adalah hafalan Al-Qur’an,” terang Mukromin. Selain itu, Al Akrom, Pati, juga diperuntukkan bagi-bagi anak-anak yatim, piatu, yatim-piatu, dan duafa.

Anak-anak tengah mendasar Al Qur’an. (Aly Reza/Mojok.co)

Mukromin memegang betul dawuh almharhum KH. Dimyati Rois (Pondok Pesantren Al Fadlu wal Fadhilah, Kaliwungu): Membangun pesantren untuk anak yatim dan duafa itu nanti bisa mengangkat derajat dan martabat mereka.

Dan karena itu, rezeki selalu datang dari arah yang tak disangka-sangka. Seiring waktu ada saja orang baik yang menjadi donatur bagi pesantren tersebut.

SMP Qur’an Terpadu

Awalnya memang hanya sebuah pesantren (putra dan putri). Dulu untuk mengakomodasi pendidikan formal, anak-anak disekolahkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setingkat SMP di luar pesantren.

Lama-lama Mukromin berpikir, kalau punya sekolah formal sendiri tentu sistem pendidikan di pesantren dengan sekolah bisa terintegrasi secara maksimal. Akhirnya ia dan beberapa pengasuh memutuskan membangun SMP Qur’an Terpadu Al Akrom.

“Kenapa kok SMP tapi ada Qur’an Terpadu-nya? Harapannya para santri itu hafal Al-Qur’an, tapi juga nggak ketinggalan aspek formalnya,” jelas Zaenal menyambung cerita Mukromin.

“Jadi kurikulumnya pun dipadukan antara pendidikan Al-Qur’an dan keilmuan umum. Misalnya, jam 7 sampai 9/10 pagi itu anak-anak fokus ke tahfiz. Terus nanti baru disambung mata pelajaran umum,” imbuhnya.

Zaenal, salah satu pengasuh dan pengajar. (Aly Reza/Mojok.co)

Dari SMPQT, Al Akrom Pati kini juga mengembangkan jenjang lagi dengan pembangunan Madrasah Aliyah (setingkat SMA).

“Dulu itu banyak santri yang masih pengin di sini untuk menyelesaikan hafalannya. Nah, biar pendidikannya tuntas dan sanadnya menyatu, akhirnya dikembangkan lah MA itu,” terang Zaenal.

Menyeimbangkan porsi untuk dunia dan akhirat

Pada mulanya, fokus utama Al Akrom Pati adalah mendidik para santri untuk menghafal Al-Qur’an. Sebab, ada sekian dalil yang menekankan betapa besarnya keutamaan menghafal kitab suci umat Islam itu.

Misalnya, Al-Qur’an bakal menjadi syafaat di hari kiamat. Atau Al-Qur’an bakal membuat hidup penghafalnya dalam lingkaran kemuliaan dan pertolongan dari Allah Swt.

Kendati begitu, Mukromin dan jajaran pengasuh sebenarnya sudah punya gagasan bahwa anak-anak juga harus dibekali dengan keterampilan-keterampilan duniawi.

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢ

“Hadisnya kan itu. Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu,” tutur Zaenal.

Menempa anak-anak tak beruntung menjadi para penghafal Al Qur’an yang melek zaman. (Aly Reza/Mojok.co)

Ada pula ayat Al-Qur’an (Al-Qasas: 78):

 وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ۝٧٧

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Bagi Zaenal, karena manusia hidup di dunia, maka harus melek tentang dunia dan segala perkembangannya. Sekaligus karena tujuan akhir manusia adalah akhirat, maka akhirat menjadi sesuatu yang juga harus dikejar. Porsi keduanya harus seimbang.

Pondok pesantren sekaligus LKSA yang menempa anak-anak tak beruntung menjadi para penghafal Al Qur’an yang melek zaman. (Aly Reza/Mojok.co)

Misi Al Akrom Pati: Mencetak penghafal Al-Qur’an yang melek zaman

Gagasan untuk membekali para santri dengan keterampilan duniawi itu akhirnya terakomodasi ketika Al Akrom Pati menjalin ukhuwah dengan Bakti Sosal Djarum Foundation (BSDF) sejak sebelum Covid-19 lalu untuk pendampingan pengasuhan dalam konteks Al Akrom sebagai LKSA.

“BSDF awalnya datang menawarkan bantuan fisik. Terus berlanjut ke pendampingan pengasuhan untuk LKSA. Saya terima pendampingan itu karena nggak ada intervensi dalam konteks internal kami. Kami tetap dipersilakan menentukan khas masing-masing. Yang paling penting itu, perihal tahfiz Al-Qur’an tidak diotak-atik,” beber Mukromin.

Ada beberapa pendampingan pengasuhan yang Mukromin dan jajaran pengasuh di LKSA Al Akrom Pati terima. Di antaranya perihal pendekatan konseling dalam mengasuh anak hingga terkait pembekalan keterampilan untuk proyeksi karier mereka di masa depan.

“Misalnya, pendekatan konseling itu kami ditekankan betul agar tidak melanggengkan budaya kekerasan,” jelas Zaenal.

Lanjut Zaenal, LKSA Al Akrom Pati memang menampung anak dari beragam latar belakang sosial. Ia tak memungkiri, sering kali ada marahnya ketika anak-anak berulah. Namun, setelah mengikuti pelatihan pengasuhan dari BSDF, Zaenal memahami bahwa cara terbaik untuk menghadapi persoalan tersebut adalah komunikasi yang baik dengan anak.

Di luar sana barang kali masih ada pesantren, LKSA, atau lembaga sejenis yang masih menggunakan praktik lama: Memberi hukuman fisik pada anak yang berbuat salah. Tapi, dengan pendekatan konseling yang Zaenal terima dari BSDF, cara itu diirasa sudah tidak lagi relevan.

“Ajak ngobrol anak. Sebenarnya masalahnya apa, lalu bareng-bareng kita temukan solusinya. Itu lebih berdampak baik bagi psikologi anak. Kalau psikologis anak baik, maka ia juga akan tumbuh menjadi anak yang baik,” ujarnya.

Kegiatan belajar-mengajar di sore hari anak-anak pondok pesantren. (Aly Reza/Mojok.co)

Menyambung Zaenal, Mukromin merasa saat ini ia lebih bisa mengukur potensi anak. Ia memang ingin melahirkan para penghafal Al-Qur’an yang melek zaman. Namun, dulu bayangannya masih abstrak: Anak-anak ini harus diapakan untuk sampai ke titik itu?

Melalui pelatihan proyeksi karier dari BSDF, ia akhirnya kini bisa merumuskan beberapa hal penunjang anak untuk mengembangkan bakat-minat dan jalan agar mereka bisa mencapai cita-cita masing-masing.

Misalnya, banyak santri putra hobi olahraga. Di sekolah ada beragam arena olahraga seperti, lapangan futsal, voli, tenis meja, hingga bulu tangkis.

“Anak-anak itu punya cita-cita macam-macam. Yang jelas kami sediakan fasilitasnya walaupun belum bisa terakomodasi semuanya,” jelas Zaenal.

“Kami juga nggak menutup diri dengan teknologi, bukan sebagai lembaga pesantren yang murni tradisionalis. Di sekolah ada fasilitas lab komputer agar para santri punya keterampilan teknologi, kami bekali mereka keterampilannya, lalu yang jago-jago kami rekrut anak sebagai tim media lembaga,” tambah Mukromin.

Bahkan, saat ini Mukromin tengah menggodok wacana mengajari anak-anak menjadi content creator. Modelnya, nanti Mukromin akan meminta anak-anak membuat konten video di TikTok, lalu dinilai. Menimbang, di era digital saat ini, content creator menjadi salah satu profesi yang diminati oleh anak-anak generasi sekarang. Hanya saja, Mukromin masih mengukur bagaimana pengawasannya agar tidak disalahgunakan.

“Prinsipnya, anak-anak hafal Qur’an, tapi tetap melek zaman dengan skill-skill yang mereka kuasai,” tegas Mukromin.

Berani bermimpi besar

Akbar, salah satu anak di pesantren sekaligus LKSA Al Akrom Pati mengaku, awalnya ia tak begitu bisa mendeskripsikan kalau ditanya, “Apa cita-citamu?”. Bingung, abstrak.

Itu juga karena faktor kondisi mental Akbar sebagai anak LKSA. Tidak seperti anak-anak lain yang dibesarkan di lingkungan keluarga kandung yang ideal.

Sejak BSDF memberi pendampingan dalam konteks LKSA Al Akrom Pati, sedikit banyak bocah SMP itu mendapat pencerahan perihal persiapan menghadapi masa depan.

“Jangan minder. Harus berani bermimpi besar, itu yang saya pelajari,” ujar Akbar.

Kini tiap ditanya, “Apa cita-citamu?”, Akbar akan dengan penuh percaya diri menjawab: “TNI.” Itu lah yang mendorongnya untuk menempa fisik. Karena fisik menjadi salah satu faktor penentu kelak ia bakal diterima menjadi TNI atau tidak. “Aku suka olahraga. Terutama ya main bola. Biar fisik makin kuat,” katanya.

Tak hanya sebatas menjadi TNI, Akbar ingin menjadi seorang TNI yang juga menguasai bidang teknologi. Oleh karena itu, salah satu jalan yang ia siapkan adalah dengan sungguh-sungguh memanfaatkan fasilitas-fasilitas teknologi di sekolah.

“Saya juga paling suka pelajaran TIK. Saya ingin menguasai ilmu-ilmu berbasis digital,” tegasnya.

Jadi apa pun, makin keren dengan embel-embel “tahfiz Al-Qur’an”

Tak hanya itu, Mukromin dan para pengasuh mengaku agak mewajibkan para santri tak berhenti hanya hingga MA/SMA. Tapi juga harus kuliah.

Mukromin sendiri kuliah hingga S2. S1 di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, lalu S2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sementara Zaenal S1 di STAIN Kudus, lalu S2 di UIN Sunan Kalijaga Jogja.

“Saya itu dulu dimarahi guru saya karena sempat nggak mau lanjut kuliah S2. Guru saya sampai nggak mau merestui saya haji kalau saya nggak lanjut S2. Akhirnya saya lanjut dan memang pendidikan itu penting,” papar Mukromin.

Para santri atau santriwati, setelah lulus MA dan menyelesaikan hafalannya memang banyak yang kuliah. Yang sampai S2 pun ada.

“Harapannya, para alumni nantinya, mau jadi apa pun, jadi pegawai birokrat misalnya, tapi kalau ada embel-embel “tahfiz”-nya, itu makin top di mata masyarakat,” ucap Mukromin.

Lebih dari itu, Mukromin menyebut, kuliah menjadi salah satu jalan yang harus ditempuh anak-anak di LKSA Al Akrom Pati untuk meraih cita-cita mereka.

“Di sini kan ada juga kakak-kakak yang sudah kuliah, mereka kasih motivasi dan bantu adik-adiknya buat menentukan, kalau mau jadi apa, maka kuliahnya apa,” terangnya.

Kegiatan belajar-mengajar di sore hari anak-anak pondok pesantren. (Aly Reza/Mojok.co)

Azan Asar mengakhiri perbincangan kami. Selain tanda salat berjemaah, para santri juga harus bersiap untuk mengaji sore.

Sebelum saya pamit, Mukromin sempat mengajak saya diskusi perihal ide-ide membuat konten video dalam konteks tahfiz Al-Qur’an. Kami sempat diskusi beberapa saat. Mukromin lalu “mencatat” ide-ide yang kami diskusikan.

“Kami terbuka dengan saran apa pun, asal itu baik bagi perkembangan anak-anak,” tutup Mukromin.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Darul Hadlonah Rembang, Tempat yang Selalu Bersih Tanpa Peringatan “Jagalah Kebersihan” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version