Rahasia Warung Madura Berani Head to Head dengan Indomaret dan Alfamart

Ilustrasi Rahasia Warung Madura Berani Head to Head dengan Indomaret. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Di Jogja, setidaknya ada sekitar 1.200 warung Madura. Sebagian besar mereka muncul justru tak jauh dari toko modern seperti Indomaret atau Alfamart. Mereka yakin ada yang tidak bisa disamai oleh jejaring toko ritel modern.

***

Rambut Ansori (39) masih sedikit basah ketika saya mendatangi warungnya pada Kamis (11/1/2024) malam. Ia memang baru saja selesai mandi. Kepada saya, ia mengaku kalau ia baru bangun tidur setelah terlelap sepanjang siang. Waktu saya datang pun, Ansori masih sibuk menata beberapa barang yang ia letakan di depan warung.

Ansori sendiri merupakan seorang penjaga warung Madura di sekitaran Jalan Anggajaya, tepat berada di depan Terminal Condongcatur. Bersama istrinya, Yuli (38), mereka sudah bekerja sebagai penjaga toko kelontong itu selama dua tahun. Biasanya mereka jaga bergantian. Kebetulan malam itu adalah jatah shift Ansori setelah seharian istrinya yang melayani pembeli.

Yang menarik dari warung Madura tempat Ansori bekerja, adalah lokasinya yang berdekatan dengan Indomaret. Beberapa minimarket serupa bahkan juga mudah dijumpai tak jauh dari warung Ansori berdiri. 

Namun, ia mengaku kalau ia sama sekali tak gentar bersaing secara bisnis dengan minimarket-minimarket yang sudah kondang itu. Keputusannya hijrah ke Jogja pun karena dirinya yakin kalau prospek bisnis ini memang mumpuni dan cukup tenaga buat bersaing dengan Indomaret maupun Alfamart.

Dari bisnis ikan hingga jadi penjaga warung

Orang-orang Madura dan sekitarnya sudah sejak lama dikenal sebagai perantau. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Dalam konteks ekspansi warung kelontong Madura, Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM sendiri pernah membuat penelitian, bahwa alasan terbesar orang-orang Madura memilih merantau ke Jogja adalah karena kesulitan mencari nafkah di daerah asalnya.

Terlebih, setelah pandemi Covid-19 merebak, situasi ekonomi terasa makin sulit di Madura.

Ansori pun membenarkannya. Ia dan istrinya berasal dari Situbondo, Jawa Timur. Sebelum pergi merantau ke Jogja, awalnya ia berbisnis ikan laut. Kata dia, orang-orang di kampungnya memang mayoritas menggeluti bisnis tersebut.

“Kita bikin dan jual ikan-ikan besekan itu, Mas. Ya, masih levelnya industri rumahan saja sih. Tapi memang hasilnya dulu lumayan,” kata Ansori.

Sayangnya memasuki pandemi Covid-19, bisnisnya itu limbung. Omzetnya pun menurun drastis. Utang-utang pun sedikit demi sedikit mulai melilitnya.

Ansori di warung Madura yang ia kelola MOJOK.CO
Ansori di warung Madura yang ia kelola, Kamis (11/01/2024). Warungnya tak takut meski berdiri tak jauh dari Indomaret. (Ahmad Effendi/Mojok.co)

Untungnya, di tengah kesulitannya itu, pada 2021 lalu bibinya mengajak Ansori untuk kerja di warung kelontong di Jogja. Ansori bercerita kalau bibinya itu sudah lebih dari lima tahun bekerja di warung kelontong Madura di Jogja.

“Dia cerita kalau hasilnya tuh lumayan, lebih besar ketimbang bisnis ikan laut. Saya juga lihat bibi saya, kok kayaknya kerjanya juga enak. Yaudah, saya mau dan berangkatlah saya bersama istri.”

Sesampainya di Jogja, Ansori bilang kalau ia dan istrinya tinggal terima jadi saja. Mulai dari modal, ruko buat usaha, semua sudah paguyuban siapkan. Pendeknya, ia hanya tinggal mengelolanya saja.

Sebagai informasi, warung Madura yang Ansori kelola ada jejaring “Toko Kelontong Rama”. Di Jogja sendiri ada belasan Toko Rama. Tempat Ansori bekerja adalah Toko Rama 2.

Omzet jutaan, gaji karyawan warung Madura lampaui UMR Jogja

Warung yang Ansori dan istrinya kelola memang berukuran tak lebih dari 3×4 meter. Barang-barang yang mereka jual pun masih sangat umum. Namun, jika sudah bicara omzet dan upah bulanan, tentu bisa bikin pekerja bergaji UMR Jogja ketar-ketir.

Ansori menjelaskan, dalam sehari (terhitung 24 jam), warungnya bisa menjual barang sampai Rp5 juta. Itupun merupakan omzet rata-rata, sebab kalau sedang ramai penghasilannya bisa jauh melampaui itu.

“Kalau ramai banget pernah sampai Rp7-8 juta. Tapi rata-rata kita menghitungnya memang Rp5 juta,” kata Ansori.

Dari penghasilan hariannya itu, Ansori dan istrinya dapat bagian 10 persen sebagai tabungan. Artinya, jika ada omzet Rp5 juta, dalam sehari mereka dapat tabungan Rp500 ribu. Kemudian, dari total tabungan selama sebulan, nominalnya akan dipotong biaya sewa ruko dan selanjutnya dibagi dua dengan pemilik Toko Rama.

“Misalnya, kita dapat Rp500 ribu kali sebulan, kan ada Rp15 juta. Nah, itu kita potong sewa ruko sejuta. Sisa Rp14 juta, kita bagi masing-masing 50 persen dengan pemilik warung. Jadi saya dan istri kejatah Rp7 juta dalam sebulan.”

Menurut berbagai sumber, rata-rata gaji pegawai Indomaret dan Alfamart di dua posisi, yakni kasir dan staf gudang adalah Rp2,2-2,5 juta sebulan. Artinya, selain melampaui UMR Jogja, gaji yang Ansori dan istri peroleh juga jauh di atas upah pegawai minimarket tersebut.

Alasan warung Madura berani head to head dengan Indomaret

Warung yang Ansori kelola, hanya berjarak sekitar 50 meter dari gerai Indomaret. Namun, ia menegaskan kalau dirinya sama sekali tak gentar jika harus head to head alias bersaing secara bisnis dengan minimarket kondang tersebut.

Dari segi barang-barang yang mereka jual di Warung Madura, memang masih sangat umum. Ada sembako, aneka jajanan, rokok, perlengkapan mandi, dan sebagainya. Malahan boleh dibilang kalau stok barang jualan di Indomaret cenderung lebih lengkap.

Namun, satu hal yang bikin orang selalu mencari warung Madura, kalau kata Ansori, karena “harganya lebih murah”.

“Kalau kita pasang harga murah, pasti bakal selalu dicari. Misalnya rokok, selisih Rp500 atau Rp1.000 itu bikin pembeli lari kesini, lho,” jelasnya.

Demi memastikan warungnya bisa ngasih harga miring, ia dan istrinya pun harus pandai-pandai cari agen yang murah. Sebab, kalau dari pemasok saja harganya sudah rendah, ia bisa mematok harga yang rendah juga pada pembeli.

Salah satu Tok Kelontong Madura yang berdiri beberapa meter dari Alfamart. (Hammam Izzudin/Mojok.co)

“Enggak apa-apa kita ambil untung kecil, tapi selalu ramai karena lebih murah. Daripada harganya tinggi, eh, tapi sepi karena pada enggak mau beli.”

Begadang dan siap sedia bensin adalah kunci

Ada hal lain yang bikin Ansori optimis warungnya bisa bersaing dengan Indomaret. Menurut dia, ada beberapa hal yang warungnya miliki, tapi tak dipunyai Indomaret.

“Paling keliatan saja, jam operasi. Kami itu buka 24 jam nonstop, sementara minimarket lain paling mentok jam 10 malam. Jangan salah, omzet dari pembeli di tengah malam itu banyak banget lho, Mas.” jelasnya.

Selain buka 24 jam, warung Madura juga menjual bensin. Hal ini, kata Ansori, selain jadi pembeda dengan Indomaret, juga menjadi daya tarik lain dari warungnya.

Dulu, warung-warung Madura memang sudah mulai menjual bensin eceran. Namun, caranya masih sangat konvensional dengan ditata rapi berjajar di dalam botol kaca. Namun, sekarang mereka sudah punya pom mini di depan warung. Pom ini pula yang menjadi pembeda warung Madura dengan toko kelontong lain.

“Semua orang pasti butuh bensin, Mas. SPBU kadang jauh-jauh, ya warung kami jadi alternatif. Apalagi kalau malam atau pagi-pagi buta, kami pun selalu siap.”

Punya keyakinan warung Madura bakal semakin menjamur

Dari berbagai sumber, per tahun 2023 kemarin tercatat setidaknya ada 1.200 lebih warung Madura yang tersebar di seluruh Jogja. 

Saya pun menyebutkan fakta tersebut dan Ansori bilang kalau ia yakin jumlahnya pasti akan bertambah tahun ini. Alasannya sederhana, kata Ansori, karena secara bisnis menjanjikan dan dari sudut pandang pembeli ia sudah jadi semacam “rujukan”.

“Orang sudah tahu warung Madura, terkenal juga harga miring. Sekarang rujukannya kalau mau belanja ya ke warung Madura,” paparnya.

Apa yang Ansori sampaikan tersebut sebelumnya juga sudah pernah Direktur Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira ungkap dalam sebuah kesempatan. 

Kata Bhima, warung Madura akan terus ada karena cenderung berdekatan dengan pemukiman dan terjangkau dari segi harga. Selain itu, bisnis warung Madura hanya membutuhkan investasi awal dan biaya operasional yang relatif kecil daripada toko retail modern, seperti Indomaret. 

Ansori pun mengaku kalau sudah ada beberapa kerabatnya di kampung halaman yang mulai tertarik ikut ke Jogja setelah melihat kesuksesannya. Wajar saja, sejak kerja sebagai penjaga toko kelontong ini, kehidupan finansial Ansori dan keluarganya memang sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.

“Alhamdulillah, utang-utang udah terlunasi semua. Kalau buat beli sepeda motor dan keinginan anak-anak, alhamdulillah sudah terbeli semua,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Toko Kelontong Madura, Toko Kecil yang Berani Mepet Indomaret dan Alfamart

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Exit mobile version