ADVERTISEMENT

10 Tahun Jaga Penginapan di Bali Jadi Sadar, Prawirotaman Belum Layak Jadi “Bali-nya Jogja” Hanya Karena Banyak Bule

Till Drop Prawirotaman, bukan Bali.MOJOK.CO

Bule miskin, mokondo, tapi dielu-elukan

Soal orang asing yang punya “posisi spesial” di mata orang Indonesia, Jamal sadar betul akan hal itu. Tak cuma Bali, di Prawirotaman pun orang asing seolah punya kedudukan yang lebih tinggi.

Jamal mencontohkan, di tempat kerjanya yang dulu, ia mengaku bule mendapatkan servis berbeda ketimbang turis dalam negeri. Di Prawirotaman pun demikian, ada pelayanan-pelayanan berbeda kepada turis asing yang itu tak dirasakan wisatawan dalam negeri.

Kata Jamal, sih, itu semua memang by design, dilakukan demi “citra lokasi wisata yang ramah wisatawan luar negeri”. “Ibaratnya kami, yang jaga penginapan itu contoh, begini lho orang Indonesia. Ramah-ramah. Kalian datang nggak bawa duit saja dilayani dengan baik, biar betah dan balik lagi suatu saat,” jelasnya.

Namun, yang membedakan, di Bali banyak turis mokondo. Tiap malam, yang entah bertemu di mana, mereka pasti membawa perempuan-perempuan Indonesia. Selalu beda-beda.

Bejatnya lagi, “incarannya” selalu perempuan-perempuan lokal atau yang berduit.

“Dulu di tempat kerjaku sampai ada yang pernah nge-drugs dan akhirnya kami laporkan ke polisi. Dua minggu bule itu nginep sama si perempuan. Sewa kamar, makan, semua dibayarin si perempuan. Anjingnya lagi, nih, si bule ternyata dah overstay 10 bulanan di Bali,” kata Jamal.

“Sumpah, seumur-umur kayak gini itu nggak ada di Prawirotaman,” tawanya.

Prawirotaman masih kondusif, jangan “jatuh” seperti Bali

Kesimpulan Jamal, Prawirotaman belum bisa disamakan dengan Bali justru dalam aspek yang positif. Kalau boleh jujur, ia bahkan tak mau kawasan ini menjadi seperti Bali. Yang mana bule-bulenya bisa bersikap seenaknya, tapi warga lokalnya tersingkir.

“Justru baik kalau beda dengan Bali, dan moga aja Prawirotaman nggak downfall kayak Bali,” ujarnya.

Menyebut kawasan ini sebagai “Kampung Bule”, Jamal sepakat. Toh, bule-bule yang ke sini kebanyakan ingin menikmati kebudayaan Jogja, bukan bersenang-senang dan mabuk-mabukan saja.

Namun, kalau menyebut Prawirotaman sebagai “Bali-nya Jogja”, kata dia sih: “Amit-amit, jangan sampai!”.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA 5 Tahun Tinggal di Purwokerto Bikin Saya Sadar, Kota Ini Sama Problematiknya dengan Jogja

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 28 Juni 2024 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version