Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pertama Kali Ajak Ibu ke Mall: Takut Malu-maluin Gara-gara Tangga Berjalan, Berakhir Penuh Keharuan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Oktober 2025
A A
Pertama kali ajak ibu ke pusat perbelanjaan modern (mall) di Surabaya. Haru dan bahagia MOJOK.CO

Ilustrasi - Pertama kali ajak ibu ke pusat perbelanjaan modern (mall) di Surabaya. Haru dan bahagia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mall di Surabaya menjadi saksi ketika seorang anak membawa ibunya ke pusat perbelanjaan modern pertama kali. Mall Surabaya lantas merekam, bagaimana seorang ibu takut bakal malu-maluin sang anak, sementara di sisi lain sang anak justru bahagia dan penuh keharuan.

***

Iklan

Hingga usia paruh baya, mall masih menjadi sesuatu yang amat jauh dari jangkauan Ibu. Dalam bayangan Ibu, mall hanya untuk orang-orang kaya. Karena sudah pasti apa yang tersedia di sana berharga mahal. Alhasil, sepanjang masih bisa belanja pakaian, kebutuhan dapur, dan lain-lain di pasar, maka rasanya sudah cukup di pasar saja. Kira-kira begitulah cara pandang ibu dua narasumber Mojok.

Curi-curi pandang ke keluarga kaya

Nganjuk tidak punya mall. Tak heran jika keluarga Daris sangat tidak akrab dengan mall. Momen pertama kali Daris ke mall baru terjadi ketika dia kuliah di Surabaya, Jawa Timur.

Itu terjadi karena Daris diajak oleh teman-temannya. Untuk jajan, nonton bioskop, atau sekadar “cuci mata”.

Tiap menginjakkan kaki di tangga berjalan mall, dengan pemandangan serba mewah di sekeliling, pandangan Daris justru tak tercuri oleh outlite-outlite branded di setiap lantai. Dia justru kerap curi-curi pandang pada orang-orang yang berlalu-lalang.

“Aku sering membatin, misalnya kalau lihat ada kelompok keluarga, mereka kerjanya apa ya kok bisa leluasa main di mall? Bawa keluarga besar pula,” ujar laki-laki 27 tahun tersebut, Kamis (23/10/2025).

Dari situ Daris berangan-angan, agar suatu saat, kalau dia sudah berduit, dia akan mengajak sang ibu ke salah satu pusat perbelanjaan modern di Surabaya.

Lebih-lebih, kalau menonton televisi dengan adegan orang di mall, sang ibu biasanya juga berbisik: Orang-orang kaya apa pernah ya belanja di pasar tradisional? Daris menangkap keheranan sekaligus keinginan sang ibu agar suatu saat bisa merasakan seperti yang orang-orang kaya rasakan.

Ketakjuban dan impian pada mall

Chamida (22) sedikit berbeda. Sebenarnya keluarganya tidak terlalu jauh dari pusat perbelanjaan modern. Dia tinggal di Trosobo, Sidoarjo. Hanya berjarak sekian menit saja dari Surabaya.

Hanya memang, keluarga Chamida tidak cukup uang untuk menikmati kemewahan mall-mall tersebut.

Keluarga Chamida sebenarnya tahu belaka, sebenarnya tidak akan ada yang melarang kalau misalnya masuk mall hanya sekadar melihat-lihat. Cuma memang ada perasaan malu dan insecure karena harus berjalan di tengah orang-orang kaya.

“Kalau kami sedang di Surabaya, misalnya aku lagi boncengin Ibu, dia pasti agak takjub kalau melihat mall. Timbul pertanyaan: Butuh uang berapa banyak ya buat bisa belanja di sana?” Tutur Chamida.

Dari situ, Chamida jadi punya impian sederhana: Mengajak ibunya masuk mall untuk menjawab tanda tanyanya atas situasi di dalam pusat perbelanjaan modern tersebut.

Kerja keras demi ajak ibu ke mall

Barangkali terdengar sepele. Tapi bagi orang kampung seperti Daris, perlu kerja keras untuk suatu saat mengajak sang ibu ke salah satu mall di Surabaya. Dan itulah yang kemudian Daris lakukan.

Sejak kuliah Daris terbiasa freelance. Dia juga aktif mengikuti magang di beberapa perusahaan swasta di Kota Pahlawan.

Hasilnya, Daris beruntung bisa bekerja bahkan sebelum wisuda. Gaji pokoknya tidak menyentuh UMR memang. Namun, dia masih mengupayakan sambilan lain sebagai desainer grafis lepas.

“Waktu itu aku sengaja ngumpulin duit buat jagani kalau ibu dan adik-adik datang ke wisudaku,” kata Daris.

Iklan

Sementara Chamida tidak kuliah. Lulus SMK dia langsung bekerja di sebuah pabrik di Sidoarjo. Di awal-awal kerjanya dulu, dia kerap menyisihkan sebagian uang khusus dia peruntukkan menyenangkan sang ibu.

“Awal-awal ya coba belikan emas. Belikan baju. Pernah juga makan di tempat makan yang agak enak,” ungkap Chamida.

Ibu takut malu-maluin hanya karena tangga berjalan

Selepas prosesi wisuda yang serba formalitas, Daris langsung mengajak sang ibu dan dua adiknya ke sebuah mall di Surabaya. Kala taksi online yang mereka naiki menurunkan mereka di depan sebuah mall, ibu Daris sempat menunjukkan raut panik.

“Ris, panggon apa iki (Ris, tempat ap aini)?” Tanya sang ibu. Daris hanya tersenyum sambil menggandeng sang ibu untuk masuk.

Kepanikan tak berhenti di situ. Kala Daris mengajak sang ibu menaiki tangga berjalan, ibu Daris malah berkali-kali bilang “Emoh” dan menjauh dari tangga berjalan tersebut. Alasannya karena ibu takut. Butuh waktu agak lama agar sang ibu mau.

“Mengko nek ora iso malah ngisin-ngisini, Ris (Nanti kalau nggak bisa malah malu-maluin, Ris),” ucap si ibu. Daris malah tertawa, sambil menahan rasa sedih di dadanya: Betapa sejak kecil ibunya memang sangat jauh dari kehidupan mewah.

Daris meyakinkan, tidak ada yang malui-maluin. Akhirnya sang ibu mau. Digandeng Daris, sang ibu menaiki tangga berjalan itu sambil agak menahan takut.

Silakan orang lain menatap “ndeso”, saya tak peduli!

Sedari tangga berjalan, lalu makan di sebuah restoran, kemudian belanja kemeja untuk dua adiknya, Daris menyadari kalau ada beberapa orang yang menatap “aneh” keluarga Daris. Seolah ingin mengatakan, “Ndeso”.

Pasalnya, sang ibu dan dua adiknya mengenakan pakaian biasa. Kendati itu sudah dianggap pakaian terbaik bagi mereka. Tingkah ibu dan adik-adik juga kentara sekali sebagai orang yang pertama kali masuk mall.

“Di restoran, saat membalik-balik menu, di store pakaian, tiap lihat harga, ibu mesti berseru kaget karena harganya mahal, ‘Panganan apa ini, Ris, cek larange regane (Makanan apa ini, Ris, kok mahal harganya)’. Tapi kubebaskan, pokoknya bebas makan apa aja. Pokoknya kubelikan,” ujar Daris.

“Aku nggak peduli tatapan-tatapan memicing orang-orang kaya di sana. Memang apa salahnya orang ndeso ke mall,” sambungnya.

Betapa haru Daris karena bisa mengajak sang ibu menikmati mall. Sesuatu yang jauh darinya sejak lama. Ada perasaan bahagia karena bisa membalas menyenangkan sang ibu, setelah sepanjang hidup sang ibu dikorbankan untuk menyenangkan anak-anaknya.

Malu di kerumunan orang kaya, takut-takut tunjukkan rasa senang

Ibu Chamida pun demikian.

Rasanya lucu-lucu haru ketika melihat sang ibu terlihat kagok ketika menginjakkan kaki di sebuah mall Surabaya. Dari gemetar di tangga berjalan sampai seruan-seruan spontan sang ibu kala melihat kilau barang-barang di mall.

“Ibu itu malu, kalau istilah gen z ya insecure lah. Karena isinya orang-orang kaya. Tapi dia juga nggak nutupin kalau dia seneng. Walaupun nunjukinnya sambil takut-takut dianggap katrok,” kata Chamida.

Di momen pertama itu, Chamida hanya mengajak makan sang ibu. Namun, karena sang ibu terlihat sangat menikmati, perasaan Chamida berbunga-bunga.

“Aku nangis karena sepulang dari mall, ibu bilang terima kasih diajak ke mall. Aku bahagia sekali bisa membuat ibu bisa merasakan makan ala orang kaya,” tutur Chamida.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kenorakan-kenorakan Orang yang Pertama Kali ke Jogja, Niat Kelihatan Kalcer tapi “Nggak Mashok!” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2025 oleh

Tags: mallmall surabayapusat perbelanjaanpusat perbelanjaan modernpusat perbelanjaan modern surabayaSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.