2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Terutama di Surabaya, orang Madura kerap menerima stigma tidak menyenangkan. Apalagi di Surabaya utara. 

Komunitas masyarakat Madura memang lebih banyak tersentralisasi di wilayah utara. Karena stigma negatif yang dilekatkan ke mereka, sejumlah warganet Surabaya di media sosial bahkan menyebut kalau Surabaya Utara sudah bukan bagian dari Kota Pahlawan. 

Ada tiga orang Madura yang saya wawancara. Dua di Surabaya (laki-laki berusia 26 dan 30 tahun), satu di Jogja (perempuan berusia 40-an tahun penjaga sebuah warung Madura di dekat indekos saya). 

Mereka kerap nelangsa ketika mendapati, di media sosial, betapa banyak cacian bahkan ujian kebencian bernada rasialisme ditujukan pada masyarakat dari Pulau Garam. Walaupun sebenarnya, bagi mereka, tidak semestinya dipukul rata. 

Robohkan saja jembatan Suramadu

Saking buruknya stigma buruk yang disematkan pada orang-orang di pulau seberang jembatan Suramadu itu, sampai muncul narasi seperti ini di media massa: 

  1. Udah bener biarkan mereka (orang Madura) terisolasi di pulau, eh malah dibangun jembatan (Suramadu). 
  2. Robohkan/hancurkan jembatan Suramadu udah paling bener sih.
  3. Bisa nggak sih mereka dipulangkan aja ke pulau asal, terus akses Suramadu ditutup. 
  4. Ah, tapi nggak lama lagi paling jembatan Suramadu bakal ambruk, besinya dicuri terus. 

Ketiga narasumber saya mengakui, keresahan itu pun tidak berangkat dari ruang kosong. Tapi dipicu oleh sejumlah situasi yang, sialnya, kerap kali melibatkan orang Madura di dalamnya. Antara lain: 

#1 Stigma Madura tukang maling besi

Maling besi bisa dibilang menjadi stigma terkuat terhadap Madura. Di tanah rantau, terutama di kota-kota besar, salah satu lini bisnis yang ditekuni oleh orang Madura adalah bisnis besi tua

Pada akhirnya itu membuat orang berplat M lekat dengan candaan berkonotasi buruk, sebagaimana yang pernah dialami tiga narasumber saya tadi. Misalnya dalam sebuah percakapan: 

“Kamu asli mana?”

“Madura.”

“Eh di sebelah sono banyak besi tuh.”

Sejumlah kasus pencurian besi di Surabaya, merujuk laporan kepolisian dan sejumlah berita yang beredar, kerap kali melibatkan sekelompok orang berplat motor M sebagai tersangka. Itu kemudian membuat orang Madura mendapat stigma sebagai “maling besi”. 

Bahkan, kini, seturut pengakuan tiga narasumber saya, tiap ada video atau berita viral soal hilangnya material besi dan sejenisnya–terutama di fasilitas umum–beberapa warganet akan langsung menyinggung: Ah pelakunya paling plat M/blok M. 

#2 Stigma penadah motor curian

Berdasarkan penelusuran di internet, dari data kepolisian dan berita yang pernah naik, kasus pencurian motor di Surabaya kerap mengarah pada satu titik di Madura: Bangkalan. 

Alhasil, di Surabaya, muncul stigma bahwa Pulau Garam jadi markasnya penadah motor curian. Bahkan, Polres Bangkalan menyebut, 80% motor curian di luar Madura larinya ya ke Madura. Seringnya di Bangkalan.

Jelas itu sangat mengganggu tiga narasumber saya, juga orang-orang di sekitar mereka. Sebab, imbas dari oknum tak bertanggung jawab itu, akhirnya orang Madura harus menerima label kriminal. Sementara masih sangat banyak orang asli Pulau Garam yang jauh dari perbuatan tidak terpuji itu. 

#3 Stigma sebagai tukang pungli dan ormas nggak jelas

Masih dalam konteks Surabaya, pengusiran paksa Nenek Eliana beberapa waktu lalu oleh sekelompok orang yang mengaku dari ormas Madas (Madura Asli) makin membuat cara pandang terhadap orang Madura memburuk. 

Tiga narasumber saya merasa sedih saat melihat berita soal kasus Nenek Eliana dan ormas Madas di media sosial. Sebab, warganet sampai mengecam agar orang Madura (sekalipun tidak berhubungan dengan Madas) diusir saja dari Surabaya: “Di tanah orang malah sok jagoan, nggak tahu diri. Begitu kecaman warganet.”

Apalagi, masih di Surabaya, orang Madura sudah terlanjur lama dikaitkan dengan pungli. Karena ada oknum-oknum yang menjadi tukang parkir liar di sejumlah titik dan dianggap meresahkan. 

***

Di tengah gempuran stigma tidak menyenangkan itu, bagi tiga narasumber saya, untung saja ada dua hal baik yang menyelamatkan wajah suku mereka. 

#1 Bebek goreng dan penyetan

Berdasarkan penuturan tiga narasumber saya, mereka kerap mendengar banyak orang (bukan Madura) yang mengakui bahwa kenikmatan bebek goreng bumbu hitam dan penyetan yang diolah orang Madura tidak ada duanya. 

Bumbu hitamnya medok. Olahan bebeknya empuk. Juga sambalnya yang terasa pedas nan gurih. Kenikmatan itu bahkan kerap bisa ditebus dengan harga murah. Karena di Jogja maupun Surabaya, amat gampang menemui warung bebek goreng atau penyetan Madura pinggir jalan dengan harga ramah kantong pekerja urban. 

Saya juga mendengar pengakuan serupa dari beberapa teman saya yang bukan orang Madura. Orang-orang plat M memang kena banyak stempel miring. Namun, bagi teman-teman saya, untuk urusan masakan, benar-benar tanpa cela. 

#2 Warung Madura 24 jam

Madura juga punya “waralaba” toko kelontong yang sangat ikonik: warung/toko Madura. Di tengah gemerlap kota, di antara gang-gang perkampungan, bahkan hingga di sebuah tempat yang terkesan jauh dari hiruk-pikuk manusia, toko kelontong dengan ciri khas pom mini dan barisan rokok di etalase itu menyala terang 24 jam non-stop. 

Banyak orang mengakui kalau keberadaan warung/toko Madura benar-benar menjadi penyelamat. 

Pertama, karena buka 24 jam, orang bisa kapan pun mampir untuk membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Misalnya, tiba-tiba bensin habis sementara SPBU masih jauh, maka bisa langsung beli di pom mini warung/toko Madura. 

Kedua, karena nyaris menyediakan apa saja–dari camilan, minuman, rokok, alat mandi, sembako, hingga obat-obatan, orang tidak perlu susah-susah kalau mau belanja tanpa harus ke minimarket. 

Di warung madura dekat kos saya, bahkan menyediakan jas hujan dan pompa ban konvensional. Jadi jika ada orang yang kehujanan bisa berteduh sekaligus beli jas hujan plastik tersebut. Kalau mau nambah angin bisa pinjam pompa ban. Bayar Rp2 ribu per-ban. 

Ketiga, warung/toko kelontong tersebut benar-benar menjadi jawaban untuk masalah seretnya masalah kerja. Minimal bagi orang Madura. Pasalnya, warung/toko kelontong tersebut memang umumnya mempekerjakan saudara-saudara terdekat atau paling tidak ya sama-sama berasal dari Madura. 

***

Kalau di Jakarta, orang Madura yang jualan kopi keliling (starling) pun jadi penyelamat. Menjadi oase bagi para pekerja urban yang ingin ngopi dengan harga murah, di tengah harga mahal kafe-kafe di Ibu Kota.

Untungnya, bagi tiga narasumber saya, hal-hal tersebut menjadi wajah lain dan tak kalah kentara dari orang Madura yang semestinya menjadi alasan kuat: bahwa orang Madura punya sisi “penyelamat”, tidak melulu tentang stigma buruk yang seperti dipupuk terus-menerus. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 5 Amalan Baik Warung Madura ke Pembeli yang Membuat Penjualnya Layak Masuk Surga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version