Saya tergelitik untuk menulis ciri outfit di Surabaya Utara usai membaca Esai berjudul “Di Surabaya, Kaos Oblong dan Sandal Jepit adalah Simbol Kekayaan: Isi Dompet Cukup untuk Beli Mall dan Segala Isinya”. Pada umumnya, saya sepakat dengan pendapat tersebut. Namun kalau mau lebih spesifik lagi, ciri-ciri itu biasanya lebih banyak dijumpai di mal daerah Surabaya Barat dan Surabaya Timur, dibandingkan di Surabaya Utara yang mengenakan kaos oblong, sarung, dan motor Honda PCX.
Kaos oblong, sandal jepit, sarung, dan motor PCX
Sebagai orang yang tinggal di Surabaya Utara, Ahmad* (26) mengaku lebih sering menjumpai orang yang berpakaian kaos oblong, sandal jepit, sarung, bahkan kadang-kadang peci alih-alih memakai helm saat berkendara. Ahmad sendiri adalah pelakunya.
“Surabaya iku panase nggak umum, jadi lak gawe kaos oblong angine lebih sepoi-sepoi. Masio lengene pendek karo wornone ireng tapi kan kene dolene nak panggon cedek. (Surabaya itu cuacanya lebih panas. Jadi kalau pakai kaos oblong anginnya lebih terasa walaupun kaos oblong itu lengannya pendek dan warnanya hitam. Toh, aku mainnya nggak jauh),” ujar Ahmad saat ditanya Mojok, Selasa (6/1/2026).
“Lek sarung yo podo, lebih nyaman dan nggak nggarakno sumuk. Iso dirangkepi celono pendek. (Begitu juga dengan sarung. Bikin nyaman dan nggak membuat gerah. Dalamnya bisa pakai celana pendek.)” lanjutnya.
Tak hanya kaos oblong, sandal jepit, dan sarung, kata Ahmad, belum lengkap rasanya kalau warga Surabaya Utara tak mengendarai motor Honda PCX. Terutama yang berwarna merah atau putih.
“Gawe kelas menengah menduwur, minimal lek tuku sepeda motor yo PCX ditambahi outfit jaket kulit. Kaos oblong karo sarung iku wes paling sederhana. (untuk kelas menengah ke atas, minimal kalau mau beli sepada motor ya merk PCT ditambah outfit jaket kulit. Kaos oblong dan sarung itu sudah paling sederhana), ” ujar Ahmad.
“Motor CBR ambek Harley iku wes kelarangan. Sing sogeh pasti mending tuku mobil. Jadi wong mobilan karo kaos oblong, sandal jepit, sarungan yo onok (Motor CBR dan Harley sudah kemahalan. Yang kaya pasti lebih mending beli mobil. Jadi orang mobilan dengan kaos oblong, sandal jepit, bersarung juga ada),” lanjutnya.
Menikmati Surabaya Utara dengan outfit sederhana
Berbeda dengan Ahmad, meski tinggal di Surabaya Utara, Karim* (25) lebih sering memakai baju formal untuk bekerja sebab masih terikat dengan SOP kantor. Namun, ia mengaku kerap melihat dandanan warga Surabaya Utara seperti Ahmad.
“Aku saban lewat Bulak Banteng ae wes akeh. Minimal 2-3 lah mbendino (Aku setiap lewat Bulak Banteng selalu lihat, minimal 2-3 orang pakai Honda PCX dengan outfit serupa),” kata Karim.
Kadang-kadang, ia malah iri karena tak bisa menggunakan kaos oblong, sandal jepit, dan sarung seperti Ahmad saat berangkat bekerja. Sementara dirinya harus mengenakan pakaian tertutup seperti jaket, sarung tangan, masker, dan sepatu guna menghalau panas.
“Lek nggak gawe iku wasallam. Kulitmu langsung gosong pasti, opomane Surabaya Utara. (kalau nggak pakai itu berabe, kulitmu langsung hitam pasti apalagi di Surabaya Utara),” kata Karim.
Surabaya Utara memang terkenal sebagai wilayah pesisir sehingga menghasilkan suhu yang lebih panas, terutama di Kecamatan Kenjeran. Maka jangan heran jika menemui warga Surabaya Utara yang menikmati sunset atau sunrise di pantai dengan kaos oblong dan sarungnya. Sembari menyeruput kopi di pinggiran pantai.
Simbol perlawanan dan kesederhanaan
Selain Kenjeran, Surabaya Utara mencakup Kecamatan Pabean Cantikan, Semampir, Krembangan, dan Bulak. Bagi warga Surabaya, nama-nama itu tidak terdengar asing mengingat nilai sejarahnya di masing-masing wilayah.
Jika Surabaya Barat memiliki perumahan elit seperti CitraLand dan Graha Family, serta pusat perbelanjaan modern seperti Pakuwon Mall, Surabaya Utara, terkenal dengan bangunan sejarah dan pusat perdagangannya.
Surabaya Utara memiliki Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pusat perdagangan dalam menggerakkan ekonomi di Jawa Timur bahkan seluruh Kawasan Timur Indonesia sejak era Belanda.
Ramainya Pelabuhan Tanjung Perak tak pelak menghasilkan akulturasi budaya dari berbagai penjuru dunia seperti Arab, Tiongkok, dan Eropa. Hal itu bisa dilihat di kawasan Kya-kya (pecinan), Ampel (kampung Arab), dan Jembatan Merah serta Rajawali yang didominasi dengan bangunan Eropa.
Di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak juga terdapat kampung-kampung lama yang menjadi saksi bisu pertempuran “10 November 1945”. Salah satunya Benteng Kedung Cowek sebagai pertahanan arek-arek Suroboyo melawan pasukan sekutu (Inggris).
Dalam pertempuran itu, bukan mustahil jika arek-arek Suroboyo melawan sekutu dengan kaos oblong dan sarung sebagai bentuk perlawanan. Menurut catatan pengamat dunia pesantren Agus Suntoyo, terdapat sekitar 112 perlawanan terhadap kolonialisme yang dimotori kalangan pesantren. Uniknya, mereka semua menggunakan sarung.
Hingga kini, sarung ibarat pakaian wajib di Surabaya Utara, dipadukan pula dengan kaos oblong agar nyaman digunakan sehari-hari. Bagi warga Surabaya Utara, sarung bukan sekadar simbol keagamaan semata, tapi menunjukkan identitas budaya mereka yang sederhana dan setara.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bagi Kami para Akamsi Pantai Kenjeran adalah Sebaik-baik Tempat Menenangkan Diri, Meski Banyak Begal dan Pungli atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
