OB dan Satpam Kantor Paling Nyaman buat Berbagi Cerita dan Berkeluh Kesah, Lebih Tulus ketimbang Teman Kerja yang Kebanyakan Bermuka Dua

OB dan satpam kantor, orang paling tulus untuk berbagi kerja ketimbang teman-teman di tempat kerja MOJOK.CO

Ilustrasi - OB dan satpam kantor, orang paling tulus untuk berbagi kerja ketimbang teman-teman di tempat kerja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Satpam dan office boy (OB) kantor justru menjadi tempat paling nyaman untuk berbagi cerita, bahkan berkeluh kesah. Mereka lebih tulus dan lebih peduli ketimbang teman-teman di tempat kerja yang kadang berwajah dua: baik di depan, tapi bisa diam-diam menggunjing hingga menyerimpung di belakang. 

***

Ada masanya, di pertengahan tahun 2025 lalu, Imandini (24) berpikir untuk resign dari sebuah kantor tempat ia kerja Jogja. 

Sebenarnya kantor tempat pemuda asal Jawa Timur kerja itu sangat manusiawi. Target manusiawi, jam kerja normal (nine to five), dan terutama gaji: pihak kantor memberinya di atas UMP Jogja. Ia hanya merasa tak kuat dengan teman-teman kerjanya saja. 

Pertama, ia kerap dianggap norak karena cara berpakaian. Katanya kurang kalcer. Kedua, Imandani dicap terlalu serius bekerja. Itu dianggap membuat risih teman-temannya sekantor yang lebih suka main TikTok dan main gim di jam-jam kerja, serta ogah-ogahan menjalani rutinitas di kantor. 

“Ada satu lagi, anak ini culun banget memang. Itu nggak ditemani sama mereka. Mereka nyebut anak itu wibu nolep,” ungkap Imandani, Jumat (16/1/2026). “Itu gambaran betapa kalau nggak kalcer, kurang skena, nggak bakal ditemani.”

Teman di tempat kerja, tapi di luar menjadi tidak kenal

Saat bekerja, Imandani berharap bisa menemukan teman baru di kantor. Namun, itu tidak ia dapatkan di tempat ia kerja. 

Saat pertama kali bergabung pada pertengahan 2024 lalu, ia memang merasa disambut. Baru ia sadar kemudian kalau itu hanya basa-basi di depan bos

“Setelahnya, susah banget buat akrab. Gara-gara tadi, mereka sudah membangun gap. Kalau mau kumpul circle mereka, ya harus ngikutin gaya mereka,” kata Imandani. 

Sering Imandani, karena ingin punya teman baru, mencoba mengakrabkan diri dengan mengajak beberapa teman kantor untuk nongkrong. Misalnya di akhir pekan. Tapi selalu penolakan yang ia dapatkan. 

Sedihnya, Imandani pernah tanpa sengaja berpapasan dengan circle teman kantornya di sebuah kedai kopi. Imandani tidak terinfo kalau mereka sedang ngopi-ngopi santai. Mungkin juga mereka memiliki grup WA yang tidak ada Imandani di dalamnya. 

“Waktu papasan itu mereka kayak kikuk. Karena selama ini kalau aku mau join atau ngajak ngopi, mereka bilang sedang nggak pengin ngopi atau ada urusan lain. Tapi ya sudah, aku ngopi aja sendiri,” ungkap Imandani. 

Imandani pun sadar, mereka mungkin teman di kantor. Mereka bisa berbincang lama juga di kantor, tapi berkutat soal pekerjaan. Di luar itu, mereka sebenarnya tidak saling kenal. 

Pergunjingan menjijikkan

Jika Imandani berkutat pada persoalan terisolasi dari circle pergaulannya di tempat kerja, Wirawan (27) lebih ke menghadapi banyak kepura-puraan. 

Berbeda dengan Imandani yang mengalami isolasi secara eksplisit, Wirawan dan teman-teman kerjanya sebenarnya terlihat akrab. Saling sapa, kadang juga nongkrong bersama. 

Namun, itu bukan wajah sebenarnya dari hubungan pertemanan mereka. Sebab, akhirnya Wirawan tahu kalau antar karyawan bisa saling menggunjing satu sama lain. Pergunjingan yang, bagi Wirawan, amat menjijikkan.

“Misalnya gini, aku ngopi sama si A dan B. Mereka bisa habis-habisan menggunjing si C. Tapi di momen lain, saat aku ngobrol sama si A, dia ngadu kalau aku habis digunjing si B,” ucap Wirawan. Siapapun bisa jadi objek gunjingan. 

Pergunjingannya pun, bagi Wirawan, sangat tidak jelas. Kadang kala soal pekerjaan, tapi lebih sering soal hal-hal personal. Misalnya, menggunjing tampilan fisik, selera musik, hingga hal-hal berorientasi seksual kalau yang digunjing adalah perempuan. 

Adu domba juga sering terjadi. Seperti yang Wirawan ceritakan di awal. Bahkan, curhatan (misalnya) si A kepada si B, nanti bisa dijadikan bahan gunjingan oleh si B kepada si C, D, dan Wirawan. 

Sikut-sikutan di tempat kerja

Wirawan akhirnya menyimpulkan, tidak ada pertemanan yang tulus di tempatnya kerja karena: ia tahu fakta bahwa antarkaryawan bisa saling sikut-sikutan.

Antarkaryawan bisa diam-diam saling ngadu ke HR soal performa. Diam-diam ada yang merasa puas saat rekan kerjanya dapat teguran dari HR atau bahkan bos. 

“Di divisiku sendiri, kalau ada kesalahan, itu harus cari kambing hitam buat disalahkan. Padahal kami sedivisi. Siapa kambing hitam itu? Ya siapa saja yang kebetulan dalam waktu dekat sedang jadi bahan gunjingan,” kata Wirawan. 

Berbagi cerita ke OB dan satpam kantor: tidak dapat solusi, tapi dihargai

Pada akhirnya Imandani dan Wirawan punya kecenderungan sama: lebih akrab dengan OB dan satpam kantor ketimbang dengan rekan-rekan sekantor sendiri. 

Imandani mengaku, di jam-jam makan siang, ia sering keluar kantor. Memilih menepi dari teman-temannya yang makan siang di kantin bersama. 

Ia memilih duduk di pos satpam, menyulut rokok, sambil membincangkan hal-hal sederhana dengan si satpam kantor yang usianya sudah bapak-bapak. “Bahkan sesepele kami bahas rokok murah tapi enak, tapi itu terasa hangat,” kata Imandani. 

Saat pagi dan sore pun ia punya tempat jujukan baru selain kursi kerjanya. Yakni pentri tempat OB beraktivitas. Dengan si OB kantor, Imandani bisa berbincang akrab seputar hasil pertandingan sepak bola dari klub jagoan masing-masing. 

“Aku bahkan sering berbagi cerita dengan mereka. Misalnya tentang kebimbanganku, mau resign atau nggak. Mereka tentu nggak bisa ngasih solusi, tapi rasanya sama mereka lebih dihargai, didengar, dan mereka benar-benar peduli,” kata Imandani. 

Begitu pula yang dirasakan Wirawan. Ia bahkan bisa bercanda leluasa dengan OB dan satpam kantor tempat ia kerja, tanpa takut bakal jadi bahan gunjingan. 

“Aku sering keluh kesah ke mereka. Ujung-ujungnya adu nasib sih. Mereka juga bisa cerita soal keluarga dan persoalan hidup masing-masing. Tapi mereka ini lebih bisa menghargai karena nyimak kita dengan sungguh-sungguh,” tutur Wirawan. “Bahkan kalau sama Pak Satpam, aku sering dinasihat-nasihati biar sabar dan syukur.” 

Betapa tulus OB dan satpam kantor

Bagi Imandani dan Wirawan, OB dan satpam di kantor masing-masing justru adalah orang yang lebih tulus dalam hubungan sosial. Perbincangan yang terjadi tidak sekadar basa-basi, bukan pula menyimpan kepura-puraan. Gambaran ketulusan itu di antaranya begini: 

  1. Saat pagi, sapaan yang dilontarkan si OB dan satpam kantor tidak sekadar sapaan “selamat pagi”. Tapi sering kali diselingi dengan bercandaan yang bisa membuat Imandani atau Wirawan lupa kalau jam kerja sudah akan dimulai. 
  2. Siang hari, saat Imandani dan Wirawan ke pos, maka pos bisa jadi tempat berbincang hangat. Bahkan si satpam bisa sangat ringan tangan berbagi rokok yang ia punya. 

“OB di kantorku itu sampai kadang sharing makanan yang dia punya. Bahkan, pernah pas aku pulang tapi belum dapet ojol, dia mau nganter. Padahal, selama ini aku nggak pernah berbuat lebih ke dia. Cuma sebatas ngajak dia ngobrol dan bercanda,” kata Wirawan. 

“Aku itu sampai beberapa kali ditawari pak satpam kantor biar kapan-kapan aku main ke rumahnya kalau aku lagi bosen di kos. Apalagi kalau pas ada Timnas main. Diajak nobar di rumahnya. Belum mampir sih, tapi nanti pasti aku mampir,” sementara begitu pengakuan Imandani. 

Penulis: Muchamad Aly Reza 

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi dan Sunyi di Balik Pagar Samsat: Keresahan Satpam Samsat yang Tak Kuasa Mengubah Sistem atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version