Pelarian dari rutinitas yang melelahkan
Budaya nongkrong di Jakarta Selatan kini mengalami pergeseran makna. Jika dulu nongkrong identik dengan keramaian dan obrolan panjang, kini ia berubah menjadi aktivitas sunyi yang dijalani sendirian.
Hal ini bukan terjadi karena mereka tidak memiliki teman, melainkan karena adanya keinginan kuat untuk berhenti sejenak dari tuntutan sosial yang menguras energi.
Misalnya, dalam kasus Dimas, ia menyebut ada kelelahan yang sering kali tidak terlihat dengan mata. Seperti tuntutan untuk selalu ramah, responsif, dan hadir penuh dalam setiap interaksi sosial.
Alhasil, dengan duduk sendiri, seseorang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Di kafe, diam menjadi sesuatu yang sah. Seseorang tidak perlu menjelaskan apapun kepada siapa pun dan tidak perlu mengikuti ritme orang lain.
Pendeknya, waktu sepenuhnya menjadi milik pribadi, tanpa perlu dipertanggungjawabkan kepada orang lain.
“Intinya kalau sendirian itu, kita memiliki ruang buat memaknai ulang diri kita sendiri. Setelah seharian kerja, di mana tubuh kita ini jadi milik bos.”
Riset psikologi perkotaan menunjukkan, bahwa kelelahan mental pada anak muda seringkali muncul sebagai rasa letih yang terus menetap, seperti sulit fokus, mudah lelah, dan cepat jenuh.
Kondisi ini jamak dialami oleh mereka yang berada di awal karier (early career) yang hidup di kota padat dengan ritme cepat serta ruang pribadi yang sangat terbatas.
Bagi mereka, kebutuhan utamanya bukanlah liburan mewah atau hiburan yang ramai, melainkan sebuah jeda singkat yang memberikan rasa aman. Duduk sendirian di kafe, seperti yang dilakukan Dimas dan banyak anak muda lain di Jakarta Selatan, tanpa tuntutan untuk berperan atau berbicara, menjadi cara sederhana namun efektif untuk memulihkan diri (self-recovery).
“Ada waktu di mana kita butuh ngobrol dengan orang lain. Tapi ada waktunya juga kita kudu ngobrol dengan diri sendiri.”
***
Di Jakarta Selatan yang serba mahal, strategi bertahan hidup tidak selalu berbentuk keputusan-keputusan besar. Ia seringkali muncul dalam bentuk yang sederhana, seperti memilih untuk duduk lebih lama di sebuah kafe dan membayar secangkir kopi.
Nongkrong sendirian bukanlah tanda kegagalan dalam bersosialisasi. Sebaliknya, ini adalah cara yang paling masuk akal untuk bernapas lebih panjang dan bertahan di tengah tekanan hidup kota metropolitan.
Kafe telah bermutasi dari sekadar tempat pertemuan menjadi sebuah “sanctuary” atau perlindungan bagi mereka yang mencari ketenangan di tengah bisingnya Jakarta.
Saya jadi teringat kata Dimas. Ia bilang, tanpa sadar kita semua memiliki kecenderungan untuk “menepi di tengah keramaian”, bengong sendirian di tempat ramai. Sekali lagi bukan karena introvert, tak bisa bersosialisasi, apalagi tak punya teman, tapi menjaga kewarasan dengan memberi ruang memahami diri sendiri.
“Kadang kan ngobrol sama diri sendiri terasa lebih jujur daripada petuah orang lain,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














