Penonton Indonesia Masters 2026 mengaku rela mengambil jatah cuti tahunan demi bisa hadir di turnamen bulu tangkis ini. Alasannya, karena ingin “napak tilas” kenangan mendiang ayahnya.
***
Turnamen bulu tangkis di Istora Senayan selalu memiliki cerita tersendiri. Gedung olahraga yang terletak di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) ini bukan hanya sekadar tempat pertandingan perebutan gelar juara. Bagi banyak orang, baik atlet maupun penonton, Istora menyimpan kenangan personal yang melekat kuat.
Pada perhelatan Indonesia Masters 2026 kali ini, cerita-cerita tersebut kembali bermunculan. Di balik riuh suara penonton dan ketatnya persaingan di lapangan, ada alasan emosional yang membawa orang-orang datang ke tempat ini.
Dari sisi atlet, misalnya, Istora Senayan dianggap sebagai tempat yang keramat. Atlet muda kebanggan tuan rumah, Nikolaus Joaquin, mengaku bahwa motivasinya ingin melaju jauh dalam turnamen Indonesia Masters 2026 bukan hanya soal prestasi atau poin peringkat, melainkan karena ikatan emosional dengan tempat ini.
Ia menganggap Istora sebagai tempat yang memiliki nilai historis bagi perjalanan hidupnya.
“Gedung ini adalah lokasi di mana saya pertama kali mengenal dan menyukai bulu tangkis,” kata atlet kelahiran Jakarta ini, saat ditemui Mojok, Senin (19/1/2026).

Saat masih kecil, Joaquin mengaku ayahnya mengajak menonton langsung pertandingan salah satu wakil Indonesia di sini. Pengalaman menonton langsung itulah yang menumbuhkan minatnya hingga ia memutuskan menjadi atlet profesional.
Karena itu, setiap kali bermain di Istora, ia merasa ada dorongan lebih untuk memberikan yang terbaik, mengingat kembali momen masa kecil bersama ayahnya tersebut.
Rela ambil cuti demi datang ke Indonesia Masters 2026
Kalau kisah emosional tadi dari atlet, hal serupa juga dirasakan penonton. Siang itu, suasana di dalam Istora Senayan cukup ramai. Tribun penonton dipadati oleh penggemar bulu tangkis yang antusias mendukung atlet kebanggaan mereka. Teriakan dukungan dan tepuk tangan terdengar setiap kali poin diraih.
Di tengah keramaian tersebut, terlihat berbagai tipe penonton. Ada yang datang berkelompok dengan teman-teman sekolah, ada pasangan muda, hingga keluarga yang membawa anak-anak mereka.
Namun, tidak semua orang datang murni untuk hura-hura. Di salah satu sudut tribun, duduk seorang pria bernama Adrian. Penampilannya tenang, berbeda dengan penonton lain yang mungkin lebih ekspresif.
Adrian, lelaki berusia 27 tahun yang bekerja di kawasan Sunter ini, hadir di sana untuk sebuah tujuan pribadi yang sederhana tapi mendalam: mengenang almarhum ayahnya.
Bagi Adrian, Indonesia Masters 2026 bukan sekadar tontonan olahraga. Turnamen ini menjadi sarana baginya untuk melakukan napak tilas kenangan bersama sang ayah.
“Saya bahkan rela mengambil cuti tahunan selama tiga hari, buat bisa menonton pertandingan sejak hari pertama,” ujarnya kepada Mojok, Rabu (21/1/2026).

Awalnya tidak terlalu menyukai bulu tangkis
Cerita ini bermula dari peristiwa tahun 2023 lalu. Saat itu, Adrian masih berstatus mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk mengerjakan skripsi.
Kala itu, turnamen Indonesia Open 2023 digelar. Ia mengantar ayah, ibu, dan adiknya ke Istora Senayan untuk menonton pertandingan bulu tangkis. Namun, hari itu Adrian memutuskan untuk tidak ikut masuk ke dalam gedung.
Ada dua alasan yang membuatnya memilih menunggu di luar. Pertama, saat itu ia memang tidak terlalu menyukai bulu tangkis dan lebih gemar menonton sepak bola. Kedua, pikirannya sedang terforsir untuk menyelesaikan skripsinya.
“Jadi ya pas itu saya bertugas sebagai sopir aja yang ngantar keluarga ke lokasi,” ujarnya.
Padahal, ayahnya adalah penggemar berat bulu tangkis. Di lingkungan kerjanya, sang ayah dikenal cukup mahir bermain, bahkan sering memenangkan kompetisi amatir antar-kantor atau turnamen sesama Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Bagi sang ayah, menonton pertandingan langsung di Istora adalah sebuah kegembiraan besar.
Seandainya waktu bisa diulang
Dan, siapa sangka, momen di Istora tersebut menjadi kesempatan terakhir ayahnya menikmati hobinya. Musibah terjadi pada malam harinya.
Setelah pulang dari menonton pertandingan bulu tangkis, ayah Adrian terkena serangan jantung–penyakit yang memang sudah lama dideritanya. Sang ayah meninggal dunia malam itu juga.
Adrian, yang saat itu buru-buru pulang, mendapati ayahnya sudah tiada. Ia hanya bisa melihat jenazah ayahnya yang terbujur kaku. Perasaan menyesal pun muncul di benak Adrian.
Ia bahkan berpikir, seandainya siang itu ia ikut masuk dan duduk menemani ayahnya menonton, setidaknya ia bisa berbagi momen kebahagiaan terakhir di tempat yang sangat disukai ayahnya.
“Seandainya ikut nonton, paling tidak saya bisa menikmati waktu terakhir ayah di tempat yang dia sukai,” ujar Adrian mengenang penyesalannya saat itu.

Ia sempat berandai-andai memutar balik waktu, meski ia tahu hal itu mustahil. Namun, seiring berjalannya waktu, Adrian mulai mencoba berdamai dengan keadaan.
Ia menyadari bahwa meski momen fisik tidak bisa diulang, kenangan tentang ayahnya bisa terus dijaga.
Menonton bulu tangkis untuk “napak tilas”
Sejak saat itu, pertandingan bulu tangkis memiliki arti berbeda bagi Adrian. Olahraga ini selalu mengingatkannya pada sosok sang ayah. Kehadirannya di Indonesia Masters 2026 adalah cara Adrian merawat ingatan tersebut.
Selama dua hari pertama turnamen, Adrian memilih menonton sendirian karena adik dan ibunya masih sibuk bekerja. Ia menikmati jalannya pertandingan sambil mengenang ayahnya yang dulu sangat antusias dengan olahraga ini.
Namun, ia tidak berencana menghabiskan seluruh turnamen sendirian. Adrian berencana mengajak ibu dan adiknya untuk kembali menonton bersama pada hari Sabtu dan Minggu, tepat saat babak semifinal dan final berlangsung.
“Harapannya sih nanti Indonesia juga lolos semifinal sama final juga. Biar euforianya terasa pas nonton bareng keluarga,” ungkapnya. Bagi Adrian, ini adalah bentuk penghormatan sederhana yang bisa ia lakukan.
Akses terbuka untuk semua
Kisah-kisah personal seperti milik Joaquin dan Adrian bisa terjadi karena turnamen ini memang terbuka untuk berbagai kalangan. Indonesia Masters 2026 yang digelar awal tahun ini menawarkan akses yang cukup terjangkau bagi masyarakat.
Menurut Ketua Penyelenggara Indonesia Masters 2026, Achmad Budiharto, harga tiket untuk menyaksikan pertandingan ini dijual mulai dari Rp 40.000. Harga yang relatif terjangkau ini membuat siapa saja, mulai dari pelajar hingga pekerja kantoran seperti Adrian, bisa turut serta meramaikan Istora.
“Kami juga membuat konsep sportainment. Di mana kami menyediakan berbagai aktivitas dan hiburan yang bisa dinikmati masyarakat umum di sekitaran Istora,” kata Budiharto kepada Mojok, Senin (19/1/2025).
“Pengunjung tidak perlu membeli tiket pertandingan jika hanya ingin menikmati suasana di sekitar stadion,” jelasnya.
Di gedung ini, setiap orang punya alasannya masing-masing untuk datang. Ada yang mengejar mimpi seperti Joaquin, dan ada pula yang datang untuk mengenang orang tercinta seperti Adrian. Istora Senayan, pada akhirnya, menampung semua cerita itu dalam satu gemuruh yang sama.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














