Seorang perempuan pekerja di Surabaya harus kerja mati-matian, bahkan beneran ingin mati, karena menjadi tulang punggung keluarga. Masalahnya, kerja kerasnya tiap hari kerap ludes untuk mengurus kakak laki-lakinya yang, baginya, tidak berguna.
***
Peringatan: Tulisan ini mengandung tema berat terkait kondisi gangguan mental. Jika Anda dalam kondisi rentan, disarankan untuk tidak membacanya lebih lanjut.
Lampu kamar sudah mati. Asap aromaterapi sudah menguar. Musik penenang pun sudah mengalun lembut. Namun, Titian (27), bukan nama asli, perempuan asal Surabaya, masih kesulitan memejamkan mata.
Lebih-lebih, di jam-jam lewat 12 malam, sering kali ia diserang kecemasan yang sulit dikendalikan. Bercampur antara cemas, sakit, dan marah.
Titian baru bisa benar-benar tidur selepas Subuh. Lalu ia harus bangun pukul 06.30 untuk siap-siap berangkat ke kantor. Itu membuat tubuhnya terasa pegal-pegal. Energinya untuk bekerja terasa terkuras bahkan sebelum memulai kerja.
Alhasil, demi tidur lebih cepat, ia sangat bergantung dengan pil tidur. Sebenarnya ada dosisnya. Tapi ia kadang melanggar dosis dengan harapan lekas tidur.
Punya kakak laki-laki seperti sampah
Titian tumbuh dengan pemahaman: Kakak laki-laki pasti akan menjadi pelindung bagi keluarga. Apalagi jika punya adik perempuan. Konon juga, hubungan antara kakak laki-laki dan adik perempuan bisa terjalin dengan hangat.
Ingatan masa kecil dengan sang kakak memang samar-samar. Namun dalam ingatannya, kakak Titian yang sekarang berumur 30-an lebih, memang sudah bermasalah sejak SMA. Bahkan harus dikeluarkan di kelas 2 dan tidak pernah sekolah lagi. Hubungan mereka dingin. Sulit mengenang momen-momen indah bersama sang kaka di masa lalu.
“Aku sampai curiga, jangan-jangan ayah stroke itu juga karena nggak tahan ngadepin areknya,” ujar Titian, Kamis (15/1/2026).
Ayah Titian jatuh stroke beberapa bulan sejak sang kakak dikeluarkan dari SMA. Sebab setelahnya, sang kakak makin susah diatur. Sering keluar rumah. Bahkan lebih berani membentak orang tua.
Sejak ayahnya stroke, Titian akhirnya harus mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Ia mengorbankan mimpi untuk kuliah. Memilih langsung bekerja setelah lulus SMA. Karena ibunya toh tidak bisa bekerja. Fokus merawat ayah di rumah.
“Aku berharap kakak sadar dan bantu. Tapi dia kayak sampah. Tiap pagi dia pulang dengan kondisi teler, habis mabuk. Terus di rumah tidur seharian, melek buat makan, main game, terus keluar lagi,” ucap Titian.
Kerja mati-matian sebagai pekerja Surabaya, uang dipalak kakak
Titian bekerja di sebuah pusat perbelanjaan. Gajinya sebagai pekerja Surabaya, meski hanya lulusan SMA, menyentuh UMR.
Uang itu kemudian ia bagi-bagi. Buat belanja harian di rumah, sesekali terapi untuk ayah, dan sisanya untuk pegangan sendiri.
Namun, kakaknya benar-benar tak tahu diri. Sering kali ketika Titian baru pulang kerja, ia memalak Titian agar menyerahkan sejumlah uang. Caranya meminta uang dengan membentak. Kalau tak dikasih bahkan sampai nekat merebu tas Titian.
“Aku juga sering pas pulang kerja, lihat kamarku bekas diobrak-abrik. Kayaknya dia lagi nyari duit,” ungkap pekerja Surabaya itu dengan wajah lesu. “Dia itu tampangnya mbeler. Bukan sekadar mabuk, tapi lebih kayak pemakai.”
Sebab, Titian sudah banyak mendengar cerita, kalau tiap malam sang kakak pasti akan berkumpul dengan gengnya di salah satu titik hiburan malam di salah satu sudut Surabaya. Dengar-dengar tidak hanya karaoke dan mabuk-mabukan. Tapi juga judi dan sewa perempuan.
Sementara ibunya tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menangis meratapi perilaku anak laki-lakinya, sekaligus menangisi anak perempuannya yang harus memikul beban keluarga.
Mati-matian jadi pekerja Surabaya hingga pengin mati beneran
Sekalipun malam harinya sudah dikasih uang, tapi sang kakak masih kerap tiba-tiba meminta lagi untuk beli rokok, dengan tanpa berdosa. Tak jarang pula meminta uang untuk beli paket internet.
Ibu Titian mengaku pernah membawa kakak Titian ke ahli spiritual untuk diruqyah. Tapi tak membuahkan hasil.
Titian pun akhirnya merasa putus asa. Sebab, di rumah itu, ia merasa tidak memiliki pembela.
“Kalau kakakmu minta duit, kasih sepunyamu aja. Daripada dia ngamuk. Kalau kamu ada uang, nanti kita cari peruqyah yang lebih hebat buat menyembuhkan,” kata Ibu Titian, sering kali begitu.
“Kenapa nggak diusir saja sih dari rumah. Cuma bikin beban,” jawab Titian.
“Begitu-begitu juga anak ibu, kakakmu sendiri,” jawab sang ibu yang membuat hati Titian teriris.
Dalam batin pekerja Surabaya itu, “Pernah nggak ibu mikirin kondisiku? Aku juga anak ibu kan? Sekarang kayak cuma sekadar ATM. Harusnya yang berkorban kayak gini, kerja mati-matian jadi tulang punggung keluarga itu kakak, bukan aku!”
Tak pelak jika Titian berulang kali berpikir untuk benar-benar mati. Bunuh diri. Lebih-lebih ia mengaku sempat menemukan pelampiasan rasa sakit dengan cara menyakiti diri sendiri (menyayat benda tajam lengan dan kaki).
Bahkan ia mengaku pernah berupaya menggorok leher sendiri. Saking tak tahannya dengan hidup yang ia jalani. Hanya saja, ketika baru tercipta goresan tipis, Titian malah menangis tergugu. Tiba-tiba muncul perasaan aneh: Ingin mati, tapi takut berdosa karena melalui jalur bunuh diri.
“Aku pengin egois, pergi dari rumah, nggak peduli rumah lagi. Tapi di situ ada ibu dan ayah, yang masih butuh aku,” kata Titian.
Untung ada teman-teman yang membuat waras
Untungnya, Titian punya beberapa teman baik–semasa SMA–yang masih terhubung.
Di tengah kesibukan kuliah mereka, mereka masih menyempatkan waktu untuk mengajak Titian nongkrong. Mempersilakan Titian untuk bercerita banyak hal. Khususnya soal luka-lukanya.
“Aku juga sering nginep di rumah salah satu temenku. Itu biasanya di akhir-akhir bulan. Biar sisa duitku nggak dipalak kakak,” ujar pekerja Surabaya itu. “Walaupun kalau nginep begitu, ibu pasti nelepon terus. Tapi hp sengaja kumatikan.”
Pasalnya, pernah satu momen Titian mengangkat telepon. Alih-alih bertanya Titian di mana dan kenapa, tapi sang ibu malah bertanya Titian di mana karena kakaknya ngamuk di rumah minta uang. Sementara sang ibu tidak pegang uang untuk diberikan.
Apalagi, setelah mengikuti saran teman-temannya untuk rutin ke Psikiater, Titian mencoba menyisihkan uang untuk konsultasi. Sehingga ia perlu menjaga betul sisa-sia duitnya. Tapi setidaknya itu membuatnya sedikit agak waras.
“Ya walaupun aku masih susah tidur. Obat sesuai dosis masih nggak mempan. Tapi aku mensyukuri perkembangan diriku yang berhenti self harm,” tutupnya.
Titian meminta saran pada teman-teman pembaca Mojok, barangkali ada insight untuknya untuk menjalani hari-hari yang terasa suram di hidupnya. Sampai kapan? Apakah alasan bertahan hidup demi ibu dan ayah itu cukup untuk bertahan sedikit lebih lama?
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
