Krian Sidoarjo Punya Sudut yang Diromantisasi bak Venezia Italia, tapi Norak dan Malu-maluin

Romantisasi Flyover Krian Sidoarjo Bikin Malu sekaligus Prihatin MOJOK.CO

Wisata flyover Krian Sidoarjo bikin macet

Sementara Febri (26) lebih menyoroti soal kemacetannya. Febri yang saat ini masih sering PP Krian-Surabaya untuk kerja agak mempertanyakan: apakah memang penggunaan area bawah flyover Krian Sidoarjo tersebut sudah berizin atau belum?

Sejauh ini, ia belum menemukan ada berita yang mengangkat penertiban di sana. Setiap malam ada saja yang ke sana untuk nongkrong-nongkrong. Terlebih kalau di malam Minggu.

“Nah, kalau malam Minggu itu malah semrawut aja jadinya. Jadi kayak di Vrindavan karena klakson bersahut-sahutan,” ungkapnya.

Di luar urusan itu, Febri mencoba maklum. Sebab, orang-orang kelas pekerja menengah bawah di Sidoarjo memang tak punya banyak pilihan hiburan.

“Kalau orang-orang kaya mungkin bisa ke mal. Atau ke mana lah. Kalau orang-orang urban ini, mau ke mana? Gaji dari kerja buat bertahan hidup,” sambungnya.

Oleh karenanya, bisa “wisata” di flyover Krian saja sudah cukup. Yang penting bisa mengajak anak istri keluar rumah, melihat lampu-lampu kota, makan bareng meski hanya dari makanan kaki lima.

Sering saat melintas, Febri melihat sebuah keluarga tengah duduk lesehan di bawah flyover Krian. Mereka tampak semringah. Anak mereka yang masih kecil juga tampak ceria, mencecap jajanan dan segelas es (mungkin Pop Ice) yang dibelikan oleh bapaknya.

“Setidaknya flyover Krian memberikan tempat bagi orang-orang pinggiran merasakan “wisata keluarga”,” tutup Febri.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Wisata Kota Lama Surabaya Kelewat Diromantisasi, Bisa Berakhir kayak Jalan Tunjungan yang Makin Nggak Menarik

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2024 oleh

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version