Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Selamat Datang, Post-Truth: Era di Mana Influencer Problematik Promotor Judol Lebih Dipercaya Ketimbang Ahlinya Ahli

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Era post-truth telah membunuh kepakaran. Ia juga menyamarkan kebenaran. Hal inilah yang menjelaskan mengapa warganet lebih mudah percaya omon-omon Nikita Mirzani ketimbang argumen Najwa Shihab.

***

Nikita Mirzani mengambil alih panggung. Videonya yang berisi “surat terbuka” untuk Najwa Shihab ramai di berbagai kanal media sosial. 

Di TikTok, misalnya, video itu FYP dan sudah ditonton jutaan kali. Di Instagram, penampakan sang influencer yang “menyerang” Najwa secara bertubi-tubi kerap muncul di fitur explore.

@ekspresiseleb88 Tanggapan NM soal Najwa Shihab bilang Jokowi nebeng 😩 #nikitamirzani #ekspresiseleb ♬ original sound – Bima_studio😳


Sebagai orang yang paham rekam jejak Nikita Mirzani, begitu juga Najwa Shihab, saya tak begitu mempermasalahkan video itu. Bagi saya, kebisingan adalah keniscayaan dari demokrasi. Namun, yang mengusik pikiran saya adalah respons warganet.

Bagaimana tidak, banyak netizen yang bersepakat dan bahkan mendukung pernyataan Nikita daripada Najwa Shihab. Padahal, argumen yang dibawa Nikita lebih banyak omon-omon, daripada Najwa yang bicara dengan berbasis data.

Sebagai informasi, Nikita Mirzani menyerang Najwa Shihab gara-gara sang jurnalis menyentil Presiden RI ke-7 Joko Widodo perihal “nebeng” pesawat TNI AU ke Solo saat purnajabatan.

Setelah menyaksikan berbagai respons warganet yang sepakat dengan Nikita–dan menyerang Najwa, sontak saya teringat dengan buku yang saya baca 2020 lalu. Judulnya Matinya Kepakaran (2019) karya Tom Nichols. Pendeknya, buku itu membahas soal fenomena post-truth yang bikin omongan influencer justru lebih didengar dan dipercaya ketimbang argumen para expert (ahli).

Era media sosial “membunuh” kepakaran

Saya ingat, dalam Matinya Kepakaran, Tom Nichols menyoroti betapa di era media sosial ini, audiens lebih mendengarkan suara para micro-celebrity alias influencer alih-alih mengacu para ahli yang jelas-jelas lebih punya kompetensi.

Selamat Datang, Post-Truth: Era di Mana Influencer Problematik Promotor Judol Lebih Dipercaya Ketimbang Ahlinya Ahli.MOJOK.CO
Ilustrasi ‘Matinya Kepakaran’ (2019) karya Tom Nichols (sumber: Gramedia)

Dahulu, misalnya, untuk membicarakan sebuah isu, baik itu politik, kesehatan, dan lain sebagainya, dibutuhkan sebuah kepakaran. Artinya, untuk membicarakan suatu hal, dibutuhkan kompetensi. Sementara kompetensi sendiri diperoleh melalui pembelajaran.

Sementara saat ini, untuk berbicara soal isu tertentu, tak butuh yang namanya kepakaran. Cukup omon-omon saja. Fenomena ini jamak kita saksikan saat pandemi Covid-19. Kala itu, ada banyak influencer yang bersuara ngawur soal virus Corona. Celakanya, suara mereka lebih dipercaya daripada para ahli virus yang jelas-jelas lebih kompeten untuk membicarakannya.

Dosen Komunikasi Universitas Airlangga, Irfan Wahyudi, menyebut fenomena post-truth terjadi karena akses penggunaan teknologi semakin terbuka. Menurutnya, hal ini pun membawa perubahan lanskap yang cukup signifikan pada budaya manusia.

“Dahulu, tidak semua orang bisa berbicara. Setelah ada medsos, akses teknologi-informasi semakin bebas dan terbuka, semua orang bisa bicara apa saja,” jelas Irfan saat Mojok hubungi, Rabu (30/10/2024).

Alhasil, kata Irfan, dari gejala inilah yang disebut Tom Nichols sebagai “matinya kepakaran” tadi memasuki eranya. Di zaman sekaran, seseorang pada akhirnya dipercaya bukan karena keahlian atau kepakarannya, melainkan karena pengaruhnya yang besar di media sosial. 

Iklan

“Semakin banyak follower, semakin banyak subscriber, dan semakin lantang bicara di medsos, semakin dia disimak dan dipercaya,” ujarnya.

Rezim algoritma bikin warganet percaya pada kebenaran semu

Fenomena warganet yang lebih percaya pada omongan Nikita Mirzani alih-alih argumen berbasis data Najwa Shihab, bagi Irfan, adalah konsekuensi logis dari era post-truth. 

Selamat Datang, Post-Truth: Era di Mana Influencer Problematik Promotor Judol Lebih Dipercaya Ketimbang Ahlinya Ahli.MOJOK.CO
Bagi Irfan Wahyudi, influencer lebih didengarkan daripada pakar adalah konsekuensi logis dari post-truth (dok. UNAIR)

Apalagi, hari ini masyarakat hidup di masa rezim algoritma. Preferensi kebenaran yang mereka percaya bukan lagi berdasarkan data-data valid, melainkan seberapa sering mereka terpapar oleh sebuah konten.

“Dalam bahasa komunikasi, ada yang nama echo chamber dan filter bubble. Di era media sosial, kita hidup dalam gelembung kita masing-masing,” jelas Irfan.

“Mudahnya begini, ketika kita like salah satu postingan, maka konten sejenis akan selalu muncul di algoritma kita, karena memang mesin membaca itulah preferensi kita. Nah, saking seringnya terpapar, pada akhirnya kita percaya bahwa itu adalah kebenaran.”

Apalagi, Irfan memahami bahwa literasi digital masyarakat Indonesia masih rendah. Alhasil, mereka jadi sulit memfilter informasi mana yang valid dan mana yang bohong–karena minimnya kemampuan check dan recheck.

“Apalagi yang bicara influencer populer dan mereka senangi. Apapun yang yang dibicarakan, akan mudah bagi audiens untuk percaya,” kata Irfan.

Post-truth itu ancaman besar, tapi sekaligus keniscayaan

Irfan menjelaskan bahwa gejala post-truth yang membunuh kepakaran, akan berdampak negatif dalam konteks kehidupan sosial budaya. Bagi dia, dengan kecenderungan orang lebih mempercayai influencer ketimbang ahli, bakal mengaburkan sebuah fakta yang sebenarnya..

Lebih jauh, distribusi misinformasi dan berita bohong akan membanjiri warganet. Dampak lebih mengerikannya masyarakat akan mudah dipecah belah. 

“Karena buta realitas, tak bisa membedakan kebenaran dan kebohongan, masyarakat akan mudah dipecah belah,” jelasnya.

“Makanya, hari ini siapa yang bisa menguasai dan memonopoli teknologi-informasi, dia yang akan menguasai kebenaran kita,” sambungnya.

Kendati punya dampak mengerikan, Irfan juga menggarisbawahi bahwa fenomena matinya kepakaran akibat post-truth tak cuma kejadian di Indonesia. Di belahan dunia lain, fenomena serupa juga terjadi meski dengan level yang berbeda. Artinya, apa yang terjadi dalam fenomena Nikita Mirzani vs Najwa Shihab hanyalah gambaran kecil dari besarnya kebenaran-yang-samar dan kepakaran-yang-mati.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Iklan Judi Online Nikita Mirzani Itu Ganggu Banget, tapi Siapa yang Berani Melawan?

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2024 oleh

Tags: matinya kepakaranNajwa ShihabNikita Mirzaninikita mirzani vsa najwa shihabpasca-kebenaranpost truthtiktok
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO
Eksplor

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO
Eksplor

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO
Esai

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
Open Donasi Bodong Mengeksploitasi Kemiskinan MOJOK.CO
Catatan

Gara-Gara Kapitalisme, Kita Lebih Mudah Nyawer Gift TikTok atau Berdonasi Online daripada Membantu Tetangga yang Susah

22 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.