ADVERTISEMENT

Proyek Kereta Cepat Whoosh Terlalu Eksklusif, Cuman bikin KAI dan Rakyat Menderita

Kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh. MOJOK.CO

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh ibarat bom waktu yang “menghancurkan” negara. Utangnya merugikan empat BUMN Indonesia, termasuk KAI. Bahkan, tak terkecuali bagi penumpang setia kereta api selain Whoosh yang merasa kena imbasnya.

Penumpang pilih naik Whoosh karena terpaksa

Jika tidak karena terpaksa, Surya* (37) tidak akan mau jadi pengguna kereta cepat alias Whoosh. Pemuda asal Jakarta tersebut mau tidak mau harus menggunakan Whoosh untuk urusan pekerjaan di Bandung. Terutama saat tiket kereta api Parahyangan terlanjur habis.

“Aku rutin minimal sebulan sekali pakai Whoosh yang kelas ekonomi premium, walaupun sebenarnya aku lebih suka naik Parahyangan,” kata Surya saat dihubungi Mojok, Rabu (10/9/2025).

Surya tak menampik jika kecepatan Whoosh lebih unggul dibanding kereta eksekutif, karena memang itu esensinya. Saking cepatnya, ia bahkan merasa sedang naik wahana di taman bermain. Tidak seperti naik transportasi pada umumnya.

Hanya saja, ia merasa jadwal keberangkatan kereta api Parahyangan jadi berkurang, sehingga ia selalu kehabisan tiket. Padahal kalau mau jujur, ia lebih suka naik Parahyangan karena tidak harus transit.

“Kalau pakai Whoosh, aku harus nyambung naik kereta feeder dari Padalarang ke Bandung yang durasinya hampir 20 menit. Ya ngapain kan? Jadi tidak sesuai dengan esensi naik kereta api itu sendiri,” kata Surya.

Harga tiket sebetulnya tak lebih murah

Tiket kereta api eksekutif Parahyangan memang lebih murah dibandingkan Whoosh, meski Surya harus menempuh waktu perjalanan selama hampir tiga jam. Sedangkan, dengan kereta Whoosh, ia bisa sampai ke Bandung hanya dengan waktu kurang lebih satu jam.

Namun, Surya tak terlalu soal karena harga tiket eksekutif Parahyangan masih diangka Rp176 ribu atau Rp165 ribu tergantung jam. Sayangnya, Surya selalu kalah war tiket sehingga yang tersisa hanyalah tiket-tiket kelas elit

Misalnya, tiket kereta api Parahyangan Luxury yang punya jadwal keberangkatan sama dengan eksekutif Parahyangan tapi harganya sudah Rp424 ribu. Lalu, Parahyangan Fakultatif seharga Rp220 ribu atau Parahyangan Panoramic seharga Rp600 ribu.

Melihat situasi yang mendesak karena tidak ada pilihan lain, Whoosh menjadi opsi yang paling menggiurkan bagi Surya. Selain karena harganya tak jauh beda dengan tiket yang tersisa, Whoosh juga punya waktu tempuh yang lebih cepat. Melansir dari laman resmi KCIC, harga tiket Whoosh berkisar antara Rp250 hingga Rp350 ribu, tergantung jadwal keberangkatan.

“Aku nggak apa banget naik Parahyangan tapi aku merasa jadi ‘tangan di atas’. Ya kali aku naik kereta dengan teknologi canggih seperti Whoosh bayarnya nggak sampai Rp500 ribu,” kata Surya.

Baca Halaman Selanjutnya

Operasional kereta lain jadi terdampak

Terakhir diperbarui pada 10 September 2025 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version