Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Hari-hari “Sesak” Penambang Pasir di Sungai Gajahwong, Bergumul dengan Air Keruh demi Hidupi Keluarga

Khatibul Azizy Alfairuz oleh Khatibul Azizy Alfairuz
17 Agustus 2025
A A
Hartono (54), seorang penambang pasir di bantaran Sungai Gajahwong dan tinggal di Kampung Ledhok Timoho, Jogja. MOJOK.CO

Penambang pasir di Sungai Gajahwong, Jogja. (Foto: Khatibul Azizy Alfairuz/Mojok.co) 

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di bantaran Sungai Gajahwong yang membelah Kota Jogja dengan Bantul, terdapat orang-orang yang bergantung pada sungai tersebut untuk mencari penghidupan. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di Kampung Ledhok Timoho. Tepatnya di Kecamatan Umbulharjo, Kota Jogja yang bahkan sudah hidup lebih dari 12 tahun lamanya.

***

Jumat (08/08/2025) pagi itu, saya penasaran dengan kehidupan warga Kampung Ledhok Timoho di tengah hiruk pikuk Kota Jogja. Untuk memasuki kampung tersebut, saya harus melewati sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu arah oleh sebuah motor.

Saya tiba tak terlalu pagi, sehingga sudah tidak banyak orang yang berangkat kerja. Namun, sesekali saya melihat bentor maupun driver ojek online yang baru bersiap pergi mencari nafkah. Lalu, tepat di ujung lorong, terdapat sebuah tulisan “Kampung Ledhok Timoho, Sekolah Gajahwong”. 

Saya juga memperhatikan rumah-rumah di sana. Sebuah bangunan yang tampak sederhana, tapi juga banyak makna. Tak jarang saya melihat beberapa temboknya dihias dengan berbagai macam lukisan. 

Akhirnya, saya mendapati sebuah jembatan di kampung itu. Dari atas, saya melihat seorang pria  sedang menyelam di Sungai Gajahwong. Saya kemudian turun untuk melihat lebih dekat. Ia muncul dari air, wajahnya berkilat oleh keringat dan percikan sungai. Di tangannya, sekop kecil meneteskan pasir basah. Beratnya seolah bertambah di setiap langkahnya menuju tepi. 

12 tahun hidup di bantaran Sungai Gajahwong

Namanya Hartono. Dengan wajah yang mulai dipenuhi garis usia, ia tersenyum pelan saat bercerita tentang kehidupannya di Kampung Ledhok Timoho, Jogja. Laki-laki berusia 54 tahun itu sudah tinggal di sana sekitar 12 tahun. Sehari-hari, ia mengais rezeki dari pasir Sungai Gajahwong.

Sebelum kerja menjadi penambang pasir, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan. Lalu, sempat bekerja di dunia hiburan sebagai kru konser. Tak lama setelah itu, ia berhenti karena jam kerjanya yang tak karuan.

Gang di Kampung Kampung Ledhok Timoho. MOJOK.CO
Lorong sempit menuju Gang di Kampung Kampung Ledhok Timoho, Jogja. (Foto: Khatibul Azizy Alfairuz/Mojok.co)

“Dulu, saya menyiapkan konser Mas. Jadi nggak pernah pulang, dua-tiga bulan di jalan terus. Pas pulang, belum lama, udah ditelepon bos, suruh berangkat lagi,” ujarnya saat ditanyai di sela-sela istirahat.

Lebih dari itu, istrinya juga melarang sebab ia jadi jarang di rumah. Tak ada waktu untuk keluarga, terutama bagi anaknya yang masih kecil.

Sesuatu yang berharga dari keruhnya air Sungai Gajahwong

Sungai Gajahwong memang jauh dari kata bersih. Airnya berwarna kecokelatan dengan sampah-sampah yang tersangkut di tepi. Namun, Hartono tak menganggap itu masalah. 

“Ya sudah terlanjur begini. Palingan ya saya olesi minyak tanah. Kalau nggak, bisa gatal-gatal nanti,” ujarnya.

Di usianya yang tak lagi muda, Hartono tidak berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Ia bisa disebut orang pertama yang mencoba peruntungan menambang pasir di sungai ini. Dahulu ada empat orang yang ikut, tapi kini hanya ia seorang yang masih bertahan.

“Saya juga gumun (heran). Nggak ngerti gimana kok akhirnya malah nyemplung kerja nambang ini,” ujar Hartono tersenyum, sambil mengusap pelan lututnya dengan tangannya yang kasar.  

Iklan

Namun, semua itu ia lakoni dengan lapang dada. Biasanya, ia sudah bersiap menambang dari pukul 05.00 WIB atau 07.00 WIB. Lalu, baru istirahat sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah itu, ia pulang untuk menjemput anaknya dan berangkat lagi ke Jalan Taman Siswa untuk bekerja sebagai tukang parkir.

Tak selalu untung di setiap musim

Salah satu penambang pasir. MOJOK.CO
Hartono (54), penambang pasir di bantaran Sungai Gajahwong. (Foto: Khatibul Azizy Alfairuz/Mojok.co)

Musim kemarau seperti di bulan Agustus ini, memaksa Hartono tak menyelam terlalu dalam. Harus sekitar satu setengah meter, agar ia tidak terseret arus Sungai Gajahwong. Paling tidak, usahanya bisa menghasilkan 20 sampai 30 karung pasir.

Sebaliknya, Hartono justru gembira saat musim penghujan datang. Meskipun air naik dan arus bertambah deras, penghasilannya bakal bertambah banyak dibanding biasanya.

“Kalau musim hujan bisa sampai 50 karung,” tutur Hartono sambil menepuk-nepuk karung yang sudah terisi. Setiap karung beratnya bisa mencapai 30 kilogram yang dijual seharga Rp10 ribu per karung.

Namun, tak semua karung itu dapat langsung dijual. Belakangan ini pasar sedang sepi, tak banyak toko material yang mau membeli pasirnya. Menurut Hartono, salah satu alasanya karena sedang musim awal ajaran baru sekolah.

“Mungkin banyak yang lebih memilih bayar buat seragam sama SPP sekolah anaknya,” kata dia.

Mereka yang menaruh harapan dari barang-barang bekas

Selain Hartono sebagai penambang pasir di Sungai Gajahwong, saya juga berbincang dengan Rifai (72). Ia mengenang masa-masa waktu pertama kali datang ke kampung Ledhok Timoho ini. Rifai bukan warga asli. Ia adalah pendatang dari Mojokerto, Jawa Timur. 

Sejak tinggal di Ledhok Timoho, ia melihat peluang untuk menjual kembali barang-barang yang dipungut para pemulung. Kampung ini memang dulunya dikenal dengan sebutan “kampung pemulung”, karena sebagian besar warganya mencari nafkah dari pekerjaan tersebut. Sebagian pemulung itu kerap menjual hasil pungutannya kepada Rifai. Barang-barang yang masih layak pakai ia pilah, lalu dijual kembali.

Salah satu penambang pasir. MOJOK.CO
Salah satu penambang pasir di bantaran Sungai Gajahwong. (Foto: Khatibul Azizy Alfairuz/Mojok.co)

“Ya barang-barang bekas gitu, mulai dari ban, kertas, plastik, kuningan, koran,” ujarnya.

Saat bekerja sebagai pengepul barang bekas, anak laki-laki pertamanya sering membantu Rifai berjualan. Putra kecilnya itu tak malu menawarkan kumpulan barang bekas yang sebelumnya Rifai peroleh ke orang-orang yang melintas di flyover.

Justru, berkat pekerjaannya yang dianggap memalukan bagi orang di sekitarnya, Rifai mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perkuliahan.

“Ya itu anak saya pada memilih kerja di luar pulau. Yang perempuan, kemarin baru saja lulus kuliah, di UAD,” kata Bapak dengan tiga orang anak tersebut.

Hanya saja, pekerjaan itu tak Rifai lanjut sejak tahun 2015. Ia harus bergelut dengan penyakit jantung yang menimpanya. Membuat dia tak lagi mampu bekerja seperti dulu.

Kini, Rifai hanya bisa menikmati masa tuanya. Istrinya yang setiap hari bekerja sebagai pengemudi ojek online menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan, dibantu sesekali oleh anak-anak mereka. 

Penulis: Khatibul Azizy Alfairuz

Editor: Aisyah Amira Wakang

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Mojok periode Juli-September 2025

BACA JUGA: Kalimati Bantul, Kampung Kumuh di Tengah Gemerlap Pariwisata Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2025 oleh

Tags: BantulJogjakampung pemulungpenambang pasirsungai gajahwongumbulharjo
Khatibul Azizy Alfairuz

Khatibul Azizy Alfairuz

Artikel Terkait

Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO
Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO
Otomojok

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.