Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas

Ilustrasi Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas. (Mojok.co)

Dari tahun ketahun, titik banjir atau genangan banjir di Yogyakarta makin banyak. Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas makin sering terjadi gara-gara banyaknya jalan berlubang di Jogja. Julukan “Jogja Berhati Nyaman” kelihatannya sudah berganti menjadi “Jogja Berhenti Nyaman”.

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial ramai mengabarkan soal banjir di Ring Road Utara, tepatnya depan kampus UPN Veteran Yogyakarta. Itu terjadi saat hujan deras melanda Yogyakarta Minggu (25/2/2024). Genangan air tersebut kembali terjadi saat hujan deras melanda pada (28/2/2024). 

Di media sosial juga beredar video motor-motor dan pengendaranya yang ‘kintir’ saat banjir melanda kawasan Jalan Candi Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Kepada wartawan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan banjir di Jalan Raya Candi Gebang penyebabnya karena drainase yang tersumbat. 

Akibatnya air tidak bisa masuk ke gorong-gorong dan tumpah ke jalan. Aliran air yang deras menyebakan aspal mengelupas dan menyebabkan jalan berlubang. 

Kecelakaan karena jalan berlubang di jalan desa beraspal

Seorang guru di Sleman, Zaki (25) merasakan sendiri menjadi korban kecelakaan tunggal gara-gara jalan berlubang. “Saya mencoba menghindari jalan berlubang, tapi jalannya kan berpasir jadi saya jatuh. Ini sudah mulai sembuh,” katanya kepada Mojok, Rabu (28/2/2024). 

Zaki yang warga Donoharjo, Ngaglik, Sleman mengatakan meski lokasi ia mengalami kecelakaan tergolong jalan desa, tapi ia melihat ada yang salah dalam perbaikan jalan-jalan di Jogja. 

“Jalan nasional, jalan provinsi, Jalan kabupaten, jalan desa kan itu kewenangan masing-masing, tapi saya lihat jalan berlubang ini banyak di Jogja,” katanya.

Menurut Zaki salah satu jalan yang ia sering lewati adalah Jalan Palagan. Di jalan tersebut, ia melihat ada hal yang tidak pas dalam perbaikan jalan. “Jalan yang diaspal ulang malah jalan yang masih bagus, tapi ada jalan-jalan yang berlubang malah tidak diperbaiki,” ujarnya. 

Menurut Zaki ia melihat tidak ada langkah yang dari pengambil kebijakan, apakah itu pengelola jalan nasional, jalan provinsi, atau jalan kabupaten untuk membuat pemetaan dalam perbaikan jalan. Harusnya dengan pemetaan tersebut perbaikan jalan bisa tepat penanganannya.

Soal banyaknya titik banjir yang muncul di Yogyakarta, Zaki menilai bukan semata-mata salah pemerintah. Ia melihat justru masyarakat harus peduli dengan lingkungannya. “Setelah penutupan TPST Piyungan, masyarakat kan banyak yang buang sampah sembarangan,” kata Zaki. Masyarakat yang membuang sampah sembarangan itu menurutnya menjadi salah satu sebab drainase tersumbat sehingga terjadi banyak titik genangan air. 

Jogja berhenti nyaman karena jalan berlubang dan kecelakaan

Soal kondisi berlubang ini memang menjadi persoalan gawat di Yogyakarta. Beberapa waktu lalu, Mojok pernah mengangkat liputan bagaimana lubang di Jalan Gedongan – Klangon mencabut nyawa seorang ibu muda yang sedang pulang kerja pada Jumat (2/2/2024). Ruas Jalan Gedongan-Klangon, Jalan Pencabut Nyawa di Sleman yang Memakan Korban Jiwa Ibu Muda.

Korban yang bernama YL terjatuh saat menghindari lubang di ruas Jalan Gedongan – Klangon, Kapanewon Moyudan,. Namun, naas ia kemudian tertabrak kendaraan yang datang dari arah berlawanan.  

Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas MOJOK.CO
Lubang jalan di Jalan Raya Candi Gebang selepas tergerus air. (BPBD Sleman)

Kapolsek Moyudan AKP Bowo Susilo SH kepada Mojok di ruang kerjanya mengatakan, ruas Jalan Gedongan – Tempel terutama sampai perempatan Klampis jalannya memang sempit, bergelombang dan banyak berlubang, sehingga kalau hujan airnya menggenang, dan lubang tidak kelihatan.

“Satu lagi, Jalan Gedongan Klangon, penerangannya kurang. Kalau malam jalannya gelap. Sudah jalannya rusak, gelap, jadi kerawanan pasti meningkat,” ujarnya. Kondisi ini tentu bukan sekadar membuat Jogja berhenti nyaman, tapi mengancam jiwa.

Mahasiwa UNY Lidia (22) sepakat bahwa Yogyakarta seperti berhenti nyaman karena banyaknya jalan-jalan yang berlubang. “Paling takut itu naik motor pas hujan terus jalannya banjir, kita nggak tahu ada lubang atau nggak,” ujarnya, Rabu (28/2/2024).

Selain Jalan Gedongan Klangon, salah satu jalan di Yogyakarta yang juga banyak keluhan adalah Jalan Godean. Saya sendiri yang sering melewati jalan ini malam hari harus ekstra hati-hati, apalagi saat kondisi hujan. 

Anggota DPRD DIY, Muhammad Yazid memberikan julukan “jalur neraka” pada Jalan Godean karena banyaknya lubang di jalan ini.

“Jalan Godean ini sudah menjadi jalur neraka. Banyak korban berjatuhan. Dua hari lalu, ada tiga kejadian kecelakaan lalu lintas. Satu orang pengendara diketahui meninggal,” ucap anggota Komisi C DPRD DIJ Muhammad Yazid pada Radar Jogja pada Selasa (17/1/2023) silam.

Tahun 2024, belum jelas perbaikan Jalan Godean

Anggota legislatif ini sering mendapat pengaduan terkait kondisi jalan sepanjang 15,6 kilometer tersebut. Aduan itu kerap disampaikan saat jumpa langsung dengan masyarakat maupun lewat pesan WhatsApp. Salah satu area yang ia soroti ada ruas antara Jalan Godean hingga Jembatan Ngapak yang sudah bertahun-tahun tidak mendapat perbaikan.

Mengenai Jalan Godean, setelah mendapat banyak sorotan termasuk di media sosial, Kepala Dinas PUP ESDM DIY Anna Rina Herbranti akhirnya angkat suara. Pada 2023, pihaknya akan melakukan perbaikan ruas Jalan Godean sepanjang 1,5 kilometer.

Perbaikan jalan tersebut akan dilakukan dengan mengganti pondasinya. Hal itu lantaran upaya penambalan rutin selalu cepat rusak kembali.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) Pemda DIY, Kwaryantini Ampeyanti Putri mengatakan, selama tahun 2023 yang mereka lakukan di Jalan Godean sebatas pemeliharaan rutin karena anggaran yang terbatas. Untuk perbaikan jalan di Jalan Godean memerlukan anggaran Rp7 miliar per kilometer. Sedangkan anggarannya saat ini Rp1,8 miliar sehingga yang bisa dilakukan adalah pemeliharaan saja.

Hingga awal tahun 2024, belum jelas apakah Jalan Godean masih akan menggunakan skema perbaikan seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekadar menambal saja. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Keluh Korban Jalan Rusak di Jalur Neraka Yogyakarta: Ibu Saya Harus Opname 3 Hari

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version