Jumat malam, ia masih menatap layar komputer kantornya, mengotak-atik angka di Excel yang tak ada habisnya. Sabtu siang, tangannya sudah sibuk memukul balon tepuk sambil meneriakan chant “Indonesia… Indonesia!” di Istora.
Itulah yang dilakukan Selvi (27), seorang staf keuangan yang berkantor di kawasan Jakarta Pusat. Ditemui Mojok pada Sabtu (24/1/2026), ia mengaku menjadi pribadi yang berbeda ketika memijak lantai Istora Gelora Bung Karno, Senayan, siang itu.
Tidak ada lagi penat dan stres akibat deadline pekerjaan atau target KPI yang menghantui. Yang ada hanyalah adrenalin, yang terpacu setiap kali shuttlecock melesat di udara, diiringi gemuruh ribuan manusia yang memadati venue turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Bagi Selvi, dan mungkin ribuan pekerja Jakarta lainnya, Istora bukan sekadar gelanggang olahraga. Di tengah himpitan tenggat waktu dan tuntutan korporasi yang mencekik, arena ini bermetamorfosis menjadi tempat untuk menepi sejenak dari pusingnya pekerjaan. Bahasa anak sini: healing.
“Seminggu dikejar-kejar target. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Pokoknya stres deh. Nah, weekend waktunya healing,” katanya, yang siang itu mengaku datang seorang diri.
Menyaksikan sesuatu yang disukai adalah “ritual” penyembuhan
Bulu tangkis bukanlah sesuatu yang asing bagi Selvi. Ia mengaku tak sekadar gemar nonton pertandingan bulu tangkis, tapi juga sesekali bermain.
Saat masih SMA, ia mengaku kerap menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan bulu tangkis. Bahkan, beberapa kali juara. Namun, ia memang tak pernah kepikiran buat terjun ke level profesional.
“Sadar diri aja sih sama kemampuan. Banyak yang lebih jago,” akunya sambil tertawa.

Alhasil, kini, ia memutuskan menjadi penonton saja. Ia nyaris tak pernah melewatkan tayangan-tayangan turnamen bulu tangkis, apalagi kalau ada perwakilan Indonesia, di TV maupun Youtube.
Sementara kalau ada kesempatan nonton langsung ke arena, seperti Indonesia Masters 2026 ini, sudah dipastikan dia bakal datang.
“Udah nggak inget ya ini sudah berapa kali ke Istora, soalnya emang sering.”
Dengan demikian, datang ke Istora hari ini benar-benar menjadi katarsis baginya setelah seminggu dihajar pekerjaan. Hingga tulisan ini ditayangkan salah satu atlet Indonesia dari kategori tunggal putra, Alwi Fahran, berhasil lolos ke final setelah mengalahkan wakil Taiwan Chi Yu-jen, 21-11 dan 21-12.
“Kayak orang sukanya musik, healing-nya ke konser. Kalau suka badminton ya healing ke sini. Apalagi lihat Indonesia menang.”
Tempat melepas penat yang memang dibutuhkan pekerja urban
Apa yang dialami Selvi merupakan potret nyata kebutuhan masyarakat urban, seperti Jakarta, akan apa yang disebut sosiolog Ray Oldenburg sebagai “tempat ketiga” (third place).
Oldenburg, kira-kira ngomong begini: “Kalau rumah adalah tempat pertama, dan kantor adalah tempat kedua, maka manusia membutuhkan ruang lain untuk berinteraksi dan melepas penat yang disebut tempat ketiga.”
Dalam konteks urban Jakarta, pusat rekreasi seperti Istora Senayan mengisi kekosongan tersebut. Oldenburg menyebut karakteristik third place sebagai “leveler” atau penyeimbang, di mana status sosial seseorang tidak lagi relevan.
Saya menyaksikan sendiri fenomena ini. Sejak hari pertama, Selasa (20/1/2026) hingga saya mengobrol dengan Selvi hari ini, penonton yang datang berasal dari berbagai lapisan. Ada pekerja kantoran seperti Selvi, mahasiswa, hingga direktur perusahaan, bahkan driver ojek online.
“Kalau sudah di tribun kita nggak tahu ya samping kita siapa aja. Tahunya euforia bareng aja,” kata Selvi.
Kebutuhan akan third place ini memang mendesak mengingat tekanan kerja di Ibu Kota yang kian ekstrem. Data Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat peningkatan jam kerja di Jakarta mencapai rata-rata 32 jam per minggu.
Lebih mengkhawatirkan lagi, studi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menempatkan Indonesia di posisi ketiga sebagai negara dengan keseimbangan kerja dan kehidupan (work-life balance) terburuk, dengan angka ketimpangan mencapai 14,3 persen.
Kondisi ini dikonfirmasi oleh studi mengenai karyawan di Jakarta yang menunjukkan korelasi kuat antara stres kerja dan kelelahan mental atau burnout. Tekanan pekerjaan yang menumpuk, tanpa adanya pelepasan emosional, terbukti menurunkan kualitas hidup secara drastis.
Di titik didih inilah, teriakan lantang mendukung atlet favorit di Istora menjadi katarsis.
Datang ke Istora sebagai self-reward
Selain Selvi, saya juga menemui Riyo (32), seorang karyawan swasta yang berkantor di Jakarta Barat. Ia mengaku merasakan hal serupa.
Bedanya dengan Selvi, Riyo datang bersama rombongan teman kantornya. Ia menyebut kehadirannya di Istora sebagai self-reward atau penghargaan untuk diri sendiri.
“Bagi saya ini sih pelarian terbaik setelah seminggu sibuk kerja. Dekat, murah, aksesibel, dan bisa menyaksikan atlet terbaik dunia,” ungkap Riyo, Sabtu (24/1/2026). “Makanan juga enak-enak,” imbuhnya sambil tertawa.
Uniknya, Riyo mengetahui jadwal turnamen ini justru karena beberapa atasannya mengambil cuti di hari kerja demi menonton pertandingan babak awal. Sebagai staf biasa, Riyo memilih “main aman” dengan menikmati pertandingan di akhir pekan saja.
“Kita mah nontonnya akhir-akhir aja ya kan, pas udah akhir pekan. Syukur-syukur, besok ada perwakilan Indonesia yang lolos final biar semangat nontonnya.”
Menurut Riyo, self-reward merupakan hal yang penting bagi seorang pekerja. Apalagi pekerja Jakarta yang ritme kerjanya gila-gilaan. Bagi dia, konsep ini bisa dilakukan dalam berbagai hal. Bisa hal kecil, maupun besar.
“Self-reward nggak perlu muluk-muluk, datang ke acara ini sudah cukup bikin stres ilang. Ya meskipun nanti Senin stres lagi ya,” ujarnya, tertawa.
“Terapi massal” di tribun Istora
Apa yang dirasakan Riyo dan Selvi, bahkan mungkin penonton lain, bukan sekadar sugesti. Secara ilmiah, hadir dalam ajang olahraga langsung (live sporting events), seperti Indonesia Masters 2026 ini, memang terbukti berdampak positif bagi kesehatan mental.
Studi yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health (NIH) mengungkapkan bahwa menonton pertandingan olahraga secara langsung dapat meningkatkan kepuasan hidup (life satisfaction) dan perasaan bahwa hidup lebih bermakna.
“Lebih dari itu, interaksi sosial yang terjadi di tribun secara efektif mengurangi rasa kesepian,” jelas laporan tersebut.
Bagi pekerja Jakarta yang seringkali terisolasi dalam padatnya jadwal ngantor, atau terjebak kemacetan di jalanan Ibu Kota, perasaan menjadi bagian dari ribuan orang yang memiliki satu tujuan–mendukung atlet Indonesia–adalah obat mujarab.
Dalam konteks ini, Istora menawarkan apa yang disebut sebagai passive sports engagement. Meskipun penonton tidak berkeringat mengejar shuttlecock, keterlibatan emosional dan interaksi sosial di tribun menciptakan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang kuat.
Daya magis “neraka” Istora
Daya magis Istora sebagai tempat pelarian terlihat jelas dari antusiasme penonton di Indonesia Masters 2026. Turnamen level Super 500 yang memperebutkan total hadiah 500.000 dolar AS ini, selalu dipadati pengunjung.
Jaka, seorang petugas keamanan di Istora, menjadi saksi hidup bagaimana gedung ini menjadi magnet bagi warga Jakarta.
“Hilir mudiknya orang sudah terlihat sejak pagi, padahal pertandingan baru mulai jam 12 siang, Bang,” ujarnya, saat bertugas di hari kelima atau babak semifinal Indonesia Masters 2026, Sabtu (24/1/2026).
Jaka, yang sudah stand by di venue sejak pagi buta, bahkan kerap menjumpai penonton yang datang sejak subuh untuk membeli tiket. Pemandangan ini, menurutnya, kerap terlihat terutama di hari pertama dan hari kedua.
Devi, salah seorang penjaga loket tiket, mengamini hal yang dikatakan Jaka. Ia mengaku mendapati penonton yang nekat mengantre sejak pukul 05.30 pagi, mendahului jam operasional loket yang baru dibuka pukul 06.00.
Bahkan, hujan yang mengguyur Jakarta tak menyurutkan niat mereka untuk mendapatkan tiket.
“Kemarin, hujan deras seharian di Istora. Tapi siang mereka tetap mengantre, ada yang pakai jas hujan, ada yang pakai payung,” ungkapnya.
Dedikasi semacam ini menunjukkan bahwa bagi warga Jakarta, tiket Istora bukan sekadar akses masuk, melainkan tiket menuju pelepasan emosi–sebagaimana Selvi dan Riyo.
Atmosfer inilah yang membuat Istora Senayan dikenal “angker” bagi lawan, tapi menjadi panggung megah bagi tuan rumah. Justin Hoh, pebulu tangkis asal Malaysia, mengakui bahwa Istora adalah tempat unik yang menguji ketahanan mental pemain karena riuh rendah penontonnya yang intimidatif. Siang ini, dalam sesi jumpa fans, atlet tunggal putri Jepang, Nozomi Okuhara juga mengakui hal serupa.
“Atlet Jepang yang belum pernah bermain di Indonesia, pasti akan kaget ketika pertama kali bertanding di sini,” katanya saat ditemui di booth HSBC.
Bagi atlet, Istora adalah ujian mental. Namun, bagi penonton seperti Selvi dan Riyo, teriakan yang mengintimidasi lawan itulah yang justru menjadi sarana pelepasan stres mereka. Bagi pekerja Jakarta, Istora bukan sekadar gedung olahraga. Ia adalah sebuah tempat menyembuhkan jiwa yang lelah.
“Harapanku sih buat besok, Indonesia menang di final, biar hari Senin tetep full senyum meski kudu balik kerja,” tutup Selvi.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Berkah di Balik Hujan Lebat di Istora Senayan, Tukang Ojek Payung Ketiban Rezeki Event Indonesia Masters 2026 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan