Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Dari Sungkem hingga Minum Bekas Kiai, Dasar Etika Para Santri di Pondok Pesantren yang Dituding Perbudakan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Oktober 2025
A A
Etika santri di pondok pesantren bukan pengkultusan pada kiai MOJOK.CO

Ilustrasi - Etika santri di pondok pesantren bukan pengkultusan pada kiai. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Posisi relasi dan kepatuhan santri terhadap pimpinan pondok pesantren (kiai atau pengasuh) tengah menjadi sasaran kritik bahkan dituding sebagai praktik perbudakan. Etika santri di pondok pesantren dianggap lebih menunjukkan ketimpangan relasi kuasa alih-alih pemenuhan hak-hak santri sebagai penuntut ilmu (Seperti diperlakukan layak hingga mendapat fasilitas yang memadai).

Misalnya, santri berjalan jongkok di hadapan kiai. Santri meminum atau memakan bekas kiai. Memberi amplop ketika bersalaman dengan kiai. Ikut gotong-royong membangun pesantren. Tidur di kamar sekadarnya. Hingga perkara sungkem (menyucup tangan kiai dengan penuh penghayatan).

Etika para santri kemudian dinarasikan sebagai fenomena yang mengarah pada pengkultusan terhadap sosok pimpinan pondok pesantren.

Ta’lim Muta’allim: panduan paripurna

Sejauh penelusuran Mojok, para santri—khususnya di pondok pesantren di Jawa—menjadikan kitab Ta’lim Muta’allim sebagai panduan paripurna dalam persoalan etika profetik (kalau meminjam istilah Kuntowijoyo).

Kitab tersebut ditulis oleh Imam Burhan al-Din Ibrahim al-Zarnuji yang diperkirakan hidup pada abad 12/13 Masehi (masih di masa Kekhalifahan Abbasiyah).

Poin-poin yang termaktub dalam kitab tersebut antara lain:

1. Etika dan adab: Menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, termasuk bagaimana memilih guru dan sahabat yang baik, serta cara-cara yang tepat untuk belajar.

2. Menghormati ilmu dan guru: Mengajarkan pentingnya memuliakan ilmu pengetahuan dan para ulama atau cendekiawan yang telah menguasai ilmu tersebut.

3. Kesungguhan dan ketekunan: Pentingnya memiliki kesungguhan, ketekunan, dan cita-cita yang luhur dalam proses belajar agar mendapat ilmu yang bermanfaat.

4. Fondasi belajar: Kitab ini memberikan fondasi yang harus dipersiapkan setiap pencari ilmu. Termasuk bagaimana nantinya seorang pencari ilmu akan mengajar ilmunya pada publik.

Berpegang kitab tersebut, para santri yang Mojok ajak berbincang menyebut bahwa penghormatan beda dengan pengkultusan. Sebab, penghormatan yang dilakukan para santri bukan dalam posisi “mendewakan” si pengasuh atau kiai. Tapi bentuk terima kasih atas ilmu dan bekal moral-spiritual yang sudah diberikan oleh sang kiai.

Bukan pula sebagai bentuk feodalisme. Sebab, tidak ada unsur keterpaksaan bagi para santri dalam mengikuti titah kiai. Tapi dilandasi keikhlasan karena sudah laiknya para santri, sebagai fakir ilmu, melakukannya pada orang yang telah memberi mereka ilmu.

Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan sangat mulia. Karena berkat ilmu lah seseorang bisa beranjak min al-dhulumat ila al-nur (Dari gelap (kebodohan) ke pencerahan). Sehingga orang yang mengajari ilmu juga sudah sepatutnya dimuliakan. Sebagaimana juga penuturan Ali bin Abi Thalib yang cukup masyhur: أنا عبد من علمني ولو حرفا واحدا (Aku adalah hamba sahaya bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku walau satu huruf).

Etika profetik santri di pondok pesantren tidak lahir dari ruang kosong

Habibi Farihin dan Fahmi Khasani dalam jurnal “Etika Profetik Santri: Resepsi Hadis Pada Tradisi Pendidikan Pesantren” menyebut, etika profetik di pondok pesantren tidak terbangun dari ruang kosong.

Iklan

Ada banyak etika profetik yang berkembang di sejumlah pesantren. Salah satu yang dikaji dalam jurnal tersebut adalah di PP. Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Misalnya, etika ibadah, pendidikan, sosial, hingga lingkungan.

Setiap etika tersebut merupakan bentuk dari living hadis. Dalam pengertian A. Ubaydi Hasbillah dalam Ilmu Living Quran-Hadis (2021), yakni suatu upaya untuk memperoleh pengetahuan yang kokoh dan meyakinkan dari suatu budaya, praktik, tradisi, ritual, pemikiran, atau perilaku hidup di masyarakat yang diinspirasi dari sebuah hadis Nabi.

“Nabi Muhammad Saw menjadi role model manusia ideal dalam segala hal. Wejangan  dan tindakannya yang bernilai hukum dipelajari oleh para ulama, dirumuskan menjadi  ilmu fikih, yang bernilai moral-spiritual menjadi ilmu akhlak-tasawuf, yang bernilai  keyakinan dan keimanan menjadi ilmu akidah/tauhid. Demikian hadis hidup sebagai ilmu dan mewarnai dinamika pemikiran islam,” tulis Fahmi dan Habibi.

Landasan sungkem hingga makan atau minum bekas kiai di pondok pesantren

Mencari rida seorang guru (kiai di pesantren) menjadi tujuan puncak bagi setiap santri. Bahkan, dalam kasus yang Mojok temui, ada semboyan semacam ini: Alim saja tapi kalau tidak mendapat rida kiai, maka hidupnya tidak akan mendapat berkah.

Demi mendapat keridaan guru, Imam al-Zarnuji menyebut beberapa praktik yang pada intinya bermuara pada: penghormatan (ketawaduan) pada guru. Misalnya, tidak berjalan di depan guru, tidak menempati tempat duduknya, tidak banyak bicara di  depannya, tidak memulai pembicaraan tanpa dipersilakan, dan menjaga perasaan sang guru dalam bentu-bentuk lain.

Wujud hormat bisa dilihat dalam keseharian santri yang selalu keroyokan mencium tangan kiai. Dasarnya adalah H.R. Ibn Hajar al-Atsqalani:

Diriwayatkan dari Usamah bin Syuraik r.a:  Kami berdiri menemui Nabi Muhammad Saw, lalu kami mencium tangannya (sungkem).

Di pesantren juga ada tradisi tabarrukan (tabarruk) alias mencari berkah. Umumnya dilakukan para santri dengan memakan atau meminum bekas minuman atau makanan kiai. Juga bentuk-bentuk ngalap berkah yang lain.

Dasar tabarrukan merujuk riwayat Asma binti Abu Bakar dalam H.R. Bukhari. Asma menggunakan jubah yang pernah dipakai Rasulullah Saw untuk mencari berkah berupa kesembuhan dari penyakit.

Ada juga periwayatan dari Ibn Asakir yang menyebut bahwa Asma binti Yazid pernah melakukan tabarruk dengan meminum air bekas minum Rasulullah Saw.

Bahkan persoalan makan bersama-sama dalam satu wadah pun juga merujuk perilaku Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan dalam H.R. Abud Dawud: “Makan bersama-sama dengan menyebut nama Allah Swt, niscaya akan memberi berkah.”

Sementara pemandangan santri memberi amplop pada kiai juga bagian dari representasi hormat atas ilmu. Sifatnya adalah hadiah sukarela, bukan karena kiai mengharuskan demikian. Bahwa ada kiai yang mencari kesempatan, itu lain soal—sudah berada di luar prinsip etika profetik pesantren.

Pada batas mana kepatuhan santri?

Rasulullah Saw sendiri dalam riwayat Abdullah bin Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari memang menekankan perihal sam’an wa tho’atan (mendengar dan patuh) pada sosok pemimpin (dalam konteks pesantren ya kiai). Namun, Rasulullah membatasi kepatuhan tersebut pada kemaksiatan.

Batasan tersebut memang sudah jelas. Namun, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, M. Febriyanto, menekankan pentingnya transformasi dalam manajemen pesantren.

Lebih spesifik Febriyanto menyontohkan pembangunan di pesantren yang melibatkan para santri. Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari rasa kepemilikan santri terhadap pesantren (sebagai bentuk pengabdian juga) dan merupakan tradisi sosial yang positif.

Bagi Febriyanto, tradisi pengabdian tetap bisa dijaga, hanya memang harus sejalan dengan prinsip kemanusiaan, keselamatan, dan perlindungan anak.

“Nilai luhur tradisi pesantren tidak boleh menutup mata terhadap persoalan keselamatan dan kemanusiaan,” jelasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kitab Kuning, Peradaban Sepanjang Masa Pondok Pesantren atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2025 oleh

Tags: LirboyoPesantrenPondok PesantrensantriTrans 7
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Wali Kota Agustina Wilujeng berharap pondok pesantren di Kota Semarang makin tertata usai Raperda disahkan MOJOK.CO
Kilas

Pengembangan 300+ Pondok Pesantren di Semarang agar Tak Tertinggal, Bukan Cuma Jadi Pusat Dakwah tapi Juga Pemberdayaan Sosial

31 Desember 2025
Hal-hal di Luar Nalar yang Dilakukan Gus Yayan untuk LKSA Daarul Muthola'ah dan Keluarga MOJOK.CO
Ragam

Hal-hal di Luar Nalar yang Dilakukan Gus Yayan untuk LKSA Daarul Muthola’ah dan Keluarga

25 November 2025
lksa darussalamah.MOJOK.CO
Ragam

Asrama Kecil di Kudus yang Menumbuhkan Mimpi Besar Anak-Anak

24 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.