Kisah Hidup Ibu Rumah Tangga yang Utang di 8 Aplikasi Pinjol

Ilustrasi Derita Hidup Ibu Rumah Tangga yang Terjebak di 8 Apliasi Pinjol. (Mojok.co)

Selama 5 tahun, seorang seorang ibu rumah tangga keenakan menggunakan pinjol. Kini, ada 8 aplikasi pinjol yang mengejar dan menerornya karena belum sanggup melunasi pinjaman tersebut.

***

Sephia* (32) butuh waktu 5 tahun hingga tersadar jeratan aplikasi pinjol telah mengancam kehidupannya. Semua bermula 5 tahun lalu saat ia mulai menggunakan pinjol untuk memenuhi kebutuhan hidup. Awalnya semua terbilang aman, karena selain sebagai ibu rumah tangga dari tiga orang anak, ia juga pekerja kantoran.

“Awalnya perjalanan kami (dengan pinjol-red) manis, saling membantu di saat sama-sama membutuhkan. Sebagai pekerja kantoran tidak sulit untuk menutup tagihan setiap bulannya,” kata Tika kepada Mojok, Minggu (28/1/2024). 

Sadar ketika tagihan di aplikasi pinjol tiga kali lipat gaji bulanan

Terlena dengan keadaan, utangnya di pinjol terus meningkat. Dari yang semula nominal kecil, hingga puluhan juta rupiah tiap platformnya. Ia tersadar bahwa hidupnya terancam ketika tagihan per bulannya ternyata tiga kali lipat dari gaji yang ia dapat setiap bulan. 

“Aku tahu mungkin sebagian dari pembaca Mojok kalian akan menghakimiku. Kata-kata seperti ‘makanya kalau pinjam bayar dong’, ‘sudah tahu pinjaman online mengerikan, mengapa diajukan?’ dan beribu pertanyaan dan pernyataan menyudutkan lain sudah kenyang aku makan,” kata Sephia, perempuan yang tinggal di Tangerang Selatan, Provinsi Banten.  

Sephia merasa perlu bercerita agar agar kebodohannya terjerat pinjol bisa jadi pembelajaran untuk orang lain. Ia juga tidak bermaksud membela diri, tapi ia punya alasan tersendiri sampai melakukan pinjaman ke pinjol.

“Bayar sekarang atau data anda akan kami sebar ke seluruh kontak anda !!”

“Woy MALING, kami tunggu segera pembayaran anda !”

“Otw rumah bos, siapkan dana pembayaran Ketika kami sampai”

Kalimat di atas Sephia sampaikan ketika menirukan ancaman yang masuk ke nomor teleponnya. 

Utang tidak akan selesai jika ditutup dengan utang yang baru

Sephia bercerita, ia mengenal pinjol sejak tahun 2019. Awalnya hanya spaylater, Buy Now Pay Later (BNPL) setelah itu pinjam ke aplikasi-aplikasi lain karena gali lubang tutup lubang.

“Belinya juga bukan barang yang mahal kayak gadget, hanya baju atau mainan anak,” kata Sephia. Bermula dari limit kecil hingga kemudian menjadi puluhan juta di setiap platform-nya. Sephia akhirnya terlena akan kemudahan yang ia dapat di aplikasi pinjol.

“Sudah lunas pinjam lagi, apapun itu namanya, aku jalani selama 5 tahun ini. Aku baru tersadar ketika tagihan per bulan sudah mencapai 3 kali lipat nominal gajiku. Takut akan teror yang akan muncul, aku berusaha mencari pinjaman online lain untuk menutupi tagihan yang membengkak hingga akhirnya hutang semakin menumpuk dan bertambah. Di tahap inilah aku baru tersadar, aku sudah jatuh terlalu dalam pada lubang yang aku gali sendiri,” papar Sephia.

Ketakutan yang semakin menumpuk, membuat Sephia akhirnya berani bercerita ke orang-orang yang bisa ia percaya. Orang yang bisa mendengarkan dan memberi solusi dari masalah yang ia hadapi. 

“Aku bergerilya mencari testimoni survivor pinjol di linimasa, yang ternyata tak semudah itu kudapatkan. Tawaran joki pinjol, hapus data, dan solusi tak masuk akal lain yang malah mudah kudapatkan,” kata Sephia. 

Ia kemudian menemui pakar kredit keuangan untuk mendapatkan pandangan dari persoalan yang menjeratnya. “Sampai akhirnya aku tiba di satu kesimpulan, utang tidak akan selesai jika ditutup dengan utang yang baru,” katanya. 

Sephia kemudian memutuskan akan menghadapi risiko apapun, yang penting ia bisa putus dari aplikasi pinjol. Meski, nama baiknya akan jadi taruhan. Ia kemudian memutuskan untuk menunda pembayaran tagihan pinjol-pinjolnya. Ia ingin fokus membenahi ekonomi sembari menabung agar dapat melunasi pinjaman-pinjaman tersebut.

Teror mencekam dari desk collection aplikasi pinjol

Sephia mengatakan, setelah memutuskan menunda cicilan pinjol, teleponnya tidak pernah sepi lagi. Pada hari pertama telat bayar, ada 90 panggilan tidak terjawab serta 123 chat notifikasi yang muncul di layar handphone-nya. Jumlah itu berasal dari 9 aplikasi pinjol tempat ia berutang.

“Kata-kata peringatan yang halus sampai yang kasar sudah aku terima. Ancaman sebar data, pelaporan ke polisi, pengambilan tindakan oleh tim legal sampai kunjungan field collector ke rumah pun sudah dikirimkan. Telepon ke kantor yang desk collection lakukan dan memaksa untuk berbicara dengan HRD juga sudah terjadi,” papar Sephia menceritakan teror yang ia terima.

Banyak anak muda di Indonesia yang kena kredit macet di pay later atau pinjol. (Ilustrasi Photo by Christiann Koepke on Unsplash)

Itu belum teror-teror yang orang-orang terdekatnya mengalami, yang bahkan tidak pernah Sephia jadikan sebagai kontak darurat. 

“Jangan tanyakan reaksi teman-teman, di saat seperti ini akan terlihat warna warni manusia dan aku berusaha memahaminya,” kata Sephia. 

Ia merasa beruntung dikelilingi oleh lingkungan yang baik. Suaminya meski awalnya marah, tapi akhirnya bisa menerima langkah yang ia ambil. Begitu juga kantor tempatnya bekerja, alih-alih memecatnya, atasan di kantor justru menyemangatinya. “Sebagian besar dari kita punya utang, bedanya ada yang ketahuan ada yang tidak. Kenapa mesti malu?” kata Sephia menirukan omongan atasannya. 

Ia menceritakan, teror dari pinjol makin bervariatif, dari menyamar sebagai pengantar paket agar mengetahui lokasinya, sampai mengirim video perjalanan seolah-olah mereka sedang dalam perjalanan menghampiri dirinya. 

OJK melarang pinjol mengancam dan mempermalukan peminjam

Menurut Sephia, ia memang salah belum bisa melunasi pinjaman, tapi yang ia sesalkan adalah cara-cara yang aplikasi pinjol lakukan untuk menagih. Padahal ia meminjam di aplikasi pinjol legal yang keberadaan mereka atas izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sesuai Surat Edaran OJK No 19 Tahun 2023, penagihan tidak boleh dengan pengancaman atau mempermalukan penerima dana.  Juga tidak boleh dilakukan ke pihak yang bukan penerima dana. Namun, di Januari 2024, praktik tersebut nyatanya masih terjadi.  

Sephia menyatakan, ia sudah puas mengutuk dirinya sendiri. Ibaratnya ia merayakan penyesalan yang tidak berguna, menangis melihat orang terdekat harus merasakan akibat dari kecerobohannya.

“Perasaan malu, kotor, tidak pantas dicintai, biang masalah, dan citra buruk lainnya terasa benar dan layak ku sematkan untuk diri sendiri. Tapi apakah benar semua ini akan berakhir jika aku mengambil tali itu? Apakah benar kita akan mendapat kedamaian di sana apabila masih ada tanggungan di dunia? Apakah tindakan itu tidak semakin menyakiti dan menimbulkan trauma pada orang-orang yang mencintai kita?” kata Sephia panjang lebar ketika terpikir untuk menyelesaikan masalahnya dengan mengakhiri hidup.

Cari bantuan, jangan menyerah dengan hidup

Selain karena orang-orang terdekat yang membuatnya kuat, ia juga mendengar dari ustadz yang ia sering dengar pengajiannya. Ia ingat, ustadz itu menyatakan bahwa ada  sebuah hadist, bahwa barang siapa yang berniat melunasi hutangnya, maka Allah pasti akan membantunya.

Sephia berpesan untuk orang-orang yang sedang merasakan sakitnya jeratan aplikasi pinjol untuk bercerita kepada orang-orang yang mereka percaya. 

“Yakinlah bahwa Tuhan tetap mencintaimu selama kamu mengadu dan kembali kepada-Nya,” ujar Sephia.

Carilah bantuan, jangan menyerah untuk tenggelam. Juga menyelamatkan diri dari pikiran yang negatif dan bertanggung jawablah dengan menghadapi konsekuensi dari segala tindakan.

Sephia berencana akan melunasi utang-utangnya, meski ia tidak tahu kapan pastinya. “Saat saya mau  menata ekonomi keluarga dulu. Menabung sedikit sedikit untuk melunasinya. Pada praktiknya, ketika debitur bermasalah dari 6 bulan sampai 9 bulan, ada diskon yang pinjol berikan. Kita bisa bayar pokoknya tanpa bunga dan denda,” kata Sephia.

Menurut Sephia, banyak juga yang gagal bayar dan berniat tidak bayar selama-lamanya. Karena untuk pinjaman online yang legal, pihak pinjol harus mengasuransikan “produk” yang dijeual ke debitur sehingga kalau peminjam atau debitur macet, aan di akhir tahun akan dihapusbukukan menggunakan asuransi.

Kalau ia pribadi, tetap ingin melunasi utang-utangnya meski belum tahu kapan selesainya.

“Ingatlah wajah-wajah orang yang kalian sayangi. Ketakutan akan teror dari aplikasi pinjol tidak sebanding dengan ketakutan dan kesedihan orang-orang yang mencintai kalian, jika kalian mengambil jalan pintas. Maafkan dirimu dan bergerak maju,” tutup Sephia.

Kredit macet di BNPL dan pinjol sebagian besar anak muda

Mengutip CNBC, untuk di Indonesia, kredit macet atau non-performing loan (NPL) sesuai dengan Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan untuk BNPL per April 2023 mencapai 9,7%. Angka tersebut jauh di batas aman yakni 5%.

Hampir setengah pengguna BNPL adalah usia muda. Dilaporkan usia 20-30 tahun menyumbang 47,78%.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan nilai pinjaman anak muda senilai Rp 300.000-Rp 400.000. Meski kecil, angka itu menjadi tunggakan dan akan mempengaruhi credit score mereka. “Misalnya, ada anak muda mau ambil rumah dengan KPR ke bank. Bank biasanya akan menolak karena mereka punya kredit macet di BNPL,” kata Friderica.

*) narasumber meminta namanya untuk disamarkan

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Garda Depan Sebelum Debt Collector Beraksi, Desk Collection Berbagi Cerita Sulitnya Tagih Pinjol

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version