Di beberapa daerah, cara penumpang menghentikan angkotan kota (angkot) bisa bermacam-macam. Di Bandung ada yang berteriak “Kiri!”, “Berhenti, Bang!” atau menjelaskan tujuan pemberhentian secara spesifik. Namun, cara itu berbeda di Medan. Febry Sumiati (27) sendiri pernah merasakannya. Perempuan asal Medan itu pertama kali naik angkot di Bandung dan merasa malu sendiri, karena bingung cara menghentikan angkot.
3 tahun di Bandung tapi baru pertama naik angkot
Febry adalah pekerja di sebuah perusahaan di Bandung sejak tahun 2022. Selama bekerja sekitar 3 tahun di Bandung, ia jarang menggunakan angkot karena punya kendaraan motor pribadi.
Sialnya, Rabu (26/12/2025) kemarin, motor pribadi Febry mogok di pagi hari. Padahal jarak menuju kantornya sudah hampir dekat. Tapi ia harus menuntun motornya agak jauh untuk mencari bengkel.
Karena sudah kelelahan dan takut terlambat sampai kantor di Bandung, Febry akhirnya mencegat angkot yang lewat secara acak. Toh, jalan ke kantornya satu arah dan tinggal lurus. Tapi saat duduk di dalam angkot, Febry merasa aneh karena ada seorang penumpang lain yang memperhatikannya dari atas sampai bawah.
“Ada salah satu ibu-ibu ngelihatin aku. Dari situ aku sadar kalau masih pakai helm karena buru-buru naik, tapi kacanya tetap ke buka,” kata Febry kepada Mojok, Minggu (4/1/2026).
Alih-alih melepas helmnya, Febry tetap memakai helm tersebut. Lagi pula, ia di angkot hanya sekitar 5 menit. Tidak lama.
Berbagai kepanikan di dalam angkot menyerang
Namun, duduk di antara 5 orang penumpang sembari memakai helm rupanya bikin Febry semakin tidak nyaman. Tapi karena tidak ada warga Bandung yang menegur, Febry berusaha bersikap biasa saja.
“Anggap saja helm itu seperti aksesoris busana seperti topi,” kelakarnya, “soalnya kalau ditaruh di kursi atau di bawah pun makan tempat, akhirnya tetap ku pakai.”
Karena sibuk memikirkan masalah helm yang ada di kepala, Febry pun jadi tidak sadar kalau tempat pemberhentiannya terlewat sekitar 100 meter. Saking paniknya, ia langsung teriak ke pengemudi.
“Minggir! Dison ma, dison ma!” Ucap perempuan asal Medan tersebut.
Dalam bahasa Batak Toba, “dison” artinya di sini dan “ma” sebagai penegas seperti kata ‘lah atau ‘saja’. Dengan kata lain “dison ma” artinya “di sini saja” untuk menekankan lokasi pemberhentian. Kalimat itu, kata Febry, sering ia pakai saat naik angkot di Medan dan malah reflek ia utarakan saat di Bandung.
Di Bandung, cara menghentikan angkot sebetulnya tak jauh berbeda. Misalnya, memakai kata “pinggir”. Kalau tidak digubris oleh sopir, coba gunakan kata “kiri”. Atau agar lebih spesifik, sebutkan langsung nama tempatnya, “berhenti dekat pasar, Bang!”.
Usahakan juga dengan volume suara yang lantang tapi tidak terlihat panik. Sebab suara yang terlihat panik dapat membuyarkan konsentrasi sang sopir dan mengganggu penumpang lain. Lebih-lebih jika sopir ikut panik dan berhenti mendadak di tempat yang tidak seharusnya.
Etika penumpang di angkot
Beruntung bagi Febry karena sopir angkot tidak ikut panik dan berhenti sesuai perintahnya, walaupun saat itu ia menggunakan bahasa daerah. Sang sopir pun tak berkata apa-apa tapi ia mendapat banyak tawa dari para penumpang.
“Aku malu banget diketawain banyak orang. Apalagi sejak kerja di Bandung orang-orang sering notice logat pengucapan ‘e’ ku. Jadi aku agak trauma,” kata Febry.
Meski begitu, Febry tak lupa membayar sopir angkot sebesar Rp5 ribu. Ia pun tak meminta kembalian karena tak tahu pasti tarif angkot sekarang.
Selain tidak boleh panik saat meminta sopir angkot berhenti, penumpang angkot, baik di Medan maupun Bandung, juga punya etika yang harus diperhatikan. Melansir dari laman resmi Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, penumpang angkot harus menghormati privasi dan ruang pribadi penumpang lain.
Misalnya, menghindari penggunaan ponsel dengan volume suara tinggi atau menggunakan earphone, tidak menyentuh atau duduk terlalu dekat dengan penumpang lain, dan bersikap sabar saat menunggu penumpang lain naik atau turun.
“Memberikan prioritas kepada penumpang yang akan turun terlebih dahulu dan tidak mendorong atau berebut tempat saat naik adalah bagian dari perilaku yang baik. Memahami bahwa setiap orang memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing akan membantu menciptakan suasana yang harmonis dan tertib,” tulis Dishub Aceh dikutip Senin (5/1/2026).
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sisi Gelap Bandung yang bikin Resah Perantau Asal Surabaya, padahal Terkenal sebagai Kota Pelajar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
