ADVERTISEMENT

Burjo di Sekitar UNY Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Semester Tua yang Terancam DO dan Tak Sanggup Bayar UKT

burjo penyelamat mahasiswa UNY. MOJOK.CO

Selain itu, meski menyuguhkan tempat yang nyaman nan estetika, bagi Hendri, Burjo tetaplah pilihan nomor satu. Sebab biasanya, beberapa kafe ada yang buka hanya sampai jam 22.00 WIB bahkan tutup saat sore. 

Berbeda dengan Burjo yang rata-rata jam bukanya 24 jam. Biasanya pemilik warung sudah menyediakan WiFi gratis atau colokan. Mejanya juga panjang-panjang, sehingga sangat cocok untuk nugas, ngerjain program kerja, atau rapat organisasi. Bikin Hendri dan mahasiswa UNY betah.

“Cocok setelah seharian kuliah atau begadang nugas,” ujar Hendri yang sering mengerjakan tugas hingga larut malam di Burjo.

Sejauh pengamatan Hendri, mahasiswa di jurusannya sendiri tidak ada yang bergaya hidup mewah atau glamor. Meskipun demikian, Hendri yakin banyak dari mereka yang berasal dari keluarga yang berkecukupan jika dilihat dari laptop atau gaya berpakaiannya.

“Tapi teman-teman saya justru memilih hidup sederhana dan tidak berlebihan,” ujar Hendri.

Bertemu lingkaran pertemanan yang positif

Kadang-kadang, tak hanya nugas. Hendri juga sering nongkrong atau ngobrol ngalor ngidul bersama teman-temannya di Burjo. Ia juga sering bertemu kenalan baru dan saling bertukar cerita hidup. 

“Saya bersyukur karena di manapun saya berada, lingkaran pertemanan saya selalu sehat dan mendukung,” ucap Hendri.

Kebanyakan, kata dia, teman mahasiswanya di UNY juga sama-sama perantau. Prioritas pelajar di bidangnya lebih terfokus pada pendidikan, tidak pamer kemewahan alias melenturkan

Oleh karena itu, Hendri yang juga merantau dari Pulau Bangka ke Jogja, tidak membutuhkan waktu lama untuk akrab. Bahkan dari perkenalan singkat itu, ia sudah menganggap temannya sebagai keluarga sangking senasib sepenanggungannya.

“Saat libur tiba, saya sering diajak teman kampus mengunjungi kampung halaman mereka. Bahkan hingga saat ini, komunikasi kami masih terjalin dengan baik,” ucapnya.

Misalnya, saat bulan puasa kemarin, Hendri sempat buka puasa beberapa kali di Burjo bersama teman satu kelasnya. Mereka juga mengajak teman-teman yang keyakinannya berbeda untuk bergabung.

Berkat gaya hidupnya yang hemat dan membeli makanan murah, serta lingkungan yang positif, Hendri jadi bisa bertahan saat kuliah di perantauan. Tahun ini, ia baru diwisuda dan resmi jadi PNS.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Redaktur : Ahmad Effendi

BACA JUGA:  Demi Turuti Anak Jadi Sarjana Orangtua Rela Hidup dalam Pura-pura, Pura-pura Sanggup Bayar UKT dan Sembunyikan Banyak Kepedihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik  Liputan .

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2025 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version