Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

Ilustrasi - Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Budaya Solo itu ‘kowe ro aku’ (kamu dan aku), bukan ‘lo dan gue’.” Sepintas lalu saya menemukan narasi semacam itu di media sosial. Ternyata narasi itu berangkat dari keresahan sebagian pemuda-pemuda asli Solo atas fenomena nJaksel (ala-ala Jaksel) yang menjangkit sejumlah pemuda di sana. 

***

Setelah sekian lama berjarak dengan Solo, seorang teman yang enggan disebut namanya akhirnya memilih menubuh kembali dengan kota kelahirannya itu. Namun, alih-alih mendapati Solo yang khas, dia justru melihat wajah baru yang tampil agak mengganggu. 

Sebagian banyak pemuda–usia 20-an awal, kata dia, punya kecenderungan membawa gaya tongkrongan ala Jaksel ke tengah-tengah tongkrongan mereka.

“Bermunculan sejumlah kafe/coffee shop vancy ala Jaksel,” ungkapnya membagi keresahan pada saya belum lama ini. Tapi ini bukan semata tentang keberadaan kafe/coffee shop-coffee shop vancy-Instagrambale. 

Bising yang mengganggu

“Kalau tengah malam, bagian rooftop-nya ada karaoke dengan lead karaoke super heboh dan ala-ala bar di Jakarta,” ungkap kenalan saya itu. 

Ternyata itu cukup mengganggu. Mengingat, Solo yang dia kenal adalah Solo yang jauh dari bising mengganggu. Kota ini memang padat. Tak terelakkan dari hiruk-pikuk. 

Namun, berdasarkan pengakuan warga Solo asli yang dia temui, malam di Solo seharusnya adalah malam tenang. Zona waktu yang memungkinkan seseorang mengistirahatkan, bukan sekadar tubuh, melainkan hati dan pikiran. 

“Kenapa bisa disimpulkan itu meniru Jaksel?” Tanya saya. 

“Karena bahkan, di kalangan anak-anak muda itu, muncul istilah Solo Selatan,” jawabnya. Identitas itu coba digaris bawahi secara tebal untuk menunjukkan bahwa Solo bagian Selatan adalah episentrum “orang-orang kalcer”, sebagaimana stereotip banyak orang atas Jaksel. 

Lo dan gue, komunikasi wajib pemuda kalcer di Solo

Ia juga mendapati sejumlah “pemuda kalcer” (sebut saja begitu, untuk menyebut para pemuda yang bergaya sok meniru tongkrongan Jaksel) di Solo kini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi intens. 

Tentu tidak keliru. Yang mengganggu, bagi dia, adalah gaya bahasa Indonesia yang dipakai adalah bahasa Indonesia slang yang agak wagu jika dipakai di Solo. Misalnya dengan penggunaan “lo dan gue” sebagai kata ganti orang kedua dan pertama. 

Seolah jika menggunakan “lo dan gue” saat bercakap, itu akan menambah damage seseorang, berhak jadi teman ngobrol dalam tongkrongan.

Terpental jika tak ikuti outfit Solo yang Jaksel sekali

Keresahan serupa datang dari pemuda Solo lain, Saga (22). Dalam pengamatannya (dan bahkan ia rencakan untuk jadi materi skripsi), gaya meniru Jaksel sebenarnya gampang ditemukan di kalangan mahasiswa, terutama dari mahasiswa luar Solo. 

Namun, lambat laun, mahasiswa yang asli Solo pun ikut tertular. Malah cenderung malu menunjukkan identitas aslinya sebagai orang Jawa. 

“Jawa diidentikkan dengan kesan katrok dan kampungan,” kata Saga. 

Aspek paling kentara adalah penggunaan bahasa gaul-slang dan lo-gue. Sesama mahasiswa Solo saja terkesan agak membatasi berbincang dengan bahasa Jawa. 

Berikutnya adalah gaya busana (outfit). Kalau berangkat ke kampus atau tongkrongan (di kafe) tidak boleh sekadar busana. Tapi harus ada value yang membuat seseorang teridentifikasi up to date terhadap trend fashion. 

“Pelan-pelan, orang yang nyaman dengan cara berbusana apa adanya sepertiku, lama-lama akan berada dalam dua situasi. Kalau nggak ikut arus, ya akan terisolasi dari tongkrongan. Karena takut dianggap kampungan dan nggak fashionable,” ucap Saga. 

Bahkan, kata Saga, ada salah seorang temannya yang terang-terangan menerima komentar tidak enak hanya karena outfit yang biasa-biasa saja. 

Lanyard terkalung di leher jadi penanda kalcer

Setahu Saga, orang-orang di Jaksel lekat dengan lanyard bukan karena alasan gaya-gayaan biar terlihat kalcer semata. Tapi situasinya mengharuskan seperti itu: lanyard sebagai identitas wajib yang harus dikenakan para pekerja. 

Entah bagaimana mulanya itu kemudian dianggap sebagai penanda kalcer bagi sejumlah pemuda-pemuda kalcer di Solo yang mencoba bergaya meniru Jaksel. Saat ngampus atau nongkrong, lanyard harus terkalung di leher. 

“Akhirnya yang terlihat malah sesuatu yang terkesan dipaksakan. Mengalungkan lanyard, padahal yang digantung di lanyard vape. Bahkan kartu identitas organisasi aja dikalungin pakai lanyard,” beber Saga. 

Ketika Solo meniru Jaksel MOJOK.CO
Ringkasan – Banyak pemuda di Solo kini bergaya meniru Jaksel. (Generated AI NotebookLM by Aly Reza Mojok.co)

Dalam konteks vape, Saga pun mulai menjadi tidak relevan. Nge-vape atau nge-pods adalah pilihan. Sementara Saga memilih tidak. Ia lebih suka mengisap rokok. 

Namun, di sebuah tongkrongan, rokok adalah pilihan terbawah dan jauh dari kesan kekinian. Sekarang eranya vape atau pods. Benda uap itu bahkan mendapat ruang khusus untuk menjadi bahan obrolan: membincangkan merek, harga, hingga liquid masing-masing.

“Dan ini belum kalau bicara trend selera musik. Kamu mendengarkan lagu-lagu maestro Didi Kempot atau lagu-lagu bernuansa Jawa seperti NDX atau Denny Caknan, diketawain yang ada,” ucap Saga. 

Baik kenalan saya maupun Saga, pada akhirnya merindukan Solo sebagaimana mestinya. Solo yang autentik, bukan dibuat-buat agar mirip Jaksel atau daerah lain yang dianggap lebih kalcer. Solo ya Solo: The Spirit of Java. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sempat Dihina karena Teruskan Usaha Warung Mie Nyemek Milik Almarhum Bapak, Kini Bisa Hasilkan Cuan 5 Kali Lipat UMK Solo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Exit mobile version