Pasar Wiguna bukan sekadar pop-up bazaar, atau event “pasar kaget” sebagaimana umumnya. Ia adalah ruang yang menjaga interaksi warga, serta memperpanjang napas UMKM lokal di Jogja.
***
Aroma kemenyan itu menyergap hidung saya. Keras, menusuk, tanpa permisi. Aneh rasanya, sebab saya sedang tidak berada di petilasan keramat di lereng Merapi, melainkan di taman samping pusat perbelanjaan Plaza Ambarrukmo, pada Sabtu (19/12/2025) lalu. Asap dupa yang mengepul itu bukan untuk memanggil arwah leluhur, tapi untuk menarik orang mampir membeli es kopi susu dan berbagai minuman manis lainnya.
Selamat datang di Punk-Ala-Rich (baca: penglaris), sebuah stan kopi yang memutuskan bahwa estetika industrial-minimalis terlalu aman untuk zaman ini. Di tengah hiruk-pikuk acara Pasar Wiguna, mereka justru menjual “teror visual”. Miniatur kuntilanak bergelantungan lengkap dengan seringainya yang seram, kain-kain lusuh menjadi tirai, dan–bagian favorit saya–ornamen “penunggu” menyeramkan diletakkan tepat di sebelah kode QRIS.
“Di sini juga bisa pesan kopi berdasarkan weton,” kata Hamid, penjaga booth yang menyambut saya dengan nada santai namun penuh percaya diri.
“Maksudnya?” Saya refleks bertanya. Antara penasaran dan ragu-ragu.
“Masnya sebut weton-nya apa. Nanti kami hitung pakai sistem perhitungan Jawa. Dari situ kelihatan Mas cocoknya kopi yang bagaimana.”

Menarik, meski saya akhirnya memilih yang lebih sederhana. Segelas kopi susu gula aren. Keputusan aman, sebelum saya terseret nostalgia dan mitologi keluarga sendiri.
Meninggalkan aroma menyan, saya bergerak ke stan Bale Klegung. Jika Punk-Ala-Rich menjual kengerian sebagai gimmick, Bale Klegung menawarkannya melalui kearifan lokal dalam bentuk kuliner. Mereka adalah rumah makan asal Kulonprogo yang membawa hasil bumi kelompok tani mitra langsung ke tengah kota, tanpa rantai distribusi berbelit.
Di sana saya membeli legen, nira aren murni yang ditampung langsung dari pohonnya. Rasanya manis, sedikit fermented, menghadirkan sensasi “ndeso”. Segar, jujur, dan tak dibuat-buat. Di atas meja mereka terhampar pete, sayur organik, dan sederet produk hasil panen yang membuat saya merasa seperti masuk ke dapur rumah di kampung.
Saya sadar, saya sedang membeli lebih dari sekadar penghilang dahaga. Saya membeli cerita tentang rantai pasok pendek yang menghidupi para petani Kulonprogo, dan tentang upaya menjaga nilai rasa di tengah kota yang bergerak serba cepat.

Tak jauh dari sana, saya bertemu Ayu di stan Danawa. Jenama ini menjual jam tangan. Bukan dari emas atau baja, melainkan dari limbah kayu olahan. Keunikan material itu membuat produknya khas.
“Sehari-hari kami jualannya daring. Nggak punya offline store,” kata Ayu.
Saya membayangkan ratusan foto katalog yang beredar di internet, tetapi tanpa pengalaman nyata memegang produknya.
“Event Pasar Wiguna ini cocok banget buat marketing. Orang jadi percaya kalau barangnya beneran bagus,” lanjut Ayu.
Punk-Ala-Rich, Bale Klegung, dan Danawa, hanyalah sebagian kecil dari kejutan yang terserak di Pasar Wiguna. Di sini, kreativitas tidak sekadar dipamerkan. Ia dirayakan, dirasakan, dan bagi UMKM, event ini menyelamatkan.
Pasar Wiguna bukan sekadar pop-up bazaar
Bagi yang belum familiar, Pasar Wiguna bukan sekadar pop-up bazaar yang muncul lalu hilang tanpa jejak. Ia adalah sebuah ekosistem. Secara konsep, Pasar Wiguna mendefinisikan diri sebagai eco-culture market: ruang temu yang mengawinkan gaya hidup ramah lingkungan dengan kebudayaan lokal di ruang terbuka hijau.
Berbeda dengan pasar tradisional yang kadang dianggap “sumpek”, atau mal yang sering terasa elitis. Pasar Wiguna menawarkan jalan tengah, yakni oase tempat interaksi terjadi secara organik di bawah naungan pepohonan, tepat di jantung distrik belanja paling sibuk di Kota Jogja.
Menurut Brand Manager Ambarrukmo, Laili Apriliyani, inisiatif ini lahir pada 2021, ketika pandemi memaksa manusia mengurung diri. Kala itu, Mal tertutup rapat-rapat akibat virus, sementara area terbuka hijau kompleks Ambarrukmo nyaris tak dimanfaatkan.

“Alhasil, kami coba mengadopsi konsep pasar tradisional, tempat bertemunya manusia secara organik, dan memadukannya dengan estetika anak muda,” ujarnya, Jumat (23/12/2025) lalu.
Penjelasan itu memberi konteks pada apa yang saya lihat. Setiap stan bukan hanya sarang transaksi, melainkan ruang sosial yang membuat orang betah berlama-lama.
Meningkatkan pendapatan UMKM mitra
Apa yang dirasakan Ayu dari Dana maupun tim Bale Klegung tentang dampak nyata Pasar Wiguna, bukanlah pepesan kosong. Data menunjukkan, bahwa fungsi Pasar Wiguna sangat vital bagi banyak tenan kecil. Laili menjelaskan, Pasar Wiguna adalah sebuah intellectual property (IP) yang lahir dari respons terhadap krisis.
“Awalnya tergagas pada 2021. Waktu itu ruang publik ditutup, pariwisata lesu. Kami membuka ruang untuk UMKM yang penghasilannya berkurang, menduplikasi konsep pasar tradisional namun di ruang terbuka,” jelasnya.
Dampaknya kini terbaca terang melalui angka. Berdasarkan data internal penyelenggara, perhelatan edisi “Pasar Wiguna Kaping C – Wana Kelana Anak” yang berlangsung 20–21 Desember 2025 saja, misalnya, berhasil menarik sekitar 2.000 pengunjung dalam dua hari.
“Kalau dihitung sejak berdiri pada 2021 hingga 2025, Pasar Wiguna bahkan telah menyedot lebih dari 100.000 Kawan Pasar [sebutan untuk para pengunjungnya],” jelas Laili.

Angka kunjungan ini seirama dengan denyut ekonomi para tenan atau “Kerabat Karya”. Ayu menyebut, berdasarkan data internal, rata-rata pendapatan tenan dalam satu gelaran berkisar antara Rp500.000 hingga lebih dari Rp3.000.000.
Angka tersebut boleh tampak biasa saja bagi korporasi besar. Namun, bagi usaha mikro seperti Punk-Ala-Rich, Danawa, atau penjual minuman nira seharga Rp15.000-an, perputaran uang itu bisa berarti keberlangsungan. Dengan rata-rata pengeluaran pengunjung Rp50.000 hingga Rp150.000, daya beli yang tercipta cukup sehat untuk menopang 20 hingga 35 tenan tiap edisi.
Namun, bagi Laili, angka bukan segalanya. Ia menegaskan bahwa Pasar Wiguna bukan sekadar soal transaksi.
“Semakin ke sini kita semakin addict sama gadget. Pasar Wiguna adalah ruang terbuka untuk berinteraksi secara langsung. Human interaction itu masih tetap diperlukan,” ujar Laili.
Hal itu terbukti dari terselenggaranya lebih dari 250 lokakarya selama empat tahun terakhir. Pasar ini menjadi ruang belajar, bukan hanya ruang belanja.
Dampaknya hingga ke luar kota
Dampak Pasar Wiguna kini merembet keluar Kota Jogja. Laili menjelaskan, melalui program “Berkelana”, jenama ini telah empat kali menyambangi Bandung, serta masing-masing sekali hadir di Bali, Semarang, Surakarta, dan Malang.
“Di Bandung itu sebagai salah satu yang paling semarak kalau menurut saya. Soalnya anak-anak muda datang dress well sambil berkain, seolah merayakan pasar ini sebagai festival budaya,” ungkapnya.
Sementara di Bali, kolaborasi dengan musisi lokal yang menggabungkan gamelan dan musik elektronik menunjukkan betapa cairnya adaptasi budaya yang bisa dilakukan lewat event ini. Bagi Laili, apa pun bentuknya, tiap kota memberi napas baru, sekaligus menguji sejauh mana konsep ini bisa bertransformasi tanpa kehilangan akar.
Kesuksesan ini menarik perhatian pemerintah. Pasar Wiguna kini menjadi mitra co-branding Wonderful Indonesia dari Kementerian Pariwisata, menandai pengakuan nasional atas inisiatif yang bermula dari gerakan lokal. Kemitraan dengan Jogja Cultural Wellness Festival mempertegas posisinya sebagai simpul penting ekonomi kreatif dan pariwisata.
“Ini jadi pergelaran Pasar Wiguna yang ke-100, jadi kami sangat senang karena dampak positifnya bisa menular kemana-mana.”

Menjelang sore, keramaian yang sempat terlihat di hari pertama dan kedua kini telah menghilang. Beberapa tenan sudah mulai beberes, setelah dua hari event Pasar Wiguna telah selesai.
Saya pun kembali ke area depan, menuju stan Punk-Ala-Rich. Di sana Hamid tengah menurunkan ornamen-ornamen menyeramkan yang sebelumnya menggantung.
“Capek, Mas?” tanya saya sambil menunjuk tumpukan barang yang kian tinggi.
Hamid terkekeh pelan. “Capek, tapi senang. Ramai kemarin. Banyak yang penasaran gara-gara dekor kami.”
Di sekeliling kami, para tenan lain juga berkemas. Meja-meja dilipat, pot bunga disusun kembali, botol-botol legen yang tersisa dimasukkan ke dalam kontainer, jam tangan kayu Danawa berhenti disentuh dan kembali ditata dalam kotak-kotak kecil. Perlahan, rumput yang dua hari terakhir penuh injakan mulai terlihat sunyi lagi.
Sebelum berpisah, Hamid menjabat tangan saya. “Jangan lupa nanti datang ke kedai kami di Kotagede sama Demangan, Mas.”
Karena Pasar Wiguna, saya jadi tahu ada warung kopi seunik (dan “sehoror”) Punk-Ala-Rich. Karena Pasar Wiguna, saya juga bisa mencicipi manisnya legen lengkap dengan cerita para petaninya. Hingga, cerita Danawa yang konsisten dengan jam tangan hasil olahan limbah kayanyu.
Sebagaimana diungkapkan Laili, di satu sisi event ini memang masih jauh dari kata ideal. Masih perlu banyak pembenahan. Namun, di sisi lain, tak dapat dimungkiri pula kalau Pasar Wiguna bisa menjadi tempat bagi UMKM untuk step up.
“Harapan saya, ke depan event semakin matang, sehingga lebih banyak lagi UMKM yang terbantu secara ekonomi,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bersaling Silang di Pasar Wiguna Jogja: Upaya Hidup Minimalis dan Bebas Sampah dengan Saling Tukar Barang Bekas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













