Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Epidemi Sepi: Saat Ragamu di Keramaian, tapi Jiwamu Malah Dikoyak Kesepian

Khatibul Azizy Alfairuz oleh Khatibul Azizy Alfairuz
12 Agustus 2025
A A
kesepian.MOJOK.CO

Ilustrasi - Epidemi Sepi: Saat Ragamu di Keramaian, tapi Jiwamu Malah Dikoyak Kesepian (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hampir semua orang tahu seperti apa rasanya kesepian. Hal itu terdengar aneh, karena kita hidup di dunia yang tampaknya selalu terhubung. Setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain di tempat kerja, sekolah, jalanan, bahkan media sosial. 

Namun, justru di era yang serba terkoneksi ini, banyak dari kita merasa semakin terasing dan sendirian. Koneksi ada di mana-mana, tetapi kedekatan yang sesungguhnya justru terasa langka. 

Berbagai penelitian bahkan mengasosiasikan kesepian dan isolasi sosial dengan penyakit jantung dan stroke, diabetes tipe 2, dan kanker. Di masa sekarang, kesepian bahkan kerap disebut sebagai sebuah “epidemi”.

Adril (21), mahasiswa semester akhir Universitas Airlangga, adalah salah satu orang yang merasakan hal tersebut. Ia mengaku bahwa saat tahun baru kemarin saja, ada perasaan sepi saat berada di kos. 

Sampai-sampai, dirinya tak mau membuat resolusi muluk-muluk untuk hidupnya. Mengutip lirik lagu “Cincin” dari Hindia, ia berharap hidupnya berjalan biasa-biasa saja tanpa banyak perubahan.

“Pergantian tahun dari 2023 ke 2024 aku malah habiskan sendirian di kos di Surabaya. Aku rayakan dengan tidur dan ngerjain tugas,” ujar Adril saat diwawancarai Mojok pada Jumat (27/12/2024).

Sepi di tengah keramaian memang sering dialami banyak orang

Sudah hampir empat tahun Adril merantau di Surabaya. Pemuda asal Nganjuk, Jawa Timur, ini mengakui bahwa ada rasa hampa yang muncul ketika ia sendirian. Ia kerap ingin mencurahkan isi hatinya, tapi tidak tahu harus berbagi cerita kepada siapa. 

Senada dengan apa yang dirasakan Adril, dalam laporan WHO berjudul “From Loneliness to Social Connection”(2025), kesepian dijelaskan sebagai perasaan yang muncul saat seseorang merasa hubungan sosial yang dimilikinya tidak seperti yang diharapkan. Meski mungkin dikelilingi orang lain, seseorang tetap merasa sendiri atau tidak terhubung. 

Laporan itu menyebut, perasaan kesepian bersifat pribadi dan dipengaruhi oleh harapan sosial atau pandangan masyarakat tentang seperti apa seharusnya hubungan dengan orang lain.

Kesepian tidak selalu berkaitan dengan seberapa sering seseorang berinteraksi dengan orang lain. Seseorang tetap bisa merasa kesepian meskipun memiliki banyak teman atau menjalani rutinitas sosial yang padat, jika kualitas atau kedalaman hubungannya tidak memenuhi kebutuhan emosionalnya, tulis laporan itu.

Bukan soal berapa teman yang kita punya

Menurut Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Hazhira Qudsyi, kesepian bukan soal seberapa banyak teman yang kita punya, tapi seberapa dalam dan bermakna hubungan itu. 

“Orang yang punya banyak teman justru bisa lebih merasa kesepian dibanding mereka yang hanya punya sedikit teman,” jelasnya. 

Dalam konteks kehidupan urban yang sibuk dan penuh tekanan, relasi yang dangkal dan hubungan yang bersifat transaksional kerap menjadi norma. Maka tak heran jika kesepian justru sering tumbuh diam-diam di tengah keramaian, imbuhnya.

Salah satu contoh nyata dari kondisi ini adalah kasus Dheeraj Kansal (25), seorang akuntan muda dari New Delhi, India. Ia memiliki gelar pendidikan tinggi serta bekerja di lingkungan korporat. Meskipun begitu, sebagaimana dilaporkan The Indian Express, Dheeraj memutuskan untuk mengakhiri hidupnya pada (28/07/2025) dengan cara tragis: menghirup gas helium di sebuah kamar penginapan. 

Iklan

Dalam catatan terakhirnya, ia menulis bahwa “kematian adalah bagian terindah dalam hidupku,” dan bahwa ia “tidak pernah benar-benar terhubung secara mendalam dengan siapa pun.” Dalam pesan terakhirnya itu, ia menyebut sejak kematian ayahnya dan pernikahan kembali ibunya, ia merasa hidupnya dijalani dalam kesendirian. 

“Orang Kota” lebih gampang merasa kesepian

Perasaan kesepian yang dialami Adril maupun Dheeraj, ternyata dirasakan juga oleh banyak orang. Jajak pendapat litbang Kompas yang dilakukan pada 16–19 Juni 2025 terhadap 512 responden di Indonesia, menemukan bahwa sekitar 1 dari 5 orang (19,97 persen) mengaku merasa kesepian—setidaknya sekali dalam sepekan.  

Jurnalisme data Kompas juga mencatat Kota Jogja menempati skor tertinggi diantara 30 kota besar yang kesepian dengan skor 74,9 poin, diikuti Jakarta Pusat, Makasar, Surakarta, dan Jakarta Selatan. 

Demografi, menurut Hazhira Qudsyi, berdampak pada tingginya prevalensi kesepian di kota-kota. 

“Bisa jadi, banyak dari orang-orang yang tinggal di daerah urban adalah pendatang, yang pindah karena studi lanjut atau pekerjaan baru,” ujar dosen psikologi UII ini.

“Adanya migrasi ini tentunya akan mempengaruhi jaringan sosial mereka yang sudah ada, dan paparan terhadap lingkungan baru dapat menyulitkan mereka untuk menjalin relasi yang mendalam dengan orang lain,” imbuhnya.

Lingkungan tempat tinggal juga punya peran besar dalam memperkuat rasa kesepian. Menurut Qudsyi, sejumlah penelitian menunjukkan sedikitnya ruang hijau dan sulitnya akses ke ruang publik yang nyaman bisa membuat orang merasa makin terasing. 

Bangunan yang terlalu “rapi dan tertutup”- seperti apartemen kecil tanpa ruang berkumpul, atau gedung-gedung yang tidak menyediakan ruang interaksi, secara tidak langsung mengurangi kesempatan orang untuk bertemu, ngobrol, atau sekadar menyapa, ujarnya. Padahal, hal-hal kecil seperti itu bisa jadi penawar ampuh bagi rasa sepi yang diam-diam mengendap.

“Ramalan” Simmel soal orang kota yang gampang didera sepi

Fenomena demikian, sebenarnya telah lama disinggung oleh filsuf Jerman, Georg Simmel, dalam bukunya The Sociology of Georg Simmel (1950). Dalam salah satu esainya di buku tersebut, berjudul “The Metropolis and Mental Life”, Simmel menjelaskan bahwa kehidupan mental orang kota didominasi rasionalitas dan sikap berjaga jarak yang kerap terjadi. 

“Orang kota cenderung menekan emosi dan mengandalkan logika untuk menghadapi stimulasi berlebihan dari lingkungan urban,” katanya.

Ia menulis, “Daripada merespons sesuatu dengan perasaan, orang yang hidup di kota besar cenderung merespons dengan pikiran dan logika. Cara berpikir seperti ini terbentuk karena mereka harus menghadapi banyak tekanan dan rangsangan dalam kehidupan kota.” 

Kondisi tersebut, kata Simell, mengakibatkan mengikisnya kedalaman suatu hubungan sosial di kota besar.

Orang kota yang serba transaksional bikin kesepian merajalela

Pandangan soal ekonomi di kota besar turut memperkuat sikap “rasional” yang dingin dan impersonal dalam kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu termasuk hubungan antar individu diukur berdasarkan nilai tukar dan manfaat, bukan pada kualitas atau keunikan yang ada pada diri masing-masing orang. 

Akibatnya, interaksi manusia di kota menjadi semakin mekanis dan terlepas dari keintiman emosional. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa orang-orang diperlakukan seperti angka: bernilai hanya sejauh mereka berguna secara fungsional. 

“Semua hubungan emosional antarmanusia didasarkan pada keunikan masing-masing orang. Sementara itu, hubungan yang bersifat intelektual memperlakukan orang seperti angka—yaitu sebagai sesuatu yang sebenarnya netral atau biasa saja, dan hanya dianggap penting jika mereka punya sesuatu yang bisa dilihat atau diukur secara nyata,” kata Simell dalam bukunya.

Di sisi lain, dalam komunitas kecil, kedekatan antar individu menciptakan hubungan yang lebih emosional dan bermakna. 

Relasi yang semacam itu sulit bertahan di kota besar karena tekanan ekonomi dan struktur sosial yang menuntut efisiensi dan objektivitas. Kondisi inilah yang, menurut Simmel, membuat kehidupan mental orang kota berada dalam ketegangan terus-menerus antara perlindungan diri dan keterasingan emosional.

Penulis: Khatibul Azizy Alfairuz

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Pembusukan Otak karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2025 oleh

Tags: epidemi sepikeramaiankesepiankesepian orang kotalonelinesspilihan redaksisepi
Khatibul Azizy Alfairuz

Khatibul Azizy Alfairuz

Artikel Terkait

Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO
Esai

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.