Para pemilik sepeda roda besar dan klasik bak melakukan fashion show dalam acara Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 yang diselenggarakan di Lapangan Candi Sewu, kompleks Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Dede Susilo salah satunya. Ia langsung disambut banyak pesepeda lain saat tiba pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 07.30 WIB. Mereka mengaku tertarik dengan replika sepeda jenis penny farthing buatan Dede.
Laki-laki asal Cianjur itu mengaku dapat inspirasi dari James Starley, insinyur Inggris yang mempopulerkan sepeda jenis itu tahun 1870-an. Sesuai dengan namanya, penny farthing berarti koin besar (penny) dan koin kecil (farthing) yang melambangkan keunikan dari sepeda tersebut.
“Keunikannya ada di bagian roda, roda depan ukurannya raksasa sedangkan di bagian belakang lebih kecil,” kata Dede saat ditemui Mojok, Jumat (22/5/2026).

Dede yang ahli mengelas juga menjelaskan kalau sepeda penny farthing miliknya lebih berat untuk dikayuh dibanding jenis sepeda biasanya, karena ia tidak punya rantai dan gigi sepeda. Alhasil, risiko celakanya pun lebih besar.
“Tapi kalau sudah terbiasa sih, tidak apa-apa. Kuncinya jangan takut, jatuh masih bisa coba lagi. Sama seperti hidup,” ucap Dede.
Sepeda roda besar kembali unjuk gigi di Klaten
Selain sepeda milik Dede, beberapa sepeda klasik juga dipamerkan di Museum Gubug Wayang yang tak jauh dari lokasi KLIC Fest 2026, Klaten. Dalam pameran tersebut, beberapa sepeda karya Aryanto tampak menarik minat pengunjung, baik skala nasional maupun internasional.
Tak heran jika pemuda asal Purbalingga itu tampak sibuk menyambut tamu, sekaligus menjelaskan beberapa karyanya. Salah satu koleksi yang menjadi unggulannya adalah penny farthing roda besar sport race 56.
Aryanto menjelaskan bahwa desainnya ia buat sesuai fungsi utama yakni agar menghasilkan kecepatan yang lebih tinggi, serta jarak tempuh yang jauh. Oleh karena itu, sport race 56 sendiri dibuat dengan diameter lingkaran roda mencapai 56 inci. Angka itu menunjukkan kalau ketinggiannya sudah ekstrem.
“Menaiki sepeda setinggi ini memerlukan ekstra kehati-hatian dan pendampingan profesional, karena risiko jatuh tinggi jika tidak tepat tekniknya,” kata Aryanto.
Namun dari segi kenyamanan, Aryanto menegaskan jika pengendara tak perlu khawatir karena modelnya sudah dirancang menggunakan fork double yang sangat lentur. Sebagai informasi, fork merupakan istilah batang yang menghubungkan roda dengan setang atau biasa disebut porak pada sepeda.
Selain itu, sport race 56 juga mempunyai ban pin solid alias roda mati serta ruji yang padat, sehingga kekuatannya lebih optimal.
“Yang jelas model sport race ini dirancang sporty untuk kecepatan luar biasa,” kata Aryanto saat ditemui di Klaten.
Selain model sport race, Aryanto juga merancang sepeda model sport touring yang terbukti pernah juara 2 dalam sebuah kompetisi. Bedanya dengan sport race, kata Aryanto, sport touring memiliki bobot ban kecil yang lebih ringan.
Alasan sepeda klasik kini mahal
Meski mengutak-atik banyak sepeda balap, Aryanto mengaku tak bisa memalingkan muka untuk membuat sepeda penny farthing model klasik. Salah satu cirinya ada pada setang yang menyambung langsung dengan tubuh sepeda, sehingga tidak bisa dilepas.
Model yang dijelaskan Aryanto sama persis dengan sepeda yang dirancang Dede. Hanya saja, Dede berujar warna sepedanya tidak dicat warna-warni seperti karya Aryanto yang dipajang dalam acara KLIC Fest 2026, Klaten.
Menurut Dede, keaslian sepeda akan lebih terasa lewat warna badannya yang sudah berkarat. Bahkan residunya masih membekas saat dipegang. Selain badan sepeda yang berwarna kecoklatan karena karat, keaslian komponen utama mulai dari fork, sadel, sampai pedal juga membuat harga sepeda klasik kini jauh lebih mahal.
Seperti sepeda klasik milik Yuyu. Pesepeda asal Majalengka ini berujar pertama kali membeli sepedanya tahun 2017 seharga Rp350 ribu. Namun, jika dijual di era sekarang harganya bisa mencapai Rp1,5 juta lebih.
“Ini sepeda aslinya dari tahun 1930-an, cuma nggak pernah saya modifikasi. Paling ya ganti ban doang tapi semuanya asli,” kata Yuyu.
Perbandingan harga itu juga dikonfirmasi oleh rekan Yuyu, Asep yang juga ikut sebagai peserta dalam acara KLIC Fest 2026, Klaten. Ia menegaskan selain karena komponen yang original, kemahalan sepeda klasik juga terletak pada setiap pengalaman di baliknya.
KLIC Fest 2026 diikuti 7 ribu peserta
Asep pun mengaku senang bisa menjadi bagian dari acara KLIC Fest 2026. Sebagai pemilik sepeda klasik yang sudah berkeliling selama 5 tahun, acara ini menjadi pengalaman pertamanya berkunjung ke Prambanan, Klaten.
“Saya sendiri asal Tasikmalaya tapi bisa kenal banyak orang dari luar Jawa Barat ya karena gowes,” kata Asep.
Pada akhirnya, pameran sepeda klasik ini menjadi ajang silaturahmi bagi sekitar 7 ribu onthelis dari 40 negara. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo berharap kegiatan ini menjadi simbol bahwa bersepeda bukan sekadar olahraga fisik, melainkan sarana mempererat hubungan lintas negara dan budaya.
“Kami ingin para delegasi (dari 40 negara) bisa menikmati dan melihat bahwa Klaten memiliki budaya, kuliner, masyarakat, dan objek wisata yang luar biasa. Harapannya Klaten semakin dikenal tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” kata Hamenang dikutip dari laman resmi Klaten,” kata Hamenang di hari penutupan KLIC Fest 2026, Minggu (24/5/2026).
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan