Lontong dan kangkung—sebagai kuliner sederhana di Lasem—mengandung simbolisasi perjalanan seorang hamba dalam mendekat pada Kebenaran Sejati: Allah Swt (suluk). Laku ini menjadi bagian penting dalam dakwah ala Sunan Bonang di pesisir pantura.
***
Masyhur diceritakan berdakwah di wilayah Tuban, Jawa Timur, Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang juga melakukan syiar Islam di wilayah barat Tuban: Lasem, Jawa Tengah.
Kira-kira pada 1470-an, Adipati Lasem yang kedua (Adipati Wiranegara) secara khusus meminta Sunan Bonang agar melakukan syiar dan membangun pusat pendidikan Islam di wilayah Kadipaten Lasem.
Sunan Bonang dan Adipati Wiranegara sebenarnya merupakan teman satu almamater di Pesantren Ampeldenta sekaligus punya hubungan kekeluargaan yang erat satu sama lain:
Sunan Bonang merupakan putra dari pengasuh Pesantren Ampeldenta (Sunan Ampel). Sedangkan Adipati Wiranegara adalah putra dari Adipati Lasem pertama, Adipati Wirabraja. Sejak memimpin Lasem, Adipati Wirabraja memang menjalin kedekatan dengan Sunan Ampel. Begitu yang dicatat Akrom Unjiya dalam Lasem Kota Pusaka, sebagaimana ia kutip dari naskah kuno Carita Lasem.
Di Lasem, Sunan Bonang kemudian “membangun” mandala (tempat orang-orang melingkar) untuk belajar Islam, merujuk temuan Muhammad Nabil Fahmi dkk dalam jurnal The History of Sunan Bonang Mandala in The Lasem Chronicle (Carita Lasem).
Dalam mandala itulah Sunan Bonang banyak mengajarkan nilai-nilai Islam. Terutama berkaitan dengan laku suluk dan zuhud sebagai jalan untuk mendekatkan diri dan merasakan kehadiran Allah Swt secara sepenuhnya.
Aktivitas mandala Sunan Bonang itu berada di Bonang-Binangun yang pada masa itu menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Lasem. Hal ini diperkuat oleh beberapa bukti arkeologis seperti Masjid Sunan Bonang, salah satu makamnya (selain di Tuban dan Bawean), serta bende becak (bonang kecil) yang konon digunakan Sang Sunan sebagai penanda waktu salat lima waktu dan mengaji.
Silsilah tasawuf Sunan Bonang: dari Ampeldenta hingga ke Pasai
Selain di Pesantren Ampeldenta, Sunan Bonang tercatat pernah menimba ilmu di Pasai. Ia berangkat bersama Sunan Giri untuk berguru kepada ayahanda Sunan Giri: Syekh Maulana Ishaq.
Di Pasai, keduanya belajar lebih dalam soal tasawuf sebagai ilmu yang berkembang kuat di sana. Saking kuatnya, di masa-masa setelahnya pun Pasai menjadi daerah dengan tradisi sufi sangat kental, seperti ditulis Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII–XVIII.
Azra menunjukkan bahwa ulama-ulama Nusantara yang belajar di Haramain (Mekkah–Madinah/Timur Tengah) membawa pulang bukan hanya ilmu fikih, tetapi juga afiliasi tarekat (sebagai salah satu praktik suluk dalam tradisi sufi).
Adapun Syekh Maulana Ishaq diyakini berasal dari Timur Tengah. Sehingga tidak mengherankan jika ilmu yang ia turunkan pada Sunan Bonang—juga Sunan Giri—lebih banyak soal tasawuf.
Tasawuf masuk ke dalam kuliner tua di Lasem
Nah, nilai-nilai dalam tasawuf kemudian masuk ke dalam kuliner/jenis makanan yang eksis di Lasem pada masa itu: lontong dan kangkung.
Lasem memiliki kuliner khas bernama lontong tuyuhan. Yakni sajian lontong dengan kuah santan encer berwarna kuning kemerahan, dan ayam kampung. Cita rasanya gurih agak pedas. Bumbu-bumbu yang memperkuat rasa kuliner ini antara lain bawang merah, bawang putih, kemiri, jinten, kunyit, cabai, jahe, lengkuas, salam, daun jeruk.
Dari cerita tutur yang berkembang di tengah masyarakat Lasem, lontong tuyuhan disebut sudah eksis sejak zaman Sunan Bonang. Dinamakan tuyuhan karena sentranya ada di Desa Tuyuhan. Di masa itu Desa Tuyuhan dikenal sebagai daerah subur untuk menanam padi. Sehingga beras melimpah untuk diolah menjadi lontong.
Selain itu, masakan sederhana yang mencirikan Lasem adalah cah kangkung (tumis kangkung). Olahannya amat mudah dan sederhana; kangkung ditumis dengan bumbu-bumbu penyedap seperti garam, cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat.
Cah kangkung sebenarnya merupakan olahan khas masyarakat Tionghoa. Masakan ini disinyalir dikenal oleh masyarakat Lasem seiring dengan masuknya komunitas masyarakat Tionghoa yang berlabuh di Pelabuhan Regol (sekarang Binangun) pada 1413 M.
Akrom Unjiya menyebut, komunitas Tionghoa yang menetap di Lasem pada masa itu dipimpin oleh Bi Nang Un (awak kapal armada Laksamana Cheng Ho). Itulah kenapa daerah tersebut kini lebih dikenal dengan nama Binangun.
Suluk Sunan Bonang: dari kuliner di Lasem untuk merasakan Allah Swt
Banyak sumber mencatat, ajaran bermuatan tasawuf paling monumental dari Sunan Bonang adalah karya sastra Suluk Wujil. Dalam prosa tersebut, digambarkan terjadi dialog antara guru-murid yang mengarah pada bagaimana mendekat dan merasakan kehadiran Kebenaran Sejati: Allah Swt.
Untuk mencapainya, seorang hamba harus menjalani laku suluk (perjalanan spiritual). Di antaranya adalah mengamalkan zuhud: tidak mengikatkan diri pada aspek duniawi—bahkan hidup tanpa jubah duniawi alias dalam kesederhanaan.
Di sini, kangkung menjadi simbol kesederhanaan. Mengonsumsi kangkung sama halnya menjaga asupan tubuh dari kenikmatan duniawi yang bisa menghalangi proses merasakan kehadiran Allah Swt. .
Sementara lontong tuyuhan punya beberapa makna simbolis. Bentuk lontong tuyuhan adalah segitiga. Ini diinterpretasikan sebagai tiga tahapan untuk mendekat pada Zat Sejati: syariat (pondasi), tarekat (metode), dan hakikat (tujuan berupa merasakan Kesejatian Allah Swt).
Ini sejalan dengan salah satu ajaran Sunan Bonang sebagaimana diurai Metsra Wirman dalam Pemikiran Taṣawwuf Sunan Bonang (1450–1525M): Sunan Bonang menekankan agar seorang hamba tidak hanya menjalankan ritual ibadah seperti salat secara lahiriah, tanpa tahu makna pentingnya secara batin.
Tetapi seorang hamba harus menjalankan ritual dengan kesadaran penuh—atau benar-benar bisa merasakan—kehadiran Allah Swt. Karena itu akan menjadi “penyelamat dari kesesatan” sebagaimana penuturan al-Ghazali dalam Munqidz al-Dhalal.
Dzauq untuk sampai pada “lontong”
Fase merasakan Kesejatian Allah Swt itu, dalam dunia tasawuf, dikenal dengan istilah dzauq. Dengan merasakan kehadiran Allah Swt secara penuh, maka seorang hamba bisa benar-benar rida atas qadha qadar Allah Swt, sehingga batin menjadi lebih ringan dalam menjalani hidup. Sebab, fase dzauq akan membuat seorang hamba benar-benar bisa mengamalkan Q.S. al-An’am: 162:
اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“…. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Untuk mencapai dzauq, seorang hamba harus menjalani suluk “lontong” (dalam konteks akronim Jawa “olone wis kotong” (keburukannya sudah kosong/hilang): membersihkan diri dari keburukan.
Karena selain zuhud, ada beberapa tahap suluk untuk mengosongkan diri dari keburukan. Kalau menggunakan konsep Abu Nasr al-Sarraj, tahapnya cukup panjang seperti ia paparkan dalam al-Luma fi al-Tasawwuf:
- Taubat: Meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah Swt sepenuhnya.
- Wara’: Berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal-haramnya).
- Zuhud: Melepaskan keterikatan hati pada kemewahan duniawi.
- Fakir: Merasa butuh hanya kepada Allah dan tidak bergantung pada materi.
- Sabar: Tabah dalam menghadapi ujian dan teguh dalam menjalankan perintah.
- Tawakal: Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah setelah berusaha.
- Rida: Menerima dengan lapang dada segala ketentuan Allah tanpa mengeluh.
Jika sudah melewati tahapan-tahapan itu, seorang hamba juga bisa dibilang telah sampai pada titik olone wis kotong (lontong): ketika tidak ada lagi keburukan dalam diri karena pada akhirnya hanya berorientasi pada Allah Swt.
Rasa Sanga merupakan konten khusus Liputan Mojok untuk Ramadan 2026/1447 H. Menarik benang merah khazanah kuliner Jawa dari riwayat Wali Sanga.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
