ADVERTISEMENT

Warteg Jogja Buyarkan Ekspektasi Perantau Surabaya, Rasa Masakan Tak Bisa Dibandingkan dengan Warteg Surabaya

Warteg Jogja Lebih Enak ketimbang Warteg Surabaya MOJOK.CO

Warteg Surabaya murah, faktor di balik rasa hambar

Ada banyak tulisan yang membahas cita rasa masakan Jawa Timur, termasuk Surabaya. Beberapa tulisan menyebut bahwa dibanding Jawa Tengah dan Jawa Barat, masakan Jawa Timur lebih gurih dan pedas. Salah satunya yang tertulis dalam buku 50 Masakan Khas Jawa Timur (2015) yang ditulis Ajen Dinawati.

Sehingga, kalau mendapat suguhan masakan yang manis apalagi hambar, lidah orang-orang Jawa Timuran pasti akan sangat terganggu.

Vis a vis antara Warteg Jogja dengan Warteg Surabaya lalu membawa saya pada obrolan dengan Bima (24), pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur yang saat ini masih kuliah di Jogja.

Tak Cuma di Surabaya, di tempat asalnya pun juga ada Warteg. Rasanya tak jauh berbeda: hambar. Tentu tak cocok dengan lidahnya yang terbiasa dengan rasa pedas. Itulah kenapa saat di Banyuwangi ia terbilang jarang memilih Warteg sebagai opsi tempat makan.

“Mungkin karena harganya dibuat murah. Jadi kadar gula atau garamnya dikurangi. Atau mungkin juga ya karena yang masak bukan orang Jatim aja akhirnya hambar,” beber Bima saat kami diskusi di Akademi Bahagia, Jogja, Selasa (4/6/2024) malam WIB.

Saat kuliah di Jogja pun, Bima sendiri pada dasarnya tak cocok-cocok amat dengan Warteg di Jogja. Terlalu manis. Tapi, paling tidak ada rasanya lah ketimbang hambar babar blas.

Warteg Jogja tak terlalu buruk

Lantaran penasaran, sejak Tribute to Kretek lalu saya mencoba mencicipi beberapa Warteg yang dekat dengan tempat tinggal saya di Ngaglik, Sleman. Ada satu Warteg di sekitaran Jalan Damai yang secara rasa menurut saya tak terlalu buruk.

Saya menyimpulkan, rasanya cukup gurih, meski tentu ada manis-manisnya. Pedasnya juga pas saja menurut saya, karena saya juga tak terlalu pedas. Tapi yang jelas, tak sehambar Warteg-Warteg di Surabaya.

Saya tinggal di Surabaya selama kurang lebih 6/7 tahunan. Kalau warung makan langganan saya di Surabaya tutup, maka Warteg menjadi pilihan. Menu yang saya pilih biasanya nasi kikil+telur dadar kalau tidak nasi lodeh-telur dadar. Bagi saya, itu menu paling masuk di Warteg Surabaya. Bumbunya terasa, tak setipis menu-menu yang lain.

Menu nasi kikil di Warteg Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Uji coba pertama saya di Warteg Jogja adalah mencicipi nasi kikil+telur. Hmmm, rasanya sungguh lebih baik. Lalu saya mencoba memilih menu-menu lain yang terlihat menggoda. Berlanjut juga mencoba beberapa Warteg terdekat.

Warteg di Jalan Damai sejauh ini masih menjadi favorit. Tapi Warteg-Warteg lain di Jogja yang saya coba kemudian ternyata tak buruk-buruk amat.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Warung Pak Ndut Pinus Berjuang Perbaiki Ekonomi Keluarga, Malah Nelangsa karena Sering Dicolong Mahasiswa UIN Jogja yang Tak Punya Malu

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2024 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version