Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Tahu Guling Mbah Joyo: Berani Tolak Ajakan Presiden Soeharto dan Kerabatnya Gara-gara Suka Mabuk

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
22 Februari 2024
A A
Tahu Guling Mbah Joyo: Berani Tolak Ajakan Presiden Soeharto dan Kerabatnya Gara-gara Suka Mabuk MOJOK.CO

Ilustrasi Tahu Guling Mbah Joyo: Berani Tolak Ajakan Presiden Soeharto dan Kerabatnya Gara-gara Suka Mabuk. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mbah Joyo menolak keinginan Soeharto meski sudah dibujuk

Noto Suwito kemudian datang ke pasar untuk menyampaikan permintaan kakaknya, mantan Presiden Soeharto. Namun, jawaban dari Mbah Joyo justru di luar dugaan. Ia tidak mau ke Jakarta!

“Alasannya, bapak itu mabuk kalau naik kendaraan. Pak Lurah (Noto Suwito) itu sudah membujuk, nanti pakai mobilnya. Sudah diminta coba naik dulu, tapi bapak tetap tidak mau,” kata Bu Lis tertawa. 

Iklan
Bu Lis dengan gerobak peninggalan ayahnya, Mbah Joyo MOJOK.CO
Bu Lis dengan gerobak peninggalan ayahnya, Mbah Joyo. (Agung P/Mojok.co)

Bahkan Soeharto lewat kerabatnya membujuk, kalau pun tidak naik mobil, bisa naik kereta, kalau perlu naik pesawat. Namun, tetap saja Mbah Joyo pada pendiriannya, tidak mau ke Jakarta. 

Menurut Bu Lis, Mbah Joyo memang suka mabuk kendaraan kalau bepergian. Sehingga, kalau ada tawaran ke luar kota ayahnya itu memilih tidak ikut.

Sebagai solusi dari permintaan Presiden Soeharto, Mbah Joyo menawarkan yang pergi ke Jakarta adalah anaknya, yaitu Bu Lis untuk menggantikannya. Semua resep sama persis dengan yang ia buat karena, Bu Lis sudah membantu jualan sejak tahun 1998. 

“Akhirnya kami ke Jakarta pertama kali itu tahun 1993. Saat itu saya dan saudara saya yang kesana, gerobaknya ini juga dibawa,” kata Bu Lis. Selanjutnya dari tahun 1992 hingga 1999, minimal dua kali setahun ia wira-wiri ke Jakarta untuk berbagai kegiatan yang melibatkan Tahu Guling Mbah Joyo. 

Seingat dia, pertama kali ke Jakarta saat itu untuk menjadi salah satu kuliner sajian tamu undangan di pernikahan cucu Soeharto, Arie Sigit pada tahun 1992.

12 kali sajikan menu di jamuan makan keluarga Cendana di Jakarta

Yang nggak ia duga, Soeharto memperhatikannya saat mengulek sambal di atas piring. 

”Awakmu kok iso toh Yu ngulek sambel ning piring ngono kuwi (Kamu kok bisa mengulek sambal di atas piring seperti itu, Red)?” ucap Bu Lis menirukan kata-kata Presiden Soeharto pada pernikahan sang cucu. Sang presiden saat itu minta agar sambal untuknya jangan pedas-pedas, cukup satu cabe saja. 

“Setahu saya sekitar 12 kali kami diundang, terakhir itu tahun 1999 saat tahlilan meninggalnya Ibu Tien Soeharto,” kata Bu Lis. Selama dua belas kali ke Jakarta, Tahu Guling Mbah Joyo menyajikan kuliner dalam beragam acara dan tempat. 

“Di Istana Negara pernah, di Cendana sering, juga di Taman Mini,” ujar Bu Lis. 

Bu Lis dapat tawaran jualan di Jakarta

Selain dapat panggilan ke Jakarta oleh keluarga Soeharto, Tahu Guling Mbah Joyo juga terkadang diminta menghadirkan menu untuk keluarga Soeharto yang ada di Yogyakarta. “Pas Pak Probosutedjo mantu, kami juga diundang untuk menghidangkan tahu guling,” katanya.

Menurut Bu Lis, ia sempat juga dibujuk oleh salah satu adik Soeharto yang ada di Jakarta untuk membuka Warung Tahu Guling Mbah Joyo di Jakarta. Segala kebutuhan sudah diurus oleh mereka. 

“Pokoknya tinggal datang saja, tapi saat itu saya menolak karena anak saya masih kecil-kecil. Dulu sempat tak pikir menyesal juga nggak saya ambil, tapi sekarang nggak ada penyesalan,” kata Mbah Joyo.

Iklan

Meski punya nama dan pernah jadi langganan presiden, Tahu Guling MBah Joyo tidak aji mumpung. Selain tidak membuka warung di luar pasar, harga satu porsinya sangat murah. Satu porsi lengkap Rp8 ribu. Sebelum pindah ke pasar sementara, sehari ia bisa menjual 300-an porsi. Namun, saat ini karena lokasi yang belum ideal paling bisa terjual 100-an porsi setiap hari. 

“Kalau alasan tidak buka warung di luar pasar, saya juga bingung Mas, dengan saya sendiri. Sekarang ini sudah cukup kok,” katanya tertawa. 

Sehari-hari ia dibantu suaminya. Sedangkan tiga anak-anaknya mandiri dengan masing-masing punya angkringan. “Saya nggak tahu nanti anak saya meneruskan atau tidak, yang penting mereka sudah mandiri. Punya angkringan masing-masing, hasilnya juga lumayan,” kata nenek 6 cucu ini.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Tahu Gimbal Pak Yono Jogja, Sepiring Sukses Setelah Meninggalkan Semarang

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2024 oleh

Tags: Kuliner Jogjapilihan redaksiSoehartotahu gulingtahu guling mbah joyo
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.