Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

Ilustrasi - Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Para pekerja kantoran, mahasiswa, dan banyak kawula muda di Jakarta tidak asing dengan kedai kopi Kopikina. Cabangnya tersebar dari Tebet, Kemang, Cikini, sampai Kuningan. Dan semuanya nyaris tak pernah benar-benar sepi. Pagi hingga dini hari, orang terus datang dan pergi. 

Tidak hanya untuk nongkrong atau mampir nugas, sesekali ruangannya berubah menjadi panggung kecil untuk diskusi, pertunjukan musik, atau pertemuan komunitas yang hangat dan tanpa formalitas.

Namun, sebelum sampai di titik ini, Kopikina awalnya adalah kedai kopi kecil yang tidak benar-benar diniatkan untuk bisnis serius, tapi sekadar hobi (sampingan). Lantas, titik apa yang kemudian membuatnya menjadi salah satu kedai kopi populer di Jakarta? 

Kedai kopi kecil di Jakarta tanpa modal besar

Kopikina lahir dari proses tumbuh bersama sepasang suami-istri: Raras Cynanthia (Ayas) dan Cornelius Swangga (Angga).

Kopikina mulai ada pada 2023, dirintis oleh Angga, seorang geolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pada saat itu masih bekerja di perusahaan tambang. 

Ketertarikan Angga terhadap kopi tumbuh dari pengalamannya menjelajahi berbagai daerah di Indonesia sebagai geolog. Dari sana, ia mulai mengenal kekayaan kopi Nusantara dan specialty coffee yang saat itu mulai berkembang di Indonesia. 

“Hanya saja waktu itu company dijalankan hanya sebagai hobi saja. It’s not a real business. Kita nggak mikirin revenue atau profit,” ujar Ayas, alumni penerima Beasiswa LPDP angkatan paling awal yang kini merupakan Chief Strategic Officer Kopikina, seperti diceritakan di laman resmi LPDP. 

Ide membuat kedai kopi waktu itu terbersit karena pada masa itu tren coffee culture mulai masuk ke Indonesia, dipengaruhi oleh banyak mahasiswa Indonesia yang kembali dari Australia dan membawa kultur specialty coffee ke Jakarta, yang kemudian membuat coffee shop dengan konsep modern dan modal besar bermunculan. 

Akan tetapi, Ayas dan Angga sadar, mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing secara langsung dengan gelombang coffee shop besar tersebut. Maka, alih-alih memaksakan diri membuka kafe dengan modal besar, mereka memilih strategi yang berbeda.

“Kalau kita mau compete sama coffee shop yang fancy, kita nggak bisa. Jadi waktu itu kami berpikir, gimana kalau jadi supplier-nya saja,” katan Ayas.

Begitulah akhirnya kedai kecil mereka—yang saat itu berlokasi di pinggir Jalan Abdullah Syafi’i, Jakarta—mulai berkembang sebagai roastery dan pemasok kopi untuk berbagai perusahaan. 

Dengan modal yang lebih kecil, mereka mulai melakukan roasting green bean dan menawarkan produk ke berbagai klien bisnis. “Kafenya ada, tapi cuma sebagai branding saja. Suami saya waktu itu jadi kasir sendiri, jadi barista sendiri, semuanya dikerjakan sendiri. Kalau bicara revenue generator, jelas dari kontrak dengan B2B clients,” kenang Ayas.

Gelombang PHK dan keputusan tinggalkan korporasi untuk fokus ke kedai kopi

Di tengah perkembangan bisnis tersebut, kehidupan pribadi mereka juga mengalami perubahan besar. Setelah kelahiran anak kedua, situasi perusahaan tempat Angga bekerja mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Peristiwa itu justru menjadi titik balik yang membuat suaminya fokus penuh membangun Kopikina.

Ayas sendiri saat itu sebenarnya tengah berkarier di perusahaan besar, Sinar Mas. Sudah berjalan selama sekitar tiga tahun. Namun refleksi soal makna pekerjaan dan kontribusi membuatnya memutuskan berhenti. 

“Ketika saya bekerja di perusahaan besar, saya merasa hanya bisa mensejahterakan diri saya sendiri,” ungkapnya.

Sebaliknya, ketika membangun bisnis bersama, ia melihat ada dampak yang jauh lebih luas yang dapat diberikan kepada banyak orang. Level of fulfillment-nya beda kalau kata Ayas. 

Pemikiran itulah yang akhirnya membuat Ayas memutuskan meninggalkan dunia korporasi dan fokus penuh membangun Kopikina bersama suaminya sejak beberapa tahun terakhir. 

Bekal dari belajar memahami perilaku manusia di Inggris lewat Beasiswa LPDP

Sebagai informasi, Raras Cynanthia, memang punya ketertarikan untuk memahami cara pikir dan perilaku manusia. Itulah kenapa ia memilih kuliah S1 Psikologi Universitas Gadjah Mada.  

Minatnya pada perilaku manusia terus berkembang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan master di University of Sheffield, Inggris, dengan mengambil program MSc Marketing Management Practice. 

Tak lama setelah menyelesaikan studi masternya, beasiswa LPDP kala itu baru saja dibuka. Berbeda dengan proses rekrutmen beasiswa saat ini, kala itu LPDP masih mencari bibit-bibit unggul calon penerima beasiswa dengan strategi “jemput bola”, yakni menebar informasi ke kampus-kampus. 

Raras Cynanthia, alumnus Beasiswa LPDP yang terapkan ilmunya untuk kembangkan Kopikina jadi kedai kopi populer Jakarta MOJOK.CO
Raras Cynanthia, alumnus Beasiswa LPDP yang terapkan ilmunya untuk kembangkan Kopikina jadi kedai kopi populer Jakarta. (Dok. LPDP)

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Ayas memutuskan ikut seleksi dan berangkat kembali ke Inggris untuk studi doktor di University of Manchester, mempelajari consumer behavior dalam usia yang relatif masih begitu muda, yakni 23 tahun, lalu menyelesaikan studi pada usia 26 tahun. 

Tahun-tahun yang Ayas habiskan di Inggris bukan sekadar soal menuntaskan gelar. Di sana, ia belajar sesuatu yang lebih susah dirumuskan, yaitu bagaimana manusia mengambil keputusan, membentuk selera, dan memaknai pengalaman. 

Lewat riset consumer behavior, ia mulai menyadari bahwa di balik setiap pilihan konsumen tersimpan lapisan psikologis yang kompleks—dan pemahaman itulah yang kemudian mewarnai cara berpikirnya sampai sekarang. Bekal itu kemudian ia bawa dalam dunia kerja, di antaranya ketika menemani suami mengembangkan Kopikina. 

Sebagai Chief Strategic Officer, Ayas berperan dalam merancang strategi pertumbuhan bisnis sekaligus membangun pengalaman pelanggan yang menjadi identitas Kopikina hingga hari ini.

Growth Mindset: nilai yang membuat Kopikina jadi kedai kopi populer di Jakarta

Bagi Ayas, salah satu nilai yang paling dijaga dalam membangun Kopikina adalah growth mindset. Menurutnya, sejak awal Kopikina dibangun dengan keyakinan sederhana: bisnis harus terus bertumbuh dan beradaptasi. Sebab ketika sebuah organisasi berhenti berkembang, di titik itulah ia perlahan kehilangan relevansinya.

“Spirit yang kita bangun dari awal sampai sekarang adalah growth mindset. Besok harus lebih baik daripada hari ini. When you stop growing, then you stop living,” ujarnya.

Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam budaya kerja yang sangat terbuka terhadap eksperimen, perubahan, dan proses trial and error. Memiliki growth mindset bukan berarti terus mencoba tanpa arah, melainkan memahami kapan sebuah strategi perlu dihentikan, diperbaiki, atau dikembangkan kembali.

“Ketika kita punya new business idea atau marketing campaign, kita cepat sekali untuk A/B testing, trial error, coba lagi. Jadi bukan sekadar trial-error-error, tapi kita ngerti when to stop and when to improve,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang membantu Kopikina bertahan di tengah perubahan industri kopi yang sangat dinamis.

“Customers are very dynamic, apalagi di Jakarta. Everything is so rapidly changing,” ujarnya.

Oleh karena itu, meskipun Kopikina bergerak di bidang makanan dan minuman, pada akhirnya yang mereka bangun adalah lifestyle brand. Dengan begitu, memahami perubahan tren, perilaku pelanggan, hingga kebutuhan emosional konsumen menjadi hal yang sangat penting dalam mempertahankan relevansi brand di tengah cepatnya perubahan kultur urban.

Membangun ekosistem, bukan sekadar kedai kopi

Tidak hanya bersaing lewat rasa. Begitu kata Ayas soal adaptasi yang dilakukan Kopikina di tengah industri kopi di Jakarta yang kian sesak. Yang membuat Kopikina berbeda, kata Ayas, bukan hanya apa yang ada di dalam cangkir, melainkan apa yang dibangun di sekelilingnya. Selain menjalankan jaringan kafe, Kopikina juga mengoperasikan lini roastery berskala besar yang menjangkau berbagai mitra di seluruh Indonesia.

“Kita punya pabrik dengan kapasitas produksi sampai puluhan ton per bulan di Cikarang. Karena kita supplying B2B players di berbagai daerah, kita juga jadi semacam data center,” jelasnya.

Dari jaringan distribusi itulah Kopikina bisa membaca denyut pasar secara langsung—kopi jenis apa yang paling dicari, wilayah mana yang konsumsinya paling tinggi. 

Selain itu, Kopikina secara aktif merawat hubungannya dengan komunitas, seni, dan kultur anak muda. Cabang-cabangnya kerap menjadi titik temu berbagai kelompok—komunitas lari pagi, diskusi buku, kelas merajut, hingga pertunjukan musik. Dalam satu hari, sebuah cabang Kopikina bisa bertransformasi beberapa kali.

“Jam tujuh pagi penuh sama runner, lalu siangnya ada bedah buku, malamnya bisa ada music concert,” ungkap Ayas. .

Kolaborasi lintas komunitas dan genre pun menjadi semacam tradisi di sini. Kopikina pernah menghadirkan Klasik Klasik Orchestra, juga musisi seperti Jason Ranti yang suaranya akrab di telinga anak muda urban. Semua itu, menurut Raras, berakar pada satu gagasan yang terus mereka jaga sejak awal.

“Kalau harus dirangkum, spirit-nya adalah specialty for everyone,” ujarnya.

Gagasan itulah yang perlahan mengubah Kopikina dari sekadar tempat membeli kopi menjadi ruang hidup. Tempat orang datang bukan hanya untuk minum, tapi untuk bertemu, berdiskusi, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu. 

Tumbuh bersama ratusan petani kopi dan karyawan

Pada akhirnya, Kopikina berkembang menjadi salah satu brand kopi dengan ekosistem bisnis cukup besar di Jakarta. Saat ini, Kopikina menjadi lahan mencari nafkah bagi 260 karyawan yang seluruhnya berbasis di wilayah Jakarta dan sekitarnya. 

Ratusan petani kopi dari berbagai penjuru Nusantara pun turut terlibat dalam rantai panjang bisnis Kopikina. Pasalnya, setiap bulan, Kopikina menyerap lebih dari 50 ton kopi dari mereka—diproses di roastery, lalu mengalir ke klien-klien B2B maupun ke meja-meja kafe milik mereka sendiri.

Bagi Raras, angka-angka itu bukan tujuan akhir. Pertumbuhan bisnis, menurutnya, memang seharusnya bisa dirasakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya—petani di ladang, pekerja di roastery, barista di balik bar, hingga tim yang bekerja di balik layar setiap harinya. 

Maka tidak mengherankan ketika pada 2018 silam Kopikina mendapat penghargaan sebagai salah satu penyumbang pajak terbesar dari KPP Matraman.

Sumber: LPDP

BACA JUGA: Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version