Tiga wisatawan asal Tangerang memilih berjalan kaki mencari Nasi Kuning Muna Cung, beberapa jam setelah tiba di Jogja. Perjalanan pagi mereka menunjukkan bahwa banyak tempat menarik di sekitar Malioboro yang belum banyak diketahui wisatawan.
***
Bus yang membawa Chira (22), Dinda (22), dan Lia (23) tiba di Terminal Giwangan sekitar pukul 04.00 WIB. Dari sana, tiga sahabat asal Tangerang, Banten, tersebut menuju sebuah homestay di tengah Kampung Pathuk, Kota Yogyakarta.
Lokasi penginapan mereka tidak jauh dari Malioboro, salah satu tujuan utama selama berlibur di Jogja. Namun, beberapa jam setelah tiba, mereka justru tidak langsung menuju jalan yang menjadi ikon wisata tersebut.
Nasi Kuning Muna Cung jadi daya tarik wisatawan
Seorang pengemudi Grab memberi tahu mereka tentang tempat sarapan enak di dekat penginapan: Nasi Kuning Muna Cung di pintu selatan Pasar Pathuk.
“Dari driver Grab, kami diberi tahu kalau ada tempat sarapan enak di dekat tempat kami menginap. Katanya harus coba karena viral,” kata Chira kepada Mojok, Selasa (21/7/2026).
Penasaran dengan rekomendasi tersebut, mereka mencari informasi tambahan melalui media sosial. Foto nasi kuning dengan berbagai pilihan lauk yang mereka temukan membuat ketiganya sepakat mencobanya.

Setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak, mereka berjalan kaki menuju Pasar Pathuk. Jaraknya sekitar setengah kilometer dari homestay dan dapat ditempuh kurang dari delapan menit.
Ketika mereka tiba, antrean telah terbentuk di depan Nasi Kuning Muna Cung. Ketiganya bergabung bersama warga, pekerja, dan wisatawan lain yang sama-sama mencari sarapan.
Selama beberapa hari di Jogja, mereka berencana mengunjungi pantai-pantai di Gunungkidul, kawasan Merapi, menikmati kuliner, dan berjalan kaki menyusuri Malioboro.
“Rencana kami mau ke pantai-pantai di Gunungkidul, ke Merapi, kulineran, dan jalan kaki keliling Malioboro,” ujar Dinda.
Meski sudah beberapa kali mengunjungi Jogja, Dinda dan teman-temannya baru mengetahui bahwa Pasar Pathuk menyimpan banyak pilihan kuliner pagi. Selama ini, mereka lebih mengenal Pasar Ngasem sebagai tujuan sarapan.
“Kami suka tempat-tempat kuliner seperti ini. Kalau didukung publikasi, pasti lebih banyak orang tahu kalau di sekitar Malioboro banyak tempat kuliner,” katanya.
Pengalaman mereka memperlihatkan bahwa wisatawan sebenarnya bersedia meninggalkan jalan utama untuk memasuki kampung dan pasar tradisional. Mereka hanya membutuhkan informasi, jalur yang mudah dijangkau, serta alasan untuk berbelok.
Nasi Kuning Muna Cung, hanya beberapa menit berjalan kaki dari Malioboro
Saya mencoba perjalanan serupa dari Jalan Margo Mulyo, bagian selatan kawasan Malioboro. Sepeda motor saya titipkan di Parkir Beskalan, tempat parkir yang dikelola Dinas Perhubungan DIY.
Dari pintu masuk Jalan Beskalan, saya berjalan menuju Pasar Pathuk. Jaraknya sekitar 220 meter dan dapat ditempuh kurang dari lima menit dengan berjalan santai.
Sepanjang perjalanan, suasana wisata Malioboro perlahan berganti dengan kehidupan pagi warga. Sejumlah toko masih tertutup, sementara pedagang mulai menyiapkan dagangan dan warga berjalan membawa belanjaan.
Sesampainya di pintu selatan pasar, orang-orang sudah mengantre di depan Nasi Kuning Muna Cung. Udara pagi yang dingin membuat sebagian pembeli mengenakan jaket. Di balik jaket tersebut terlihat seragam pekerja. Sebagian pembeli lainnya memakai kaus dan sepatu olahraga.
Di depan mereka, nasi kuning terus berpindah dari bakul ke kertas pembungkus. Pembeli dapat memilih lauk berupa empal, ayam suwir, perkedel, telur, babat, iso, hingga sate ayam. Kering kentang, serundeng, dan orek tempe melengkapi nasi berwarna kuning dengan aroma rempah tersebut.
Orang perlu lebih tahu potensi kuliner di sirip-sirip Malioboro
Di luar antrean, saya bertemu Ameng (60), wisatawan asal Batam yang datang bersama istri dan anaknya. Pagi itu, mereka sengaja berjalan-jalan di Pasar Pathuk.
Anak laki-lakinya, Sopri (30), yang akrab dipanggil Acong, pernah kuliah di Jogja pada 2012 hingga 2016. Pada masa itulah ia mengenal Muna Cung dan menjadikannya salah satu tempat sarapan langganan.
Bertahun-tahun setelah menyelesaikan kuliah, Acong kembali ke Jogja dan mengajak kedua orang tuanya mencicipi nasi kuning tersebut.
“Orang tua saya suka main ke pasar. Jadi, sekalian saya ajak ke sini karena ini nasi kuning yang paling saya suka,” kata Acong.
Sebelumnya, ia pernah mengajak orang tuanya berjalan menyusuri Malioboro dari ujung ke ujung dan berwisata kuliner di Pasar Ngasem. Kali ini, ia ingin memperkenalkan Pasar Pathuk yang menurutnya belum seramai tujuan kuliner lainnya.
“Kalau Pasar Ngasem mungkin sudah banyak yang tahu, sudah viral. Daerah sekitar Malioboro seperti Pasar Pathuk ini belum banyak yang tahu,” ujarnya.
Di Batam, kata Acong, keluarganya terbiasa menikmati nasi lemak. Namun, ia meyakinkan orang tuanya bahwa nasi kuning Muna Cung tidak kalah menarik untuk dicoba.
Menurutnya, kuliner rumahan di pasar-pasar tradisional Jogja terutama yang ada di sekitar Malioboro perlu lebih banyak dikenalkan.
Wisatawan yang datang ke Malioboro dengan demikian tidak hanya berjalan di jalan utama, tetapi juga memasuki kawasan di sekitarnya.
“Pilihan kuliner di pasar-pasar Jogja beragam. Mungkin banyak yang belum tahu karena tahunya kuliner kekinian. Makanan rumahan seperti nasi kuning ini banyak yang belum tahu,” katanya.
Bermula dari resep majalah dan bakmi berformalin
Di balik sarapan yang ditemukan wisatawan melalui layar ponsel itu, terdapat perjalanan panjang Muna dan suaminya, Ardi (60). Sejak kecil, Ardi akrab dipanggil Icung. Panggilan tersebut kemudian dipadukan dengan nama istrinya menjadi Muna Cung.
Pagi itu, Muna tidak terlihat melayani pembeli.
“Hari ini Ibu tidak ke warung, sedang istirahat di rumah,” kata Ardi yang lebih sering dipanggil Pak Cung.
Nasi Kuning Muna Cung dirintis sekitar tiga dekade lalu. Sebelumnya, Muna berjualan makanan dengan berkeliling di dalam Pasar Pathuk. Ia kemudian menetap dan menjual bakmi, bihun, serta capcai.
“Saya masih ingat, satu bungkus waktu itu harganya Rp500,” ujar Pak Cung.
Dagangannya sempat laris. Namun, pada masa itu beredar kekhawatiran masyarakat mengenai penggunaan formalin pada sejumlah produk mi basah. Meskipun tidak berkaitan langsung dengan dagangan mereka, kabar tersebut membuat pembeli menjauh.
Pak Cung dan Muna kemudian mencari menu lain yang dapat mereka jual. Melalui sebuah majalah, mereka menemukan resep nasi kuning. Saat itu, menurut Pak Cung, belum ada pedagang nasi kuning di Pasar Pathuk.
Mereka menguji resep tersebut berkali-kali. Percobaan pertama tidak selalu berakhir memuaskan. Pak Cung masih mengingat pesanan besar pertama yang mereka terima.
“Dulu, awal-awal jualan kami pernah dikomplain karena perkedel buatan kami ambyar. Padahal, orangnya pesan 500 biji dan itu pesanan pertama kami,” katanya sambil tertawa.
Masukan dari para pembeli kemudian membantu mereka memperbaiki resep. Dari resep yang ditemukan di majalah, keduanya menemukan takaran yang dianggap paling sesuai.
Mereka juga menambah pilihan lauk, seperti empal, babat, iso, kering kentang, dan ayam suwir. Hanya sate ayam yang tidak mereka produksi sendiri.
Pasar Pathuk, bukan semata tempat mencari nafkah
Bagi Pak Cung dan Muna, Pasar Pathuk bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Pasar tersebut menjadi bagian dari sejarah keluarga mereka. Orang tua dan kakek-nenek Pak Cung juga pernah berjualan di sana.
“Dulu mereka jualan bakmoy, laris dan terkenal. Namanya Bakmoy Mbah Kerto Beskalan. Namun, tidak ada yang meneruskan, termasuk saya,” katanya tertawa.
Pak Cung dan Muna memilih memulai usaha sendiri. Meski demikian, orang tua mereka tetap memberikan saran, salah satunya agar Muna tidak lagi berjualan keliling dan mulai menempati tempat tetap.
Kini, Pak Cung mengalami kegelisahan serupa dengan generasi sebelumnya. Dua anaknya belum menunjukkan keinginan untuk meneruskan usaha nasi kuning tersebut.
“Dua anak saya kelihatannya tidak ada yang mau meneruskan,” kata kakek dua cucu tersebut sambil tertawa.
Namun, ia bersyukur hasil berjualan nasi kuning mampu mengantarkan kedua anaknya menjadi sarjana. Keduanya merupakan lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Seorang anaknya kini bekerja dan berkeluarga di Malang, sedangkan seorang lainnya tinggal di Yogyakarta.
Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA Sisi Magis Jalanan Maliboro Jogja Era 1960-an Bisa Jadi Renungan bagi Komunitas Sastra Hari ini