Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa. (Gemini Generated by Aly Reza)

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja. Beberapa orang bahkan menyebutnya terlalu overrated. Namun, bagi perantau dari desa, bakpia justru menyimpan nilai sosial yang sangat berharga. 

***

Setiap hendak pulang kampung ke Kertosono, Jawa Timur, Fardi (24) yang merantau di Jogja sejak kuliah hingga kini bekerja nyaris tidak pernah absen membawa bakpia. Sering kali bakpia kukus sebagai jenis bakpia yang cukup disukai orang-orang rumah. 

Kadang kala Fardi berinisiatif sendiri: meski orang rumah tidak menitip, ia sengaja beli beberapa kotak untuk dibawa pulang. Tidak jarang pula ibunya sendiri yang secara khusus meminta dibawakan. 

“Kalau aku mengabari mau pulang di akhir pekan atau pas libur panjang seperti pekan ini, ibu titip, dibawakan,” ujar Fardi, Kamis (20/8/2026). 

Bakpia itu biasa saja, tapi nilainya bukan hanya soal rasa

Ada masanya ketika Fardi pulang tanpa membawa bingkisan apapun. Ia merasa bahwa bakpia rasanya ya begitu-begitu saja. Varian rasa-rasa pun bisa saja. 

Sejumlah temannya di Jogja pun berkata demikian, sampai-sampai heran dengan kebiasaan Fardi yang suka membawa bakpia sebagai oleh-oleh. “Apa orang rumahmu nggak bosan kalau dibawakan bakpia terus?” Begitu tanya mereka. Sehingga Fardi pun mengira orang rumah pasti akan bosan kalau ia pulang selalu membawa oleh-oleh khas Jogja tersebut. 

Namun, dugaannya keliru. Karena ternyata, diam-diam ibunya kerap menunggu oleh-oleh itu, hanya saja tidak berani bilang karena takut dikira membebani Fardi. 

“Ya aku bilang saja ke ibu, kalau pengin dibawakan bilang saja. Pasti aku bawakan toh harganya nggak mesti mahal,” kata Fardi. 

Jika Fardi pulang membawa oleh-oleh beberapa kotak, orang rumah (orang tua dan adiknya) langsung menyambut dengan antusias. Mereka tidak peduli mau harga murahan sekalipun, bagi mereka rasanya tetap istimewa

Bahkan, kata Fardi, sering kali mereka tidak langsung menghabiskan. Diwet-wet kalau istilah Jawa (dihemat-dihemat): dimakan hanya beberapa biji perhari, agar di hari berikutnya masih ada yang bisa dilahap. 

Simbol “peduli” perantau Jogja ke keluarga

Lebih dari itu, lanjut Fardi, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh bakpia Jogja ternyata menjadi simbol sayang ke keluarganya di rumah. Fardi tahu itu dari rasan-rasan dengan paman dari ibu, suatu kali. 

Malam itu, paman Fardi berkunjung ke rumah Fardi. Ibu Fardi mengeluarkan bakpia bawaan Fardi sebagai hidangan di atas meja, untuk melengkapi segelas kopi. 

“Wah ini, makanan yang nggak ada di Kertosono ini,” ujar paman Fardi, sebagaimana digambarkan ulang oleh Fardi. 

Paman Fardi mencomot dua biji. Lalu bercerita kalau anaknya yang merantau di Surabaya tidak pernah berinisiatif membawakan oleh-oleh khas Surabaya. Pernah paman Fardi meminta, tapi malah dijawab, “Oleh-oleh Surabaya itu apa sih, bolu kukus rasanya ya gitu-gitu aja.

“Oleh-oleh sesuatu yang nggak ada di daerah asal itu bagi kami orang tua istimewa loh. Kadang kami nitip ke anak, tapi nanti uangnya kan kami ganti. Karena kami orang tua yang nggak pernah ke mana-mana ini kadang cuma pengin merasakan sesuatu yang berbeda,” ujar paman Fardi waktu itu. 

5 biji bakpia yang berharga di mata tetangga dan saudara

Sejak merantau di Jogja pada 2024, saya pun termasuk orang yang jarang membawa oleh-oleh bakpia tiap pulang ke Rembang. Karena saya merasa memang itu oleh-oleh biasa saja. Mending saya traktir orang tua waktu di rumah saja. 

Sampai akhirnya ibu saya secara khusus menitip. Saya bawakan.

Bagi ibu, rasa bakpia Jogja memang biasa saja. Tapi ia memang tidak sedang mengincar cita rasa dari oleh-oleh khas Jogja tersebut.

Ibu hanya ingin tetangga dekat (yang kerap membantu ibu), simbah, dan saudara kandungnya (yang tidak pernah ke mana-mana) bisa ikut merasakan. Itulah kenapa ketika belakangan ia menjadi sering ke Jogja (karena jalan-jalan pabrik maupun sekadar menemui keluarga kecil saya di Jogja), ia pasti minta diantar beli oleh-oleh bakpia sebelum pulang ke Rembang. 

Di rumah, ibu mencoba membagi rata bakpia yang ia bawa dari Jogja: 5 biji untuk setiap orang yang hendak ia beri. Angka yang kecil saja memang. Tapi setiap orang yang menerima ternyata sangat semringah.

Sebab, mereka tidak pernah ke Jogja dan belum tentu bisa jalan-jalan ke Jogja karena kondisi ekonomi. Dengan begitu, bakpia pemberian ibu menjadi semacam obat penasaran perihal Jogja yang kerap jadi perbincangan dalam konteks jalan-jalan. 

Bakpia Jogja jadi perantara srawung di desa

Pada akhirnya, bakpia Jogja menjadi perantara bagi ibu untuk srawung di desa: dengan saudara dan tetangga. 

Sebenarnya motif ibu sederhana: memang ia suka berbagi saja dengan tetangga. Kadang ia malah merasa tidak enak karena hanya bisa berbagi tidak seberapa: misalnya bakpia yang hanya 5 biji. 

Namun, di luar dugaan, dari 5 biji tersebut justru membuat tetangga dan saudara menjadi begitu baik terhadap ibu (dan keluarga kami). Sering kalau ibu punya hajat tertentu, tetangga maupun saudara datang membantu dengan sukarela. Begitu juga dengan bantuan-bantuan fisik lain. 

Bakpia Jogja, yang sebelumnya saya anggap biasa saja sehingga agak ogah membawanya sebagai oleh-oleh, ternyata punya nilai sosial yang sangat berharga. Maka dari itu, meski saya bosan betul dengan oleh-oleh ini, tapi setiap pulang ke Rembang saya usahakan untuk membawanya barang beberapa kotak. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pertama Kali ke Jalan Malioboro Jogja buat Beli Bakpia, Dibuat Kaget karena Tak Sesuai Perkiraan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version