Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kuliah di Kampus Ternama Langsung Rendahkan Mahasiswa UIN Bakal Susah Cari Kerja, Berujung Malu Jadi Sarjana Pengangguran Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 Agustus 2025
A A
Pamer kuliah jurusan top di kampus ternama, rendahkan mahasiswa UIN malah berujung malu sendiri jadi sarjana pengangguran MOJOK.CO

Ilustrasi - Pamer kuliah jurusan top di kampus ternama, rendahkan mahasiswa UIN malah berujung malu sendiri jadi sarjana pengangguran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Universitas Islam Negeri (UIN) kerap menjadi kampus yang dianggap sebelah mata. Terutama oleh mahasiswa dari kampus-kampus ternama. Namun, jurusan dan nama besar kampus nyatanya tidak mesti menjamin masa depan cerah sarjana yang diluluskan. Karena nyatanya lulusan kampus ternama banyak juga yang jadi sarjana pengangguran.

***

Data BPS 2025 menyebut, saat ini ada 1,1 juta sarjana jadi pengangguran. Beberapa temuan Mojok menunjukkan, sarjana dari kampus besar pun turut menyumbang angka dalam 1 juta sarjana pengangguran tersebut.

Situasi itu membuat narasumber Mojok merasa malu sendiri. Sebab, hanya karena dulu menjadi mahasiswa kampus ternama, lalu merasa lebih unggul dari mahasiswa UIN. Sementara setelah lulus, nasibnya tidak lebih baik dari sarjana UIN tersebut.

Banggakan jurusan dan kampus ke mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN)

Di meja-meja tongkrongan, saat masih aktif menjadi mahasiswa sebuah kampus ternama di Surabaya, Jawa Timur, Rodri (24), bukan nama sebenarnya, kerap ngrasani mahasiswa UIN.

Rodri kuliah mengambil jurusan yang, secara kasat mata punya peluang besar di dunia kerja. Yakni Ilmu Komunikasi.

Beberapa peluang kerja yang menanti misalnya, menjadi humas di instansi hingga menjadi pekerja media. Sementara, di mata Rodri dan teman-temannya, mahasiswa UIN hanya sibuk menggeluti teks-teks agama yang sulit ditemukan mana sisi praktisnya.

“Anggapan itu bermula karena kami sempat satu forum dengan mahasiswa UIN. Mereka itu suka sekali kalau diskusi soal teks-teks agama. Dan itu menurut kami nggak bikin berkembang,” tutur Rodri, Selasa (5/8/2025) pagi WIB.

“Jurusan di UIN juga terdengar nggak praktis. Misalnya, Tafsir, Perbandingan Mazhab. Yang lain-lain pasti embel-embelnya harus ada Islamnya. Misalnya Ekonomi Islam. Seperti membatasi diri,” sambungnya.

Pamer kuliah di jurusan keren dan kampus ternama

Sudah sejak kelulusan SMA Rodri menyadari, anak-anak yang kuliah di UIN memang langsung disepelekan. Rodri melihat bagaimana guru-guru di sekolahnya lebih membanggakan alumni-alumninya yang kuliah di kampus negeri non UIN. Apalagi jika di kampus ternama dan di jurusan yang praktis untuk bekerja.

Selain itu, Rodri juga melihat persepsi demikian misalnya saat sedang ada proyek organisasi atau proyek kampus bareng mahasiswa UIN.

“Misalnya ada yang tanya kuliah di mana? Kalau dijawab UIN atau IAIN, responsnya kalau nggak tahu ya cuma “oh”. Sementara kalau nyebut nama kampus ternama seperti kampusku, pasti respons orang akan antusias,” ujar Rodri.

Alhasil, lambat laun itu membuat Rodri agak menyombongkan diri. Merasa lebih unggul dari mahasiswa UIN. Percaya diri penuh kalau setelah sarjana nanti dia bakal gampang cari kerja.

Di tahap parah, Rodri mengakuinya sendiri, jika di tongkrongannya ada yang adu nasib perihal salah jurusan, pasti UIN bakal jadi sasaran batas terburuk.

Iklan

“Kayak begini. Ada yang bilang salah jurusan dan bingung nanti kerja apa kan. Terus kusadarkan, sesalah-salahnya jurusan yang diambil, seenggaknya punya label sarjana dari kampus ternama. Sementara UIN, selain salah jurusan, kayaknya kalau kuliah di sana problemnya sekaligus salah kampus,” kata Rodri.

Jahat memang. Tapi Rodri mendasari ucapannya itu kenyataan bahwa potensi kerja formal bagi sarjana Universitas Islam Negeri—jika mengandalkan ijazah—hanya terpaku di Kementerian Agama (Kemenag).

Malu sendiri karena jadi sarjana pengangguran

Jangan meremehkan atau merendahkan orang lain, pada akhirnya itu menjadi pelajaran hidup yang Rodri terima. Selain kesadaran bahwa nasib orang tidak ada yang tahu. Dan label jurusan maupun kampus top tidak serta merta bisa menjamin bakal bernasib baik.

Lulus tepat waktu pada 2023 lalu, Rodri mengaku amat kesulitan mencari pekerjaan.

Sebenarnya, awalnya ada beberapa lamaran pekerjaannya yang tembus. Namun, tidak diambil karena gajinya jauh di bawah UMR Surabaya. Rasa-rasanya tidak sepadan dengan gelar sarjana dari kampus ternama—cumlaude lagi—yang dia sandang.

Oleh karena itu, Rodri memutuskan menarget lolos seleksi CPNS pada 2024 lalu. Sayangnya, jalannya tak semudah itu. Dia tak lolos.

“2025 masih mau coba CPNS lagi. 2024 itu sempat jadi sarjana pengangguran. Ngenes sekali. Tapi terus ya sudah cari-cari kerja seadanya dulu,” ungkap Rodri.

Batinnya makin terasa nelangsa setelah tahu, beberapa kenalannya yang sarjana UIN ternyata jauh lebih sukses ketimbang Rodri. Ada yang lolos CPNS (jadi pegawai KUA), ada yang dapat beasiswa S2 di Timur Tengah, bahkan di Pengadilan Agama pun ada.

“Jadi pegawai KUA, sebutlah penghulu ya, nggak bisa dianggap sepele itu. Apalagi PNS. Nggak cuma dapat gaji pasti hingga tua, tapi kalau ngomongin duit, ceperan setiap menikahkan orang itu lumayan loh kalau di desa,” beber Rodri.

Mahasiswa UIN nyaris DO karena tak tahan diremehkan

Dari sudut pandang mahasiswa UIN sendiri, Mojok berbincang dengan Sahlun (27), sarjana UIN asal Madura, Jawa Timur.

Sebagai alumni pesantren dengan ijazah formal madrasah aliyah swasta, Sahlun tidak punya pilihan lain selain kuliah di UIN untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Karena UIN lah kampus yang bisa mengakomodir bekal-bekal pengetahuan yang dia bawa dari pesantren.

Apa yang diceritakan Rodri sebelumnya benar belaka. Bahwa berlabel mahasiswa UIN memang kerap dipandang remeh oleh banyak orang. Karena dianggap tidak praktis.

“Aku bahkan sempat di tahap nyaris keluar karena tiba-tiba di tengah jalan merasa salah jurusan dan kampus hahaha. Aku ambil Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (IAT). Bayangkan, mau kerja apa itu nanti?” Ucap Sahlun.

Jadi PNS, punya bisnis sendiri

Untungnya niat men-DO-kan diri dari kampus urung Sahlun lakukan. Dia memilih merampungkan kuliahnya, meski lulus agak terlambat.

Dalam perjalanan merampungkan kuliahnya itu, Sahlun yakin belaka, bahwa kerja layak atau tidak, tidak ada hubungannya dengan label sarjana kampus apa? Selain itu, dia berkeyakinan, prinsip hidup itu asal nggak gengsi. Kalau gengsi dan pilih-pilih, malah akan berakhir jadi sarjana pengangguran.

“Modal S. Ag, aku jadi PNS sejak 2023 lalu. Jadi penghulu,” kata Sahlun. Bahkan, sejak 2024 lalu, Sahlun mengaku mulai merintis bisnis sendiri: Warung Madura.

“Jangan salah. Warung Madura itu biarpun kelontongan, omzetnya gede, loh,” sambungnya.

Mojok mengamini itu. Beberapa kali wawancara dengan pemilik atau karyawan Warung Madura, omzet dari toko kelontong itu terasa menampar para sarjana yang kerja dengan gaji di bawah UMR.

Ada memang teman Sahlun—sarjana UIN—yang susah cari kerja. Tapi ada juga yang sukses di jalan masing-masing. Lebih sukses dari sarjana kampus ternama. Itu membuktikan bahwa gelar sarjana sejatinya tidak menjamin apapun. Suksesnya seseorang ditentukan dari dirinya sendiri.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jadi Mahasiswa UIN Merasa Rendah Diri karena Kena Banyak Label Menyebalkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2025 oleh

Tags: kampus ternamamahasiswa UINpilihan redaksisarjana nganggursarjana pengangguransarjana uinuinuniversitas islam negeri
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal.MOJOK.CO
Ragam

Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026
Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

5 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.