ADVERTISEMENT

Cerita Lulusan Bahasa Mandarin UM Malang Dulu Dianggap Enggak Guna tapi Sekarang Panen Cuan, Biaya Kuliah Tak Semahal Jadi Dokter dan Polisi

Cerita Lulusan Bahasa Mandarin UM Malang Dulu Dianggap Enggak Guna tapi Sekarang Panen Cuan, Biaya Kuliah Tak Semahal Jadi Dokter dan Polisi.mojok.co

Biaya kuliah sangat murah, “se-ujung kukunya” biaya menjadi dokter maupun polisi

Fiona sendiri sangat bersyukur, meski sempat dianggap kuliah di jurusan “yang enggak guna”, kini dia sudah bisa mencapai taraf kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apalagi, dia juga mengakui, salah satu keistimewaan lain jurusan Pendidikan Bahasa Mandarin UM Malang adalah biaya kuliah yang sangat murah.

“Seingatku aku dulu dapat UKT 3 jutaan,” jelasnya. “Bukan bermaksud mau banding-bandingin, tapi biaya kuliah segitu cuma se-ujung kuku buat jadi dokter lho. Apalagi kalau mau jadi polisi,” lanjutnya.

Buat menjadi dokter sendiri, biaya kuliahnya memang tak murah. Kisaran UKT-nya puluhan hingga ratusan juta per semester. Begitu juga untuk menjadi polisi, biayanya juga tak sedikit.

“Ini sekadar jadi pembuktian aja sih, buat enggak remehin jurusan kuliah tertentu karena kita enggak tahu ke depannya bakal gimana. Ada yang kuliah mahal-mahal enggak jadi apa-apa, tapi ada yang awalnya diremehin malah sukses,” pungkasnya. 

Menukil laman resmi UM, tingkat penyerapan tenaga kerja buat lulusan Pendidikan Bahasa Mandarin di kampus mereka pada 2022 lalu cukup tinggi, nyaris 90 persen. 18 persen di antaranya bekerja di perusahaan lokal di Malang, sementara 36 persen bekerja di perusahaan swasta maupun negeri di Indonesia. Adapun, 40 persen yang lain berkarier di luar negeri.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Nestapa Lulusan UGM IPK 2,9 Ditolak Kerja 20 Kali Karena Dianggap Tak Punya Skill, Kudu Cuci Ijazah di PTS Buat Bersihin Gelar Sarjananya yang Enggak Laku

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 17 April 2024 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version