ADVERTISEMENT

Sengsaranya Mahasiswa Jurusan DKV: Insecure karena Tak Bisa Gambar, Kini Lebih Percaya Diri Berkat Satu Hal

Film animasi Merah Putih: One for All menyelamatkan asa mahasiswa Jurusan DKV. MOJOK.CO

Tak hanya Akmal, sejumlah netizen di media sosial juga merasa begitu. Merah Putih: One for All membuat mereka lebih percaya diri dalam berkarya. Setidaknya, kemampuannya lebih mumpuni daripada sutradara Merah Putih: One for All yang berhasil menembus bioskop tanpa antre.

“Buat kita pekerja seni kreatif yang masih insecure dan malu memamerkan hasil karya kita. Ingat, ada Merah Putih one For All,” ucap salah satu akun @vyn*** di Threads Instagram, dikutip pada Kamis, (21/8/2025).

“Hmm, hasil karya nomor sekian. Yang penting percaya dirinya itu yang patut ditiru,” ujar @sus***.

Can not be worse than that, ya kan,” ujar @ber***.

“Jadi semakin percaya diri nunjukin ke dunia hasil karya lukisanku yang kaya pablo picasso itu.” ujar @qnu***.

Susahnya tugas skripsi mahasiswa Jurusan DKV

Salah satu karya yang pernah dibuat Akmal adalah film animasi 2D yang bersifat edukatif. Karya itu ia buat sebagai tugas skripsi di Jurusan DKV. Prosesnya pun membutuhkan waktu sekitar 10 bulan. 

Maka, saat mengetahui proses pembuatan Merah Putih: One for All yang hanya membutuhkan waktu selama 1 bulan, Akmal hanya bisa bertepuk tangan. Salut karena sang sutradara sampai bisa menembus proses kurasi di bioskop.

Namun, ia jadi mempertanyakan bagaimana sebenarnya standar kualitas film animasi Indonesia? Mengingat, jika dibandingkan dengan film Jumbo yang sukses meraih 4 juta penonton dalam 14 hari penayangan. Tentu tak bisa disandingkan dengan Merah Putih: One for All yang meraih rating rendah dari IMDb yakni 1 per 10.

“Saya sendiri sempat kesulitan dalam tahap post production khususnya riset, karena di film animasi punya saya, saya harus menemukan korelasi antara tantrum dan kesehatan mental pada anak usia 3-5 tahun,” ucap mahasiswa DKV tersebut.

Di sisi lain, Akmal juga harus mengerjakan semuanya sendiri mengingat karya itu adalah tugas skripsi. Akhirnya, film animasi 2D tersebut jadi dengan durasi 7 menit. Untuk mengerjakan tugas tersebut ia mengaku harus begadang selama berhari-hari.

“Mahasiswa DKV itu memang punya kebiasaan jarang tidur, banyak tugas, bertemu dosen killer, berteman dengan berbagai macam orang yang punya karakter berbeda, tapi sebenarnya tidak semenyeramkan itu. Semuanya tergantung dari mahasiswa itu sendiri,” kata Akmal.

“Saya rasa itu malah menjadi warna dalam perkuliahan itu sendiri,” lanjutnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nekat Pakai Joki Seleksi SNBP Demi Jurusan DKV, Bisa Lolos tapi Ketahuan Dosen dan Berakhir Keluar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2025 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version