Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Ilustrasi - Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah. (Unsplash)

Ratusan anak dan remaja di Sidoarjo, Jawa Timur, disebut terpapar HIV/AIDS. Informasi yang beredar di media sosial menyebut angkanya mencapai 522 anak dan remaja. 

Menanggapi informasi tersebut, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melalui rilis resminya menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus yang ditemukan berkaitan dengan perluasan layanan deteksi dini. Karena itu, bertambahnya temuan kasus tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai peningkatan penularan baru.

Stigma terhadap pengidap HIV/AIDS bisa hambat penanganan

Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Vella Rohmayani, mengingatkan masyarakat agar tidak merespons temuan tersebut dengan kepanikan, terlebih dengan memberikan stigma negatif kepada Orang dengan HIV (ODHIV).

Pasalnya, selama ini HIV masih kerap disalahpahami. Rendahnya literasi soal cara penularan HIV membuat masyarakat memilih menjauhi ODHIV. Padahal, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari.

“HIV tidak menular hanya karena kita berjabat tangan, makan bersama, atau tinggal serumah. Penularannya sangat spesifik, antara lain melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi,” ujar Vella yang juga merupakan dosen Teknologi Laboratorium Medis Umsura tersebut dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/7/2026).

Selain itu, stigma dan rasa takut dikucilkan justru bisa menjadi hambatan dalam penanganan HIV. Sebab, masyarakat yang memiliki faktor risiko kemudian merasa takut melakukan skrining atau tes HIV.

Kondisi tersebut, lanjut Vella, berpotensi membuat infeksi terlambat diketahui dan ditangani. Dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penularan kepada pasangan maupun dari ibu kepada anak.

“Karena itu, yang perlu kita bangun bukan ketakutan terhadap ODHIV, melainkan kesadaran untuk melakukan deteksi dini dan mendapatkan informasi yang benar mengenai HIV,” tegasnya.

Harus diketahui, HIV sendiri saat ini dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV). Dengan terapi yang dilakukan secara rutin dan sesuai anjuran tenaga kesehatan, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan sehingga sistem kekebalan tubuh tetap terjaga, risiko komplikasi berkurang, dan kualitas serta harapan hidup ODHIV dapat meningkat.

Kasus HIV/AIDS pada anak TK-PAUD dan pentingnya tes kesehatan sebelum menikah

Lebih lanjut, Vella menjelaskan bahwa kasus HIV pada anak usia PAUD dan TK perlu dilihat dari kemungkinan penularan vertikal, yakni dari ibu kepada anak selama kehamilan, proses persalinan, maupun menyusui.

Risiko penularan tersebut dapat ditekan melalui deteksi dini, pemeriksaan HIV pada ibu hamil, serta pengobatan dan pendampingan medis yang tepat.

Karena itu, skrining kesehatan sebelum menikah maupun pemeriksaan selama kehamilan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Pemeriksaan tersebut memungkinkan faktor risiko diketahui lebih awal sehingga intervensi dapat segera dilakukan.

Sementara itu, temuan HIV pada kelompok usia remaja juga perlu menjadi perhatian serius. Menurut Vella, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan berbasis informasi kesehatan yang tepat.

“Generasi muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV, serta bagaimana melindungi kesehatan dirinya dan orang lain,” papar Vella.

Upaya pencegahan juga perlu melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan lingkungan sosial. Edukasi yang tepat dinilai penting agar remaja tidak mencari informasi dari sumber yang keliru sekaligus memahami konsekuensi dari perilaku berisiko.

Periksa kesehatan sebelum menikah bukan berarti meragukan pasangan

Temuan kasus HIV di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, bagi Vella seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi, layanan konseling, serta tes HIV secara sukarela dan proaktif.

Vella menegaskan, memeriksakan kesehatan sebelum menikah bukan berarti meragukan pasangan. Justru hal itu menjadi langkah preventif untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing untuk mempersiapkan keluarga yang sehat. 

“Memastikan kesehatan sebelum menikah penting sebagai bagian dari ikhtiar mempersiapkan keluarga dan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan sejahtera,” tegasnya.

1.183 kasus di Sidoarjo 

Merujuk data Kementerian Kesehatan, sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun di Sidoarjo. Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan berbasis komunitas. 

Dari total 1.183 ODHIV yang telah ditemukan tersebut (sejak tahun 2001), pada kelompok usia 0–10 tahun, tercatat 117 kasus HIV dan seluruhnya merupakan penularan dari ibu ke anak (penularan vertikal). Dari jumlah tersebut, 32 anak masih hidup dan menjalani pengobatan antiretroviral, 35 anak meninggal, sedangkan 50 anak tercatat lost to follow-up (LFU) atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan.

Kondisi ini menegaskan pentingnya memperkuat layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), mulai dari skrining HIV pada ibu hamil hingga keberlanjutan terapi bagi ibu dan bayi.

Pada kelompok usia 11–17 tahun, ditemukan 60 kasus HIV. Sebanyak 4 kasus berasal dari penularan vertikal, sedangkan 56 kasus merupakan penularan horizontal yang ditemukan pada berbagai kelompok sasaran, termasuk pasien tuberkulosis, laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), ibu hamil, pasangan ODHIV, pekerja seks, maupun kelompok yang belum teridentifikasi faktor risikonya. 

Hingga Juni 2026, 34 remaja masih menjalani pengobatan, 7 orang meninggal, dan 19 orang berstatus LFU. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan HIV, dan akses layanan kesehatan remaja yang ramah dan mudah dijangkau.

Sementara itu, di kelompok usia 18–24 tahun mencatat 1.006 kasus HIV, dengan 1.005 kasus merupakan penularan horizontal. Sebagian besar kasus ditemukan melalui layanan pada kelompok populasi kunci, antara lain laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (521 kasus).

Sedangkan populasi yang belum teridentifikasi faktor risikonya ada 210 kasus: ibu hamil (60 kasus), pasien tuberkulosis (44 kasus), pasangan berisiko tinggi (41 kasus), pasangan ODHIV (39 kasus), pekerja seks perempuan (32 kasus), pelanggan pekerja seks (24 kasus), waria (11 kasus), pasien infeksi menular seksual (9 kasus), warga binaan pemasyarakatan (8 kasus), calon pengantin (4 kasus), serta pengguna napza suntik (1 kasus). Dari kelompok usia ini, 572 orang masih menjalani pengobatan, 123 orang meninggal, dan 311 orang berstatus LFU. 

Data tersebut menunjukkan pentingnya perluasan skrining HIV pada berbagai pintu masuk layanan kesehatan serta penguatan pendampingan agar pasien tetap bertahan dalam pengobatan.

BACA JUGA: Sialnya, Peredaran Narkoba di Surabaya Tetap Berputar dan Saya Adalah Korbannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version