ADVERTISEMENT

Power Sebuah Spanduk: Jadi Visual Shock yang Mengusik dan Membuat Penguasa Gentar

Power sebuah spanduk Greenpeace di Bundaran HI, Jakarta MOJOK.CO

Bentangan spanduk di Bundaran HI, Jakarta, menunjukkan bahwa pemerintah pun gentar dengan kain/banner. Menjadi visual shock: ternyata spanduk bisa sangat menghujam ke jantung kekuasaan. 

***

ADVERTISEMENT

Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup

Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?

Tulisan itu terpampang dalam spanduk-spanduk raksasa yang dibentangkan Greenpeace Indonesia di di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (20/10/2026). Singkat, padat, tapi langsung menusuk inti persoalan yang tidak kunjung bisa dibereskan pemerintah. 

Tidak butuh waktu lama, spanduk tersebut langsung menjadi pusat perhatian. Kamera-kamera publik merekam, lalu membagikannya ulang ke kanal-kanal media sosial. Jutaan pasang publik—di dunia maya—antas tertuju pada kritik tajam itu. Benar-benar menjadi pukulan telak pada pemerintah. 

Benar saja. Spanduk tersebut hanya bertahan 30 menit untuk kemudian diturunkan petugas. Aktivis Greenpeace Indonesia yang terlibat pemasang spanduk itu pun ditangkap aparat kepolisian. 

Berdasarkan laporan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, sebanyak 11 aktivis ditangkap Reskrimsus Polda Metro Jaya buntut aksi pembentangan spanduk protes tersebut. Update pada Selasa (20/10/2026) sore, lima di antaranya yang merupakan tim rescue dan pers sudah diperbolehkan pulang. Sementara enam aktivis sisanya masih bertahan di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani proses hukum lanjutan bersama penyidik.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

ADVERTISEMENT

Sebuah kiriman dibagikan oleh JAKARTA SIDERS (@jakarta_siders)

Visual shock yang mengusik 

Pakar media dan budaya Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai daya tarik aksi tersebut terletak pada kemampuannya mengemas kritik lingkungan menjadi peristiwa visual yang mudah menarik perhatian. Di tengah derasnya arus informasi, pesan yang disampaikan melalui gambar dapat menjadi cara untuk menghentikan perhatian publik sejenak, sebelum mendorong mereka mempertanyakan persoalan yang diangkat.

“Persoalan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui laporan, data, atau pernyataan resmi. Di tengah banjir informasi, sebuah pesan harus mampu merebut perhatian agar orang berhenti sejenak, melihat, lalu mempertanyakan persoalan yang sebelumnya mungkin dianggap biasa,” ujar Radius dalam keterangan tertulis yang Mojok terima, Rabu (21/10/2026).

Menurut Radius, pemilihan Bundaran HI sebagai lokasi aksi turut memperkuat makna pesan tersebut. Kawasan itu lekat dengan citra modernitas Jakarta, aktivitas ekonomi, dan mobilitas masyarakat perkotaan. Ketika kritik mengenai krisis iklim dibentangkan di tengah ikon kota tersebut, muncul kontras antara wajah modernitas dan persoalan ekologis yang menuntut perhatian.

Radius menyebut strategi itu sebagai visual shock, yakni efek keterkejutan yang muncul ketika masyarakat berhadapan dengan sesuatu yang tidak biasa dilihatnya.

“Orang yang semula hanya melihat Bundaran HI sebagai ruang lalu lintas tiba-tiba dihadapkan pada pesan tentang krisis iklim dan beban hidup masyarakat. Gambar dan video yang beredar di media sosial kemudian membuat pesan itu menjangkau publik yang lebih luas,” katanya.

Penyadaran bahwa krisis lingkungan bukan sesuatu yang jauh di hutan sana

Fenomena tersebut, lanjut Radius, memperlihatkan bagaimana aktivisme lingkungan dapat menghadirkan demonstrasi sebagai peristiwa yang menarik perhatian publik. Pemilihan lokasi yang dikenal luas, penggunaan kalimat yang ringkas, serta pengaitan isu lingkungan dengan kehidupan sehari-hari membuat aksi lebih mudah diberitakan dan dibagikan.

Pendekatan semacam itu juga penting karena persoalan lingkungan kerap dipersepsikan sebagai masalah yang jauh dari kehidupan masyarakat. Padahal, dampaknya dapat dirasakan melalui berbagai aspek, mulai dari kesehatan hingga keberlangsungan mata pencaharian dan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan hidup.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), misalnya, tidak berhenti pada persoalan hutan yang terbakar. Bencana tersebut juga dapat menimbulkan paparan asap, mengganggu aktivitas ekonomi, merusak ekosistem, dan memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.

“Ketika isu lingkungan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki alasan yang lebih konkret untuk terlibat,” jelas Radius.  

“Krisis ekologis bukan lagi persoalan yang jauh di dalam hutan, melainkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup manusia,” sambungnya.

Visual seperti spanduk jadi pintu masuk penyadaran 

Untuk menjelaskan hubungan antara gambar dan perhatian publik, Radius merujuk pemikiran Guy Debord dalam buku The Society of the Spectacle. Pemikiran tersebut membahas bagaimana citra dan tontonan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam cara realitas sosial ditampilkan dan dipahami.

Dalam konteks aksi Greenpeace di Bundaran HI, Jakarta, kritik lingkungan dihadirkan melalui gambar yang kuat dan mudah dikenali. Persoalan yang sebelumnya mungkin terasa abstrak kemudian memperoleh bentuk visual yang dapat dilihat, dibicarakan, dan disebarluaskan.

Namun, perhatian yang muncul dari tontonan tersebut tetap memiliki batas. Viralitas tidak dengan sendirinya menghasilkan pemahaman, apalagi mendorong perubahan kebijakan. Publik dapat mengingat sebuah aksi tanpa memahami persoalan yang melatarbelakanginya.

Karena itu, ia berharap agar publik tidak sebatas mengingat visual seperti dalam spanduk itu, tetapi malah melupakan hutan yang terbakar dan masyarakat yang menanggung dampaknya. 

“Perhatian publik seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan, bukan pengganti pemahaman itu sendiri,” tekan Radius. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Istana Amini Mayoritas Rakyat Puas ke Pemerintah Prabowo, Survei Lain Temukan 75 Persen Rakyat Stres hingga Turun Demo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.