Kenapa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan tidak kunjung padam? Di titik ini, efektivitas strategi dan teknologi pemadaman harus menjadi perhatian.
Asap tebal masih mengepung sebagian banyak wilayah Kalimantan dan Sumatra. Di sejumlah titik, api bahkan masih bermunculan. Termasuk titik api baru di wilayah lain seperti di Merauke, Papua.
Dampak dari asap kebakaran bahkan bisa dirasakan oleh negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Kabut asap tersebut pun berdampak pada menurunnya kualitas udara. Akibatnya banyak warga terkena ISPA. Sejumlah sekolah di beberapa negara bagian di Malaysia juga masih ditutup dari kegiatan belajar mengajar tatap muka.
Kekeringan bukan satu-satunya penyebab kebakaran (karhutla)
Pakar Bidang kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah menjelaskan, penyebab karhutla di Indonesia masih terjadi lantaran periode El Nino yang berlangsung cukup lama. Ditambah lagi, curah hujan mendekati nol, sehingga membuat kondisi bahan bakar, seperti lahan gambut, menjadi lebih rentan.
“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan”, ungkapnya dalam wawancara di UGM, Rabu (14/10).
Fiqri menambahkan, kerentanan tersebut meningkat seiring berjalannya musim kemarau karena tidak adanya pasokan air yang cukup untuk menjaga kelembaban bahan bakar.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekeringan tidak secara langsung menjadi satu-satunya penyebab kebakaran. Baginya, karhutla tetap membutuhkan sumber penyulutan yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.
“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” beber Fiqri.
Perlu diketahui, pada ekosistem non-gambut, kebakaran umumnya terjadi di permukaan dan dapat menjalar hingga bagian tajuk tanaman. Sementara pada lahan gambut, api dapat membakar permukaan sekaligus lapisan di bawah tanah. Karakteristik ini, lanjut Fiqri, membuat proses identifikasi dan pemadaman menjadi lebih kompleks karena sumber bara tidak selalu terlihat secara langsung.
Nah, kebakaran pada gambut itu berpotensi menyisakan bara di bawah permukaannya, meskipun api yang terlihat dari permukaan telah berhasil dipadamkan. Apabila penyiraman air hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah masih dapat bertahan dan memicu munculnya titik api kembali.
Mengenali gejala kebakaran di bawah permukaan
Maka, keberhasilan pemadaman karhutla perlu dilihat dari kedalaman dan lokasi kebakaran. Pasalnya, penyiraman yang tidak menjangkau bagian gambut yang terbakar berisiko membuat api kembali muncul atau merambat ke area lain.
“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” tuturnya.
Oleh karena itu, pemadaman perlu disertai identifikasi yang memadai untuk memastikan bahwa sumber bara benar-benar telah ditangani.
Selain karakteristik gambut, dalam penilaian Fiqri, keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi kendala dalam memadamkan api. Sejumlah titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau, sementara ketersediaan sumber air, personel, dan sarana-prasarana pemadaman masih terbatas. Ketika kebakaran telah meluas, upaya pemadaman membutuhkan sumber daya dan waktu yang lebih besar.
Tantangan efektivitas strategi dan teknologi pemadaman
Indonesia sebenarnya telah memiliki sejumlah sistem pemantauan titik api, di antaranya FIRMS, Sipongi, dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Kemampuan deteksi titik api saat ini sudah cukup baik. Namun, data deteksi tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan atau confidence level,” ujar Fiqri.
Di titik ini, Fiqri mengungkapkan adanya tantangan terkait efektivitas teknologi dan metode pemadaman, terutama untuk menangani kebakaran di bawah permukaan gambut.
“Sejumlah pendekatan, seperti penyuntikan air ke dalam gambut dan penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api, telah dikembangkan,” ujar Fiqri.
Hanya saja, bagi Fiqri, strategi pemadaman dan bahan yang digunakan masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar api dapat benar-benar dipadamkan hingga ke sumbernya.
Tidak cukup mengandalkan air hujan
Tidak hanya itu, penyebaran api dan asap juga dipengaruhi oleh distribusi bahan bakar, kondisi topografi, serta iklim (termasuk arah angin). Faktor-faktor tersebut menentukan bagaimana api berkembang dan ke mana asap bergerak sehingga dampak kebakaran dapat meluas dari lokasi awalnya.
Maka, Fiqri menegaskan, bahwa penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan hujan sebagai solusi. “Upaya pencegahan perlu dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api dalam pengelolaan dan penyiapan lahan, khususnya di wilayah yang rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau,” tuturnya.
Sementara itu, penanganan kebakaran yang telah terjadi membutuhkan kolaborasi lintas instansi dan penentuan wilayah prioritas berdasarkan tingkat risiko. Prioritas tersebut perlu mempertimbangkan dampak ekologis, kerugian ekonomi, serta konsekuensi sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
“Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi,” tuturnya.
Dari gambaran situasi di atas, Fiqri menegaskan bahwa upaya pencegahan dan pemadaman perlu berjalan beriringan. Pengawasan terhadap wilayah rentan, pengembangan metode pemadaman, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko dan dampak karhutla. Terutama ketika kondisi musim kemarau meningkatkan kerentanan bahan bakar terhadap kebakaran.
Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)
BACA JUGA: Ujian Jadi Guru dan Siswa di Palangka Raya: Jauh dari Kata Sejahtera, Kini Dipaksa Menghirup Asap Karhutla atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan