ADVERTISEMENT

Orang Surabaya pun Menyerah dengan Cuaca “Hot Potato”, Pakar ITS Beri Tips agar Kesehatan Terjaga

cuaca panas di Surabaya. MOJOK.CO

Cuaca panas di Surabaya masuk kategori ekstrem. Pakar dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan.

***

ADVERTISEMENT

Dullah (30) sempat mencaci-maki dalam hati karena panasnya Kota Surabaya yang mencapai 37 derajat celcius pada Kamis (15/10/2026) kemarin. Dullah yang baru selesai mengantar jemput pesanan dari Jalan Tunjungan Surabaya ke Sidoarjo pada akhirnya menyerah saking peluhnya.

Alhasil, petugas ojol makanan itu kini harus memangkas jam kerjanya. Dullah yang biasanya bekerja dari pukul 08.00 WIB hingga magrib, sekarang baru berangkat saat siang, yakni pukul 13.00 WIB hingga tengah malam.

Karena menurutnya, cuaca malam lebih normal bahkan sejuk dibandingkan saat pagi menjelang siang. Kalau orang Surabaya bilang, ‘panas kentang-kentang’ atau sering diplesetkan dengan bahasa Inggris menjadi ‘hot potato-potato’.

Bagi Dullah, cuaca di Surabaya memang panas, tapi akhir-akhir ini panasnya lebih terasa sampai nyelekit di kulit. Tak hanya itu, kondisi udara di Surabaya pada pagi hari juga tampak keruh. Fenomena itu pun tak terlepas dari sorotan pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kualitas udara di Surabaya masuk kategori tidak sehat

Pantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya menunjukkan kondisi cuaca dan udara di Kota Pahlawan saat ini berada pada kondisi mengkhawatirkan. 

Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes, mencatat konsentrasi partikulat meter ukuran 2,5 mikron (PM2.5) dan sempat berada dalam kategori Tidak Sehat, terutama pada rentang waktu 06.00 hingga 09.00 WIB. 

Dosen Departemen Teknik Lingkungan ITS, Eng Arie Dipareza Syafei berujar partikel udara seperti PM2.5 dapat menjadi penilaian kualitas udara, begitu pula PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). 

“Hasil pengukuran tersebut digunakan untuk menentukan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai informasi mengenai tingkat pencemaran dan risiko kesehatan,” ucap Arie dikutip dari laman resmi ITS, Senin (19/10/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM2.5 sebesar 55 µg/m³ seharusnya menjadi angka ideal untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Oleh karena itu, Arie menilai fenomena cuaca panas dan langit keruh di Surabaya dapat diindikasikan sebagai episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius.

“Kualitas udara yang memenuhi baku mutu tidak sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan,” tegasnya.

Pengaruh emisi kendaraan mencemari udara

Arie menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara di Surabaya tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca panas, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi. Sumber pencemar tersebut antara lain berasal dari kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran industri, dan pembakaran terbuka. 

Selain itu, debu fugitif dari area terbuka juga dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara.

Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim ITS tersebut menegaskan bahwa cuaca panas bukan merupakan sumber langsung munculnya PM2.5, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi dinamika polutan di udara.

“Intensitas sinar matahari yang tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon, sedangkan pemanasan permukaan turut memengaruhi proses pencampuran udara,” ujarnya.

Alumnus program doktoral Hiroshima University, Jepang tersebut juga memaparkan bahwa wilayah dengan tingkat emisi kendaraan yang tinggi berpotensi mengalami peningkatan pencemaran udara. Terutama pada pagi hari ketika volume kendaraan di jalan mulai meningkat. 

“Peningkatan emisi pada pagi hari, ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal, dapat menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer,” lanjutnya.

Kesehatan warga Surabaya terancam

Penurunan kualitas udara sendiri juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat di Kota Surabaya. Dalam jangka pendek, paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma. 

Sementara itu, paparan berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru-paru. Kondisi cuaca panas juga dapat menambah beban tubuh, termasuk meningkatkan risiko dehidrasi. 

“Kombinasi keduanya perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru,” ujar Arie.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengendalikan pencemaran udara. Pemerintah diharapkan bisa memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak praktik pembakaran terbuka, serta memeriksa sumber emisi tinggi.

Sementara itu, masyarakat diimbau untuk tidak lagi membakar sampah dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan.

“Kita perlu bersama-sama mereduksi emisi,” pungkas Arie mengingatkan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Orang Jogja Jangan Sambat Soal Cuaca Panas di Hadapan Orang Surabaya, Bisa Debat Panjang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.