Sedari pagi hingga menjelang jam 2 siang, gelombang peziarah tak putus-putus memenuhi rumah duka maestro seni rupa, Nasirun, yang baru saja tutup usia. Kerabat, rekan sejawat, hingga sejumlah tokoh nasional berduyun-duyun memberi penghormatan terakhir untuk seniman yang dikenal suka berbagi tersebut.
Sebagaimana namanya, “Nasirun”, dalam bahasa Arab berarti orang yang menolong. Dan memang begitulah sosok seniman asal Cilacap, Jawa Tengah, itu dalam ingatan banyak orang.
Begitu kesaksian Medi, seorang kerabat dari jalur istri Nasirun. Sehingga tidak heran jika banyak orang berduyun-duyun mendoakan Nasirun dalam persemayaman terakhirnya di dunia.

Lukisan seperti warna-warna tukang becak
Medi mengenal Nasirun jauh sebelum lukisan-lukisannya mengantarkannya menjadi salah satu maestro seni rupa Tanah Air.
“Saya menyaksikan waktu beliau masih mbatik-mbatik, waktu masih tinggal di Soragan (Ngestiharjo, Kasihan, Bantul),” ujar Medi saat berbagi cerita dengan Mojok di rumah duka, Perum Bayeman Permai, Jl. Wates, Ngestiharjo, Bantul, Sabtu (1//8/2026) siang.
Untuk diketahui, Nasirun pernah menempuh studi kriya batik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta. Lulus pada 1983 ia kemudian melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada periode 1987-1994.
Dalam pameran tunggal bertajuk Memorabilia di Galeri Orbital Dago, Bandung, 19 Maret hingga 27 April 2025, kurator seni Rifky ”Goro” Effendy pernah menceritakan bahwa semasa kuliah, Nasirun juga bekerja dengan membuat batik.
Dalam sebuah wawancara, sebelum karyanya meledak dengan harga-harga fantastis pada 1997, Nasirun mengaku pernah menjajal door to door menawarkan lukisannya dari galeri ke galeri, dari kolektor ke kolektor.
Karya Nasirun pertama kali terjual pada 1993 dengan harga Rp70 ribu. Sejumlah kritikus dan media saat itu menyebut lukisan tersebut menggunakan warna-warna seperti tukang becak.
Laku hidup Nasirun: humoris dan menolong yang kesusahan
Barangkali karena Nasirun memulai langkahnya benar-benar dari bawah, menurut Medi, itu kemudian menjadi dasar laku hidup seorang Nasirun.
“Benar pengakuan teman-teman seniman kalau beliau memang selain humoris juga suka menolong orang. Siapapun, sesama seniman maupun kerabat, yang mengalami kesusahan, beliau itu suka menolong” ungkap Medi.
Nasirun kerap membeli lukisan-lukisan dari sesama seniman. Selain untuk mengapresiasi karya juga agar rekan senimannya bisa mendapat sokongan finansial. Tidak terhitung pula beragam rupa kebaikan yang sang maestro berikan pada kerabat-kerabatnya.
Sejawat sekaligus tetangga Nasirun, Jumadil Alfi, mengaku mengenal Nasirun sebagai sosok yang tidak pernah membeda-bedakan seniman junior maupun senior.
“Dengan seniman-seniman muda Jogja sangat perhatian. Dia tidak membedakan antar seniman. Makanya kadang-kadang kan saya bercanda sama dia, ‘Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau’,” kenang Alfi di rumah duka.
“Termasuk lingkungan ini jadi asri salah satunya juga karena beliau suka menanam,” sementara begitu pengakuan Medi sembari menunjuk rimbun beragam jenis tanaman yang memadati area kediaman Nasirun, yang kini menciptakan suasana teduh bagi lingkungan sekitar.
Membetulkan antena tv rumah Nasirun dan hadiah lukisan topeng
Nasirun telah berpulang. Selain ingatan-ingatan kebaikannya, kenangan atas sosoknya juga mewujud dalam sebuah lukisan topeng yang Medi simpan di rumah.
Lukisan topeng itu mengingatkan Medi pada masa bertahun-tahun silam kala Nasirun masih tinggal di Soragan. Suatu hari, Nasirun meminta bantuan Medi untuk membetulkan antena tv untuk menonton siaran sepak bola dunia.
“Setelah saya betulkan, saya dikasih lukisan topeng itu, jadi kenang-kenangan untuk mengenang kebaikan almarhum,” tuturnya.
Tidak hanya lukisan topeng, Medi juga menyimpan hasil batik Nasirun dari masa jauh sebelum sosoknya menjadi seniman kenamaan.
Kopiah dan manekin penyambung rasa
Seniman tari Yogyakarta, Didi Nini Thowok juga mengaku mendapat pemberian dari Nasirun.
Sejak pertama kali bertemu dengan Nasirun, Eyang Didi mengaku sudah langsung nyambung. “Karena Mas Nasirun sosok yang rileks, menyenangkan, dan nyambung lah dengan saya,” ungkapnya usai mengirim doa di hadapan jenazah Nasirun.
Eyang Didi kemudian memang sering bersinggungan dengan sang pelukis. Sampai-sampai ia diberi sebuah kopiah dan dua manekin yang masing-masing disertai lukisan tangan Nasirun.
Bagi Didi, tiga barang tersebut menjadi pemberian spesial. Tiga barang itu bukan sekadar barang, tapi juga menjadi penyambung rasa antara Eyang Didi dan Nasirun.
Melihat jenazah Nasirun yang terbaring damai, diiringi doa-doa baik dari orang-orang yang mencintainya, Eyang Didi berprasangka baik bahwa Nasirun dengan segala kebaikan yang pernah dilukiskan di alam dunia, akan memberikan jalan lapang bagi Nasirun dalam menuju alam keabadian.
***
Berdasarkan informasi dari keluarga, kondisi Nasirun dalam beberapa hari terakhir memang tidak sepenuhnya fit. Sempat merasakan sesak napas. Hanya memang kambuh-kambuhan, kadang sesak kadang hilang.
Namun, karena sesak napas itu menjadi agak mengkhawatirkan, pihak keluarga akhirnya membawa Nasirun ke Rumah Sakit AMC Yogyakarta pada Sabtu (1/8/2026) pukul 02.00 dini hari. Setelah 4 jam penanganan, sang maestro dinyatakan tutup usia pada sekitar pukul 05.00 pagi.
Sejak jenazah dipulangkan ke rumah duka, sejumlah tokoh publik tampak datang takziah, di antaranya: Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Rosiana Silalahi, hingga pasangan aktor Dwi Sasono dan Widi Mulia. Seluruh peziarah yang datang bersaksi perihal kebaikan sang maestro yang hari ini dikebumikan di Makam Seniman Imogiri, Bantul.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan