Pemilik kuliner Bolosego Jogja, Dyah Laily Fardisa, harus menelan pil pahit usai mengalami pungutan liar (pungli) di Alun-alun Kidul (Alkid). Ceritanya pun mendadak viral hingga memantik respons dari Keraton Yogyakarta.
***
Baru satu hari membuka lapak food truck Bolosego di kawasan Alkid, Dyah harus menghentikan dagangannya pada Rabu (16/9/2026). Padahal, ia berencana berjualan selama 5 hari, yakni Minggu (20/9/2026).
“Dengan berat hati aku harus umumkan ke kalian (pembeli), kami sudah tidak mangkal lagi di sana (Alkid),” ucap Dyah melalui akun TikTok pribadinya, @dyahfardisa, dikutip pada Jumat (18/9/2026).
Dyah tak menampik jika keputusannya itu terbilang mendadak dan berpotensi mengecewakan banyak orang, terutama bagi para pembeli yang sudah menanti-nanti kehadiran food truck Bolosego Jogja.
“Aku tidak tidak mau kalian sudah jauh-jauh, terus cari-cari Bolosego di Alun-alun Kidul tapi ternyata tidak ada. Kan kecele sedih. Aku mau cerita saja. Rodok wedi-wedi, takut salah omong, tapi ya beginilah adanya,” tutur alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Pungli di Alkid masih terjadi, meski sudah punya izin resmi
Penutupan lapak food truck Dyah di kawasan Alkid bukan tanpa alasan. Dyah berujar sudah mengikuti birokrasi dari pihak Keraton Yogyakarta sebelum berjualan. Namun nyatanya, surat itu tak menjamin dirinya dari pungli di Alkid.
“Untuk mendapatkan izin kami menggunakan jalur resmi, menggunakan surat ke Keraton Yogyakarta dan ditandatangani oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) bahwa kami diperbolehkan jualan di Alun-alun Kidul,” kata Dyah.
Surat itu juga sudah dikonfirmasi oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Condrokirono. GKR membenarkan bahwa Dyah sudah mendapat izin untuk berjualan di area trotoar Alkid, sekaligus izin dari pihak keamanan.
“Pihak Keraton Yogyakarta telah memberikan izin untuk kegiatan food truck tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkap GKR Condrokirono dikutip dari keterangan resmi, Jumat (18/9/2026).
Jenis pungli di Alkid selain bayar parkir
Dengan surat izin dari pihak Keraton Yogyakarta, Dyah berharap terlepas dari pungli di Alkid. Nyatanya tidak.
“Tak pikir wes rampung (saya pikir sudah selesai) di situ saja, ternyata ora e ges (rupanya tidak guys), ya Allah, punglinya (di Alkid) banyak,” keluh Dyah.
Kejadian itu ia alami saat seorang petugas parkir meminta Dyah membayar uang sekitar Rp2,5 juta per hari, sebagai ongkos lahan parkir food truck dari pukul 14.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Artinya, untuk membuka lapak selama 5 hari ke depan, Dyah harus merogoh kocek sebesar Rp12,5 juta. Jelas saja Dyah keberatan dengan pungli di Alkid itu, sehingga meminta negosiasi.
Setelah melewati debat panjang, keduanya pun sepakat untuk menurunkan ongkos parkir food truck sebesar Rp1 juta per hari. Dengan kata lain, Dyah harus membayar uang sebesar Rp5 juta selama 5 hari.
Baru saja Dyah menghela napas lega, petugas parkir lagi-lagi meminta uang ke dia sejumlah Rp20 ribu untuk ongkos makan 10 petugas. Jika ditotal, setidaknya Dyah harus membayar pungli di Alkid sekitar Rp6 juta untuk 5 hari.
“Kami diminta untuk kasih makan ke 10 preman atau tukang parkir, emboh nyebut e opo iku (entah disebut apa itu), 10 guys, ya Allah,” kata Dyah saking jengkelnya dengan pungli di Alkid.
Polisi minta makan untuk jasanya
Tidak berhenti sampai di situ, Dyah masih harus menghadapi masalah lain karena sempat tidak diperbolehkan memakai colokan listrik di Alkid. Lagi-lagi, Dyah merasa rugi, karena harus menyediakan genset sendiri.
Untuk menghidupkan genset tersebut, Dyah harus mengeluarkan uang sebesar Rp150 ribu dalam sehari. Baru saja masalah itu selesai, Dyah tiba-tiba dihubungi orang yang mengaku dari pihak kepolisian.
@dyahfardisaSemoga jogja semakin aman dan nyaman untuk kita semua 🙏♬ suara asli – Mbak Dy Owner
“Mas, ini saya kirimkan tiga polisi ya untuk ke sana. Tolong dirumat makannya,” cerita Dyah menirukan suara orang itu dari ponsel selulernya, “waduh… ngirim makan juga buat polisi,” kata Dyah khawatir, karena harus mengeluarkan biaya tambahan lagi.
Meski awalnya terbebani dengan biaya itu, pemilik kuliner Bolosego Jogja itu akhirnya memaklumi. Toh, polisi yang datang juga melaksanakan kerjanya. Seperti, membantunya bernegosiasi dengan paguyuban parkir, serta menanyakan ulang mengapa Dyah tidak boleh menggunakan colokan listrik di sana.
Namun tetap saja, Dyah tidak bisa menepis kekhawatirannya soal pungli di Alkid yang sudah dia bayar dibanding dengan keuntungan jualannya nanti. Di hari pertamanya saja, Dyah sudah habis sekitar Rp5 juta untuk pungli di Alkid.
“Mulai jualan saja belum, kami nggak tahu nanti ramai apa nggaknya aja nggak tahu tapi sudah di-dor di awal segitu banyaknya,” ujar pemilik kuliner Bolosego Jogja tersebut.
Karena sudah dongkol ditariki biaya macam-macam, Dyah pun memutuskan untuk tidak berjualan di keesokan harinya. Biarlah pungli di Alkid tersebut jadi pengalaman penting baginya.
Keraton Yogyakarta tegaskan tak ada pungutan resmi
Mengenai pungli di Alkid yang sudah diceritakan Dyah di TikTok, GKR Condrokirono telah memastikan bahwa biaya tersebut bukan merupakan pungutan resmi yang ditetapkan Keraton Yogyakarta.
“Terkait kemudian adanya pembayaran parkir serta permintaan lain yang disampaikan oleh yang bersangkutan melalui media sosial, perlu kami tegaskan bahwa hal tersebut bukan merupakan bagian dari proses perizinan maupun pungutan yang ditetapkan oleh pihak Keraton Yogyakarta,” tegasnya.
Di sisi lain, Keraton Yogyakarta turut prihatin dengan apa yang dialami Dyah.
“Kami berharap hal-hal yang terjadi di luar proses perizinan ini perlu ditindaklanjuti oleh pihak yang memiliki kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tidak terjadi lagi (pungli di Alkid) di masa yang akan datang,” kata GKR Condrokirono.
Alkid Jogja harus bebas dari pungli
Sementara itu, Dyah berujar bahwa pihak paguyuban petugas parkir di Alkid sempat menghubungi tim Dyah kembali. Mereka, kata dia, berniat untuk mengembalikan uang Rp2 juta dari Rp6 juta jasa parkir food truck yang sebelumnya sudah Dyah bayar.
“Tadinya mereka akan mengembalikan sejumlah Rp2 juta dari Rp6 juta yang sudah kita bayarkan, tapi uang itu harus kami ambil sendiri ke sana. Terus saya bilang ke tim saya, ‘nggak, nggak ada yang boleh ambil uang itu ke sana, karena aku nggak mau kalian kenapa-napa’,” cerita Dyah lewat video terbarunya yang dia unggah pada Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.
“Uang itu nggak dikembalikan juga nggak apa-apa. Nah tapi, singkat cerita, akhirnya pihak paguyuban itu mengembalikan uang sejumlah Rp3 juta ke kami melalui transfer,” jelasnya.
Dyah senang-senang saja menerima itikad baik tersebut. Sayangnya, Dyah sudah terlanjur kecewa dengan keamanan dan kenyamanan bagi pelaku UMKM. Baginya, masalah dirinya soal pungli di Alkid Jogja pun sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dimediasi.
“Masalah iki tak anggep selesai, aku meh dodolan. Yang terpenting adalah semoga dari konten ku ini, Jogja semakin aman, semakin nyaman, tidak ada praktik pungli-pungli lagi. Karena bagaimana pun aku ini sangat cinta Jogja, guys,” ujar pemilik kuliner Bolosego Jogja tersebut.
“Aku wong Jogja, usahaku ada di Jogja. Menuku yang tak angkat ini adalah menu-menu asli Jogja. Kemana-mana aku bilang, aku wong Jogja. Jadi aku sangat cinta Jogja,” tegasnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Eksperimen Seminggu Jadi Tukang Parkir Ilegal di Jogja, Penghasilannya Bisa Kebeli Apa Aja? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
