ADVERTISEMENT

Curhat ke AI Lebih Nyaman karena Privasi Terjaga, Kata Psikolog Harus Waspada

Gen Z dan Milenial lebih nyaman curhat ke AI daripada manusia, Psikolog ingatkan hal-hal yang harus diwaspadai MOJOK.CO

AI kini menjadi tempat curhat, bahkan untuk urusan psikologis, di kalangan Milenial dan Gen Z. Memang terasa sangat instan. Namun, ada bagian-bagian yang harus dipertimbangkan bahkan diwaspadai. 

***

Tidak dimungkiri, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang amat pesat membuat AI tidak hanya digunakan untuk mencari informasi dan membantu pekerjaan. Sebagian Gen Z dan Milenial kini mulai memanfaatkannya sebagai tempat bercerita dan mencurahkan persoalan pribadi.

AI memiliki fitus percakapan berbasis teks dan suara yang mudah diakses oleh siapa saja. Selain itu, AI juga dikenal memiliki respons yang cepat terhadap sesuatu yang kita lontarkan/tanyakan. Alhasil, sebagian orang pun merasa bahwa AI adalah tempat curhat yang tepat. 

Curhat ke AI karena nyaman soal privasi hingga FOMO

Pakar Psikologi Klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus seorang Psikolog, Muhammad Arif menjelaskan, ada beberapa alasan kenapa seseorang memilih curhat kepada AI. Sebagian orang merasa lebih nyaman. Sebab, dengan curhat ke AI, mereka merasa privasinya jauh lebih terjaga. Tidak khawatir bakal teramplifikasi ke orang lain. 

“Ada beberapa juga yang mereka coba-coba. Artinya, mungkin karena FOMO atau penasaran untuk menggunakan fasilitas itu. Sekadar ingin tahu kalau cerita, kira-kira bagaimana respons teknologi tersebut,” beber Arif dalam penjelasan tertulis di UMY. 

Di titik ini, Arif merasa AI memang bisa menjadi salah satu alternatif ketika seseorang membutuhkan dukungan. Terutama saat tidak ada orang lain yang dapat membantu pada saat itu. Meski demikian, Arif menegaskan, AI tidak seharusnya menjadi satu-satunya tempat untuk bercerita.

Arif juga menegaskan bahwa kemudahan tersebut tetap memiliki keterbatasan. Terutama ketika seseorang menghadapi persoalan yang kompleks dan membutuhkan pemahaman psikologis yang lebih mendalam.

AI membuat klien terbantu, tapi tidak menghilangkan kebutuhan sebagai manusia 

Sejauh pengalaman Arif, ia pernah mendengar pengakuan dari sejumlah Klien yang menyebut AI memberikan jawaban yang cukup membantu atas kebutuhan si klien. Respons tersebut bahkan dinilai memiliki kemiripan dengan jawaban yang dapat diberikan psikolog atau konselor.

Akan tetapi, Arif menilai, fenomena ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, AI memang dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar seseorang secara instan. Namun, di sisi lain, teknologi ini belum dapat menggantikan proses terapeutik yang membutuhkan pemahaman mendalam terhadap persoalan seseorang.

“Memang ada kebutuhan dasar yang kemudian bisa terfasilitasi secara instan. Tetapi ketika mereka curhat pada aspek-aspek yang cukup mendalam, kompleks, termasuk bagaimana kemudian bisa menghadirkan sebuah proses terapeutik, itu yang kemudian saya lihat memang tidak bisa digantikan oleh AI,” jelas Arif dalam penjelasan tertulis di UMY. 

Bagi Arif, interaksi dengan AI tetap berbeda dari interaksi antarmanusia. Seseorang mungkin memperoleh arahan atau langkah-langkah untuk menghadapi persoalan tertentu. Namun, mereka tidak mendapatkan pengalaman interaksi dan relasi dengan manusia secara langsung.

“Beberapa yang kemudian menyampaikan mereka cukup terbantu, tetapi tema yang saya lihat sama. Mereka tidak mendapatkan sebuah sentuhan manusia di situ,” ungkapnya.

“Sejatinya mereka tetap akan membutuhkan, karena naluri dasar manusia dalam struktur kebutuhan dasar akan selalu membutuhkan yang namanya relasi,” sambungnya,

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dan diwaspadai dari curhat ke AI

Lebih lanjut Arif mengingatkan bahwa penggunaan AI secara intensif sebagai tempat bercerita perlu mendapat perhatian. Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah nilai atau value yang dimiliki seseorang.

Menurutnya, AI memiliki keterbatasan dalam memahami persoalan berdasarkan nilai, keyakinan, kepribadian, dan pengalaman hidup seseorang secara utuh. Karena memang teknologi adalah mesin yang bebas nilai. 

Berbeda misalnya jika konsultasi dengan tenaga profesional. Dalam konsultasi tersebut, proses memahami persoalan turut dipengaruhi oleh kepribadian konselor atau terapis. Pengalaman hidup dan pengalaman profesional mereka juga menjadi bagian dari proses tersebut.

Selain persoalan nilai, penggunaan AI secara intensif berpotensi membuat seseorang semakin nyaman dengan interaksi digital. Kondisi ini perlu diwaspadai agar tidak menghambat perkembangan kemampuan menjalin relasi sosial secara langsung.

Arif mencontohkan pengalaman sejumlah mahasiswa yang menjalani perkuliahan daring selama pandemi Covid-19. Ketika kegiatan kembali berlangsung secara langsung, sebagian mahasiswa mengalami kesulitan beradaptasi dengan interaksi sosial yang sampai terbawa berlarut-larut. 

“Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya mengembangkan kemampuan interpersonal melalui interaksi nyata,” tegas Arif. 

Hanya sebagai alat bantu, bukan pengganti bantuan profesional

Apalagi ketika persoalan yang dihadapi seseorang sudah kompleks atau berkaitan dengan gejala klinis yang berat. Dalam situasi ini, datang ke tenaga profesional jauh lebih disarankan daripada curhat ke AI. 

Setidak-tidaknya, jika belum ke tenaga profesional, seseorang juga dapat mulai membuka diri kepada teman terdekat atau keluarga untuk mendapatkan dukungan sosial.

Kesimpulan yang bisa diambil: Arif tidak serta-merta melarang penggunaan AI sebagai tempat bercerita. Dengan catatan, pemanfaatannya lebih pada persoalan sederhana. Misalnya, ketika seseorang merasa lelah, memiliki banyak tugas, atau membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosi.

“Untuk kebutuhan-kebutuhan simpel dasar, saya rasa itu menjadi satu hal yang cukup lumrah. Sekadar membagi emosi negatif untuk kemudian terfasilitasi,” jelas Arif.

Pada akhirnya, penggunaan AI perlu ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Teknologi dapat membantu seseorang mengekspresikan emosi atau melakukan refleksi diri. Namun, AI tetap tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia.

“Kata kuncinya adalah dia alat bantu. Maka, teknologi apa pun itu kita posisikan dan kita sadari bahwa dia sebagai alat bantu,” pungkas Arif.

Sumber: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

BACA JUGA: Laki-Laki Diajari Tidak Boleh Menangis, tetapi Tidak Diajari Harus Bercerita kepada Siapa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.