“Setelah melalui pergulatan dan perenungan panjang, PBNU sampai pada satu keyakinan: bahwa NU tidak memiliki jalan lain selain menjalin sinergi dengan pemerintah demi menghadirkan manfaat nyata bagi warga nahdliyin.”
***
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam pidato pembukaan Muktamar ke-35 NU di Lapangan Untung Suropati, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Sebagai organisasi masyarakat, sudah seharusnya kemaslahatan organisasi benar-benar bisa dimanfaatkan oleh warganya. Maka dari, Gus Yahya menegaskan, NU harus mampu menjadi penyangga yang menyumbang kelancaran mengantarkan berbagai macam agenda dan program pemerintah untuk kemaslahatan rakyat, agar program-program tersebut sungguh-sungguh sampai kepada masyarakat.
“Apabila jamiah organisasi Nahdlatul Ulama ini sungguh ingin mendatangkan manfaat dan maslahat yang nyata bagi warganya, tidak ada jalan lain bahwa jamiah ini, organisasi ini, harus bekerja sama dengan pemerintah,” ungkap Gus Yahya di panggung Muktamar ke-35 NU.
Prinsip jamiah Nahdlatul Ulama ke depan
Lebih lanjut, Ketum PBNU itu mengatakan, salah satu prinsip penting jamiah ke depan adalah mengoordinasikan berbagai ikhtiar organisasi dengan pelaksanaan agenda dan program-program pemerintah. Tidak berhenti di situ, jamiah juga harus terus mengembangkan kinerja dan kapasitas kelembagaan NU.
“Bagaimana agar ke depan Nahdlatul Ulama dapat dikembangkan kinerjanya, dikembangkan kapasitasnya, sehingga akan menjadi penghantar yang lebih efektif di dalam membantu membawakan manfaat dari program-program dan agenda-agenda pemerintah untuk rakyat kepada rakyat, insyaallah,” katanya.
Muktamar ke-35 NU: momentum memperkuat taawun
Di samping itu, Gus Yahya mengingatkan, bahwa NU harus mampu menyangga kokohnya negara-bangsa dan kehidupan masyarakat, yakni dengan mengembangkan tolong-menolong dalam kehidupan.
Dan memang begitulah yang ditulis oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU yang dikutip oleh Gus Yahya dalam sambutannya: al-taawanu huwa al-lazi madau nidhami al-umam.
“Tolong-menolong adalah landasan bagi beredarnya tatanan kemasyarakatan,” ucap Gus Yahya menjelaskan arti mukadimah tersebut. Gus Yahya menegaskan, semangat taawun ini tidak boleh dibatasi hanya untuk kalangan NU semata, melainkan harus dirajut bersama seluruh elemen bangsa.
“Karena di dalam tatanan masyarakat itu apabila dilandasi dengan prinsip tolong-menolong, maka orang tidak akan berpikir tentang siapa yang lebih berkuasa dan siapa yang kurang berkuasa. Orang tidak berpikir tentang siapa berada di posisi mana. Tapi semua orang berpikir tentang kerja sama, tolong-menolong untuk kepentingan bersama, untuk kekuatan bersama, untuk kemuliaan bersama,” sambung Gus Yahya.
Maka dari itu, Gus Yahya berharap, Muktamar ke-35 NU menjadi momentum untuk menjadikan taawun sebagai titik tolak memperkuat persatuan bangsa secara lebih luas.
Tokoh nasional hadir di pembukaan Muktamar ke-35 NU
Sebagai informasi, pembukaan Muktamar ke-35 NU dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, antara lain: Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-13 KH Ma’ruf Amin beserta istri Nyai Wury Ma’ruf Amin, istri Presiden keempat Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, hingga para kiai sepuh.
Selain itu, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih juga tampak hadir, di antaranya Menko Pangan Zulkifli Hasan dan Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Resmi dibuka oleh Presiden Prabowo, rangkaian Muktamar ke-35 NU akan berlangsung dengan berbagai agenda (termasuk pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU) pada 27-30 Agustus 2026.
BACA JUGA: NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
