Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal

Kalimati Bantul, Kampung Kumuh di Tengah Gemerlap Pariwisata Jogja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
31 Januari 2025
A A
Beranda Liputan Jogja Bawah Tanah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebuah permukiman kumuh berdiri di tengah riuhnya wisatawan Pantai Parangkusumo, Bantul, DIY. Permukiman itu bernama Kampung Kalimati yang diisi oleh para pendatang. Mereka bermukim, berkeluarga, dan berjuang mencari nafkah demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Alih-alih terwujud, mereka justru diasingkan karena pekerjaannya sebagai pemulung. Terlebih, dampaknya tidak hanya kepada orang dewasa, tapi juga merembet ke kesejahteraan anak yang tinggal di sana.

Menyusuri gang sempit Kampung Kalimati, Bantul

“Sekian lama, aku menunggu, untuk kedatanganmu….”

Petikan lagu berjudul “Menunggu” itu nyaring terdengar saat saya memasuki gang kecil di antara warung-warung makan di sekitaran Jalan Pantai Parangkusumo, Bantul, DIY.

Dari yang saya tangkap, suara itu bukan keluar dari Ridho Rhoma, sang penyanyi asli. Melainkan dari bapak-bapak yang sedang karaokean. 

Nyanyian bernada fals dari bapak-bapak itu, sudah jadi hal lumrah di sini, terutama ketika sore hari. Sebab, lokasi yang saya datangi memang terkenal dengan dunia malamnya. Ada banyak penginapan, warung makan, dan tempat karaoke di sana.

Gang kecil Kampung Kalimati, Pantai Parangkusumo. MOJOK.CO
Gang kecil menuju Kampung Kalimati, Bantul, Pantai Parangkusumo. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Suara sumbang tadi mengiringi perjalanan saya dan reporter Mojok, Aly Reza, menuju rumah Is (40), salah satu warga Kampung Kalimati, Bantul, Minggu (29/12/2024).

Saya baru saja mengenalnya siang tadi saat berbincang dengan anaknya, Mila (12), di suatu tempat belajar komunitas taman baca sekitar Pantai Parangkusumo, Bantul.

Saya izin kepada Mila untuk bersilaturahmi dengan ibunya. Ia pun menyanggupi. Maka, bergegaslah saya, Aly Reza, Mila, adiknya, dan dua temannya yang juga tinggal di Kampung Kalimati. Kami berjalan kaki sekitar pukul 17.00 WIB. 

Untuk sampai ke rumah Mila, kami terlebih dulu harus melewati jalanan becek. Maklum, jalan setapak di sana adalah tanah cokelat. Sementara kawasan Parangkusumo-Parangtritis memang diguyur hujan lebat seharian penuh.

Sekitar 50 meter dari mulut gang, kami sudah melihat tiga orang perempuan yang tengah duduk-duduk di balai bambu. Halaman rumah mereka berdinding kayu agak reyot, persis di bawah pohon kersen. Dari kejauhan, cengkerama mereka tampak gayeng sekali.

Dari Pati ke Parangkusumo, Bantul demi mengubah nasib

Tiga perempuan tadi bernama Kamtini (45), Is, dan Yanti (38). Anak-anak langsung menyalami mereka dan masuk ke dalam rumah, kecuali Mila. 

“Sini, Mbak, Mas. Duduk sini,” ujar Is, ibunya Mila, mempersilakan kami duduk sembari menatakan sebuah kursi plastik berwarna hijau. Sementara dirinya duduk di atas dingklik, karena itu saya merasa tidak sopan. Tapi Is meminta kami untuk biasa saja. 

Baru saja saya dan Aly Reza memulai obrolan, bunyi “kraaak,” terdengar. Balai bambu tempat Kamtini, Yanti, dan Mila cangkruk ambruk. Kami lalu sama-sama terkesiap. Namun, mereka justru tertawa. Dari insiden kecil itu, obrolan kami langsung mengalir akrab. 

“Ini mbakyu saya, namanya Kamtini. Kami dari Pati, Jawa Tengah. Kalau Yanti ini dari Jepara,” ujar Is mengenalkan diri kepada kami. Mereka sudah puluhan tahun tinggal di Kampung Kalimati, Bantul.

Is mengaku, ia sesekali menyempatkan pulang ke kampung halamannya di Pati. Berbeda dengan Kamtini yang sudah tidak pernah pulang sama sekali. Walaupun di Pati dia masih punya bapak dan adik-adik. 

“Ya karena sudah nyaman hidup di sini, Mbak,” ujar Kamtini. 

Baik Is, Kamtini, maupun Yanti, lupa kapan persisnya mereka menetap di Kampung Kalimati. Kamtini hanya mengingat, awalnya ia bertemu dengan sosok laki-laki yang kini menjadi suaminya tanpa sengaja di kawasan Pantura. 

Lalu setelah menikah, Kamtini diboyong ke Kampung Kalimati. Di kampung inilah kemudian ia hidup sampai sekarang, hingga memiliki seorang putri bernama Mila, anak kecil yang memandu saya ke tempat ini.

Dari beternak kambing menjadi juragan kos

Pada masa-masa awal tinggal di Kampung Kalimati, Bantul, Kamtini sempat beternak kambing. Ada sekitar 40 ekor yang dia pelihara. Kemudian, semuanya dia jual. Hasilnya untuk membuat kos ala kadarnya yang diperuntukkan bagi para pemulung di Kampung Kalimati–mengingat makin hari tempat itu makin padat. Banyak pendatang luar daerah yang turut menetap di sana. 

Kos-kosan kampung kalimati, Bantul
Suasana kos-kosan di Kampung Kalimati, Bantul. (Aly Reza/Mojok.co)

Kamtini kini memiliki sembilan kamar kos. Mayoritas terbuat dari bangunan kayu khas perkampungan nelayan di pesisir Pantura. Dindingnya terbuat dari tembok bercat putih yang sudah memudar. Atapnya asbes berlapis seng yang mulai berkarat, dan berlantai tanah.

“Kalau kos di saya, saya kasih Rp400 ribu per bulan. Yang ngekos ya macam-macam. Ada yang dari Semarang, Jogja-an sendiri juga ada, pendatang dari daerah lain juga ada,” terang Kamtini. 

Meskipun mayoritas penghuni Kampung Kalimati adalah pendatang, lambat-laun mereka saling kenal dan saling akrab satu sama lain. Begitulah akhirnya Kamtini mengajak Is, adiknya, untuk turut serta merantau, hingga akhirnya akrab dengan Yanti, pendatang asal Jepara yang kini jadi tetangganya.

Mekanisme bertahan hidup warga Kampung Kalimati, Bantul

Mendengar cerita Kamtini, saya jadi membayangkan, mengapa ia memilih menggunakan modal dari hasil menjual kambing untuk membangun kos-kosan dan memulung, bukan membuat bisnis lain? Misalnya, rumah makan. 

Kalau dihitung, harga untuk satu ekor kambing di tahun 2010 saja bisa mencapai Rp1 juta. Sementara jika ditotal, untuk 40 ekor kambing miliknya, Kamtini bisa mendapat uang segar Rp40 juta. 

Kamtini sendiri tidak menjelaskan alasannya memilih bikin kos-kosan murah bagi pemulung, alih-alih berbisnis lain. Namun, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) AB. Widyanta atau yang akrab dipanggil Abe menjelaskan, fenomena tersebut terjadi akibat adanya bias kelas.

Pilihan kerja kelas bawah terbatas

Baca halaman selanjutnya

Halaman 1 dari 2
12Next
Tags: BantulDIYKampung Kalimatikampung kumuhkekerasan anakYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO
Catatan

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO
Bidikan

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO
Jagat

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Muat Lebih Banyak
Pos Selanjutnya
Tuntaskan S3 UGM dengan IPK Sempurna, Meski Sempat Ditolak Beasiswa karena Usia. MOJOK.CO

Tuntaskan S3 UGM dengan IPK Sempurna, Meski Sempat Ditolak Beasiswa karena Usia

Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.