Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

ilustrasi - asap dan kabut tebal di Palangka Raya, Kalimantan Tengah tak padamkan semangat siswa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sri Muliati takjub saat melihat matahari berwarna merah pekat di Sekolah Dasar Negeri 5 Menteng, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada Kamis (20/8/2026) sore. Selama 16 tahun jadi guru di sana, Sri mengaku baru kali ini melihat pemandangan tersebut.

Sayangnya, keindahan matahari itu justru menjadi bukti buruknya kondisi Kalimantan saat ini. 

“Sepertinya itu dampak kabut asap dan debu dari kebakaran hutan yang luar biasa di bumi Kalimantan dalam beberapa hari terakhir,” kata Sri saat dihubungi Mojok, Jumat (21/8/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena itu dapat terjadi akibat penumpukan partikel aerosol dan debu halus dari kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Palangka Raya dan sekitarnya.

“Karena jika dilihat dari citra sebaran asap kemarin sore, terlihat wilayah Kalimantan Tengah sebagian besarnya sudah tertutup asap,” kata prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra dikutip dari detikNews, Rabu (26/8/2026).

Matahari merah di Kalimantan. MOJOK.CO
Potret matahari berwarna merah pekat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (dok.istimewa)

Fenomena karhutla tak hanya terjadi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkap total ada sekitar 1.511,55 hektar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur yang terbakar akibat ulah tak bertanggung jawab. 

Berdasarkan hasil pengawasan Kemenhut, ada enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan yang saat ini sudah dikenai sanksi administratif dengan tingkat berbeda. Melalui sanksi tersebut, perusahaan wajib memperbaiki sistem pengendalian kebakaran sekaligus memulihkan areal yang terdampak.

Kabut di Palangka Raya tak bisa teratasi dalam semalam

Namun, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Dampak akibat karhutla tidak bisa diatasi hanya dalam semalam. Bahkan efeknya masih terasa bagi warga Kota Palangka Raya maupun di berbagai wilayah Kalimantan.

“Sudah 1 bulan kondisi di sini berkabut dan akhir-akhir ini semakin parah. Kami merasa sesak napas dan pusing,” kata Sri Muliati.

Permasalahan asap dan kabut tebal sebenarnya adalah masalah serius yang terjadi tiap tahun. Kejadian itu tak hanya berakar dari faktor alam, melainkan ulah dari tangan-tangan jahat manusia yang sengaja membakar hutan.

Sering kali Sri melihat tim pemadam baik dari suatu institusi maupun swadaya mondar-mandir di jalanan sekitar rumahnya untuk mengatasi masalah tersebut. Pemandangan semacam itu pun membuat hatinya miris.

“Kami paham penanganan karhutla tak bisa langsung diselesaikan, karena sebagian wilayah kami tanahnya gambut, daerahnya luas, ditambah kemarau yang sudah hampir 2 bulan tanpa turun air hujan, jadi sumber air untuk memadamkan api juga sulit,” tutur Sri.

“Kasihan juga melihat tim pemadam kerja siang sampai malam untuk memadamkan api,” lanjutnya.

Sambut teman belajar di tengah kabut

Meski begitu, Sri berharap agar kebakaran hutan di Kalimantan tidak meluas dan segera bisa ditangani. Dia pun memohon agar pemerintah pusat memberikan bantuan seperti masker atau setidaknya membuat hujan buatan untuk warga Kalimantan. 

Dengan begitu, proses pembelajaran di sekolahnya pun dapat kembali seperti biasa.

“Pembelajaran di sekolah kami (SD dan SMP) masih berlangsung artinya anak-anak tidak diliburkan, sesuai dengan edaran penyesuaian pembelajaran dari Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya,” kata Sri.

“Namun, jam masuknya kami undur dari pukul 08.00 dan setiap jam pelajaran hanya 20 menit atau dikurangi 15 menit dari biasanya. Pukul 11.15 WIB kami sudah pulangkan, karena semakin siang, langitnya semakin pekat,” tuturnya.

Bahkan di tengah situasi tersebut, Sri tetap melaksanakan seleksi Sahabat Sekolah Dasar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mendorong penguatan karakter positif dan mutu lingkungan belajar di sekolah. 

“Ada 3.780 siswa di 80 sekolah yang tersebar di Indonesia dan sekolah kami salah satunya. Siswa yang terpilih salah satunya bertugas menyambut teman-temannya yang datang di gerbang sekolah,” kata Sri.

Menurut rapat koordinasi yang diikuti Sri dan seluruh kepala sekolah mulai dari SD hingga SMP di Kota Palangka Raya, kebijakan pembelajaran tatap muka di skeolah masih tetap diberlakukan selama seminggu, sembari melihat keadaan cuaca.

“Kalau memang makin tebal, maka nantinya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) segera diterapkan. Sejauh ini, baru Paud/TK yang sudah PJJ,” tegas Sri.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version