Stafsus Presiden Prabowo mengaitkan fenomena enam gunung yang meletus (erupsi) secara bersamaan belakangan ini dengan adanya “campur tangan asing”. Inilah bagian yang harus dipahami, kenapa peristiwa alam tersebut bisa terjadi.
***
Dalam sebuah potongan video, tampak Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, dengan mantap menyinggung bahwa ada andil “asing” di balik fenomena gunung meletus (erupsi) secara bersamaan yang terjadi belakangan ini.
Ulta mengaitkannya dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP), yakni teknologi yang kerap menjadi bahan spekulasi terkait kemampuan memengaruhi kondisi atmosfer dan cuaca.
Ia curiga, rangkaian peristiwa yang terjadi hampir bersamaan tersebut tidak sepenuhnya merupakan kebetulan. “Kalau saya mungkin sekitar 73,5 persen, saya merasa pasti ada yang mengorkestrasi semua ini,” ujarnya.
Ulta juga menyebut, setelah melakukan perjalanan ke kawasan ASEAN, Papua hingga Kalimantan, ia mendapat informasi yang memperkuat dugaannya perihal adanya unsur konflik geopolitik di balik rentetan peristiwa alam tersebut. Tak pelak jika ia kemudian menjadi sorotan publik.
Lihat postingan ini di Instagram
Gunung meletus (erupsi) bersamaan: pertemuan siklus aktivitas vulkanik
Seperti diketahui, ada enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi dalam waktu relatif bersamaan, antara lain Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM),Indranova Suhendro, mengamini bahwa fenomena tersebut tergolong tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir. Meski demikian, menurut Indranova, peristiwa tersebut tersebut tidak menunjukkan bahwa semuanya berada dalam satu sistem vulkanik yang sama.
“Setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya masing-masing. Kesamaan waktu erupsi lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda,” ujar Indranova dalam keterangan tertulisnya di UGM, Selasa (8/9/2026).
Ada gunung api yang memang memiliki frekuensi erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif. Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan. “Menurut saya ini lebih ke masalah timing”, tekannya.
Masing-masing gunung yang meletus (erupsi) nyaris tidak mungkin saling memengaruhi
Lebih lanjut Indranova menjelaskan, kesamaan jalur subduksi di Indonesia pun tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung antarsistem magma. Pasalnya, setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.
Kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung yang saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.
“Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelas Indranova.
Perbedaan sistem tersebut kemudian tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, Indranova menjelaskan adanya mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung, sehingga tekanan dapat meningkat dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik yang jelas.
Mekanisme semacam ini, lanjut Indranova, berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma dengan kandungan gas tinggi. “Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens,” beber Indranova.
Jika sebagian aktivitas tersebut berlangsung melalui proses internal masing-masing gunung, faktor dari luar sistem gunung api dapat berperan pada kondisi tertentu. Salah satu contoh yang disampaikan Indranova adalah peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik pada Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok setelah gempa di Flores, yang kemudian diikuti aktivitas erupsi.
Ia mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarut dalam magma, tetapi menegaskan bahwa mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api.
“Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pasca gempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores, mirip seperti pada kasus erupsi Gunung Raung tahun 2024 yang dibangunkan oleh gempa berkekuatan 6.5 M di sekitar Halmahera,” ungkap Indranova.
Masyarakat harus tahu….
Kondisi tersebut memang menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah memang sedang berlangsung. Hanya saja, Indranova menegaskan, masyarakat perlu melihatnya berdasarkan kondisi setiap gunung.
Dalam hal ini, tingkat status gunung api menjadi salah satu indikator penting untuk memahami tingkat kewaspadaan, termasuk memahami karakter erupsinya. Sebab, karakter erupsi menentukan jenis bahaya yang perlu diantisipasi.
“Pada Semeru, misalnya, awan panas dapat bergerak mengikuti lereng dengan suhu dan kecepatan tinggi. Sedangkan gunung seperti Sinabung, Ibu, dan Anak Krakatau dapat menghasilkan material jatuhan yang penyebarannya dipengaruhi angin,” papar Indranova.
“Perbedaan karakter tersebut membuat dampak erupsi tidak berhenti pada kawasan di sekitar kawah. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mencapai wilayah yang lebih jauh dan mengganggu kualitas udara serta kesehatan. Sementara gangguan terhadap penerbangan dapat merembet pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya,” lanjutnya.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun berdasarkan pemahaman mengenai jenis bahaya yang mungkin muncul di wilayahnya, bukan semata-mata berdasarkan informasi bahwa sebuah gunung sedang erupsi.
Untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan MAGMA Indonesia, yakni platform informasi yang menyediakan informasi aktivitas gunung api, termasuk status gunung dan peta kawasan rawan bencana.
Melalui informasi tersebut, Indranova berharap masyarakat dapat mengetahui perkembangan status gunung sekaligus melihat zonasi kawasan rawan bencana sebagai dasar untuk menentukan tindakan ketika aktivitas meningkat.
Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)
BACA JUGA: Krisis Iklim Makin Nyata, Kebijakan Pemangkasan Anggaran BNPB adalah Langkah Mundur Mitigasi Bencana Indonesia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan