Setelah Jogja mengalami kemarau panjang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bakal turun pada November 2026 minggu ketiga. Tepatnya, di Kabupaten Kulon Progo bagian utara dan Sleman bagian utara serta tengah.
***
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY sempat mengeluarkan status siaga darurat kekeringan yang berlaku sejak 20 Juli hingga akhir November 2026, akibat musim kemarau panjang.
Dalam Keputusan Gubernur Nomor 248 Tahun 2026 tersebut, status siaga darurat penting dilakukan mengingat seluruh wilayah DIY masih memasuki musim kemarau dengan curah hujan kategori bawah normal yang berpotensi mengalami El Nino.
El Nino atau fenomena turunnya curah hujan yang drastis dan musim kemarau ekstrem dapat menyebabkan sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih, gagal panen yang mengancam ketahanan pangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan kesehatan masyarakat.
Awal musim hujan di DIY bakal mundur tiga dasarian
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun menjelaskan mundurnya musim hujan di DIY merupakan dampak dari El Nino yang mengakibatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan.
Ia mencatat, setidaknya ada 81 dari 103 pos hujan di seluruh DIY yang mengalami HTH ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari.
“Tercatat daerah dengan HTH terpanjang di DIY terjadi di Pajangan, Kabupaten Bantul yakni 141 hari,” ujar Mamenun dalam Ekspose Informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 DIY pada Rabu (30/9/2026).
Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan awal musim hujan normal selama 30 tahun belakangan yakni dari tahun 1991 sampai 2020, BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di seluruh DIY bakal mundur tiga dasarian.
Puncak hujan di DIY pada Desember minggu pertama
Menurut BMKG, daerah DIY yang mengalami musim hujan 2026/2027 pada Desember minggu pertama adalah Kulon Progo bagian timur; Kota Yogyakarta; Sleman bagian timur, selatan dan barat; Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian utara.
Sedangkan, daerah yang baru akan mengalami awal musim hujan di Desember minggu kedua adalah Kulon Progo bagian barat dan selatan; Bantul bagian timur, barat, selatan; dan Gunungkidul bagian timur, barat, dan selatan.
“Untuk prediksi hujan bulanan pada Oktober 2026, curah hujan diperkirakan antara 0-50 mm per bulan, atau masuk kategori rendah. Untuk November curah hujan akan berkisar di 51-300 mm per bulan, terkategori rendah hingga menengah. Baru di bulan Desember curah hujan meningkat antara 151-500 mm per bulan, atau kategori menengah hingga tinggi,” jelasnya.
Musim hujan di DIY masih berlanjut sampai 2027
Menurut Mamenun, prediksi puncak musim hujan 2026/2027 masih berlanjut pada Februari di wilayah Kulon Progo bagian utara dan timur; Sleman; Kota Yogyakarta; Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian barat.
Sementara daerah yang akan mengalami puncak musim hujan pada Maret ialah Kulon Progo bagian barat dan selatan, Bantul bagian selatan, dan sebagian besar Gunungkidul.
Musim hujan pada April 2027 minggu pertama, juga masih akan terjadi di wilayah Sleman bagian barat, selatan, dan timur; Kota Yogyakarta; Bantul bagian utara, Kulon Progo bagian timur; dan Gunungkidul bagian utara.
“Prediksi durasi musim hujan 2026/2027, kisaran 16-18 dasarian akan dialami Kulon Progo bagian utara. Selanjutnya, 13-15 dasarian di wilayah Kulon Progo bagian barat, timur, dan selatan, Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul dan Gunungkidul,” jelas Mamenun.
Antisipasi usai kemarau panjang
Dari data prediksi tersebut, Stasiun Klimatologi DIY memberi saran ke berbagai sektor guna mengantisipasi musim hujan usai kemarau panjang.
Pertama, sektor pangan dapat menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam yang lebih pendek, serta melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Kedua, sektor sumber daya air dapat memanfaatkan air hujan, serta menambah kapasitas tampung pada skala rumah tangga.
“Identifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur juga perlu dilakukan. Selain itu, perlu juga mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan,” jelas Mamenun.
Ketiga, sektor energi perlu mengatur inflow dan elevasi waduk, serta pelepasan air secara proporsional untuk operasional PLTA,
Keempat, sektor lingkungan dapat menyiapkan mekanisme respons atas kondisi kualitas udara buruk yang berkepanjangan, akibat mundurnya awal musim hujan. Mereka juga perlu mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan untuk menurunkan kelembapan saat musim hujan.
Kelima, sektor kesehatan dapat memberantas sarang nyamuk dan jentik, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah, serta penyakit akibat genangan pascahujan atau banjir.
“Terakhir, sektor kebencanaan, tetap waspada dengan kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan, serta optimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal dan puncak musim hujan,” ujar Mamenun.
Sumber: Pemda DIY
BACA JUGA: Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
